Kira2 ada ikan apa yah disitu ?? kenapa gak sekalian dibikin wisata memancing ??
Taman Nasional Tanjung Puting
Jalansutra
Rimba Lodge
Sudah 15 tahun berlalu sejak terakhir saya berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Tahun lalu, teman kami – purnawirawan kolonel angkatan darat Belanda dan istrinya – membuat kami berjanji untuk bersama-sama berlibur ke Kalimantan.
Perjalanan itu kami lakukan minggu silam. Mereka terbukti merupakan teman perjalanan yang menyenangkan. Di Pontianak, Leen dan Anneke dengan gembira makan di pinggir jalan mencicipi berbagai jajanan dan makanan khas Kun Thien. Favorit Leen adalah juhi atau cumi bakar, pakis tumis belacan, dan jiau jie alias rujak kangkung dengan cumi rebus disiram saus manis (di Pancoran, Jakarta, dijajakan dengan sebutan rujak shanghai). Kesukaan Anneke adalah ikan jelawat kukus dan kepiting asap. Mungkin karena sudah bosan roti dan keju, sarapan paginya di Hotel Santika adalah ubi rebus, sawut (parutan singkong direbus dengan gula merah, ditaburi parutan kelapa), dan wingko (kue dari ketan dan kelapa).
Di Singkawang, mereka berdua terpesona melihat pembuatan tempayan keramik secara tradisional. Mereka tidak menyangka kerajinan tangan seperti itu dapat dilakukan dalam skala industri. Tentu saja, mereka juga terpesona oleh dadar tiram khas Singkawang, udang galah bakar, dan tumis kim chim yang lembut. Dari Pontianak kami terbang ke Pangkalan Bun, disambung perjalanan darat 20 menit ke Kumai, dan naik klotok (perahu motor) selama dua jam menyusuri Sungai Sekonyer menuju Rimba Lodge di dalam Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Sungai Sekonyer merupakan pecahan dari Sungai Kumai yang bermuara di laut. Konon, dulu sebuah schooner Belanda ditembak dan tenggelam di percabangan Sungai Kumai itu. Sejak itulah anak sungai itu disebut Sei Konyer atau Sungai Sekonyer. Airnya berwarna coklat seperti cola. Di habitat ini hidup dugong (duyung) dan dua jenis buaya, yaitu buaya air laut dan buaya air tawar. “Buaya darat” yang naik klotok tidak dianggap sebagai spesies satwa, tentu saja.
Tempat kami menginap adalah Rimba Lodge – nama lengkapnya adalah Rimba Orangutan Ecolodge – terletak di tepi sungai, di tengah hutan TNTP. Memang tidak murah menginap di sini. Tetapi, pelayanannya sangat bagus. Pesanan tempat saya lakukan lewat Internet, dan mereka mengatur semuanya – mulai dari penjemputan di bandara, termasuk semua paket tur yang kami pilih. Tempat penginapannya adalah beberapa bungalow bangunan kayu dengan arsitektur yang menyatu dengan alam. Juga ada sebuah anjungan untuk melihat burung di pagi hari. Bila mujur, kita juga bisa jumpa buaya dalam perjalanan menuju bird-watching platform Ini.
Di setiap kamar tersedia penyejuk ruangan, telepon, air panas, dan tingkat kebersihan yang memadai. Tempat tidurnya memakai kelambu. Ah, sungguh romantis. Sore hari, kami pergi naik klotok melihat monyet di tepian sungai dekat Rimba Lodge. Kami sengaja berlayar pelan agar tidak mengganggu monyet yang sedang menyiapkan tempat untuk beristirahat malam. Di kedua tepi sungai itu kami melihat dua jenis monyet, yaitu beruk (long-tailed macaque) dan bekantan atau monyet belanda (Proboscis monkey).
Di sebuah tikungan sungai, kami menghentikan klotok. Di salah satu sisi sungai, sekitar 30 ekor bekantan sedang bersiap tidur. Tetapi, alih-alih tidur, begitu melihat kami, mereka pun langsung “tebar pesona” dengan menunjukkan keahlian bergelayutan dari pohon satu ke pohon lain. Kami nikmati akrobat bekantan yang lucu dan mengagumkan itu. Bekantan disebut monyet belanda karena hidungnya besar dan merah, warna bulunya agak pirang, dan perutnya buncit seperti kebanyakan minum bir. Bekantan jantan mempunyai kemampuan seks yang luar biasa. Tidak ada bukti bahwa bekantan makan pasak bumi. Tetapi, nyatanya seekor bekantan mampu menggilir lima sampai tujuh betina secara berturut-turut.
Esok harinya kami berkunjung ke Camp Tanggui dan Camp Leakey. Kedua tempat itu merupakan wanariset dan tempat rehabilitasi orangutan. Di Camp Tanggui, setiap pagi orangutan datang ke stasiun pakan (feeding station) sekitar pukul sembilan untuk “mengambil jatah” pisang dan susu mereka. Orangutan yang bermukim di camp sudah jinak dan terbiasa dengan manusia. Mereka bahkan diberi nama untuk memudahkan identifikasi. Tetapi, penamaan di sini tidak harus mengikuti jenis kelamin. Misalnya, Ahmad adalah orangutan perempuan. Sedangkan Leo (nama lengkapnya adalah Leonardo di Capri) adalah bayi perempuan.
Masing-masing orangutan mempunyai karakter khas. Bila mengamati perangai mereka, kita seperti membuktikan bahwa secara genetik orangutan mempunyai 97% kesamaan dengan manusia. Bayi orangutan bahkan menangis seperti bayi manusia. Setengah jam lebih kami menunggu, tak satu orangutan pun muncul. Memang, di hutan sedang banyak makanan, sehingga para orangutan sudah kenyang. Pohon ketiau (haha, tentulah bukan kuetiauw) sedang lebat berbuah, dan orangutan sangat menyukai jenis buah ini. Juga ada pohon bintaro (plampan) yang daging buahnya disukai mereka.
Setelah hampir putus asa menanti, tiba-tiba terdengar derak-derak ranting patah. Yang pertama muncul di feeding station Camp Tanggui ternyata adalah Doyok, orangutan jantan yang cukup besar. Ia makan dengan rakusnya. Lebih dari empat sisir pisang dihabiskannya. Tampaknya Doyok tidak suka susu. Cuma diendus, lalu ditinggalkan. Setelah Doyok pergi, dari jauh kami mendengar suara gemeretak ranting pohon yang menandai kedatangan orangutan lain. Yang satu ini bernama Linda, bersama bayinya Leo yang menggelayut manja pada ibunya. Linda adalah orangutan yang sungguh narsis. Dia tidak langsung masuk, tetapi melakukan grand entry berputar, bergelayut dari pohon satu kepohon yang lain dengan persisi yang mengagumkan, sebelum “mendarat” mulus di panggung feeding station.
Ketika Linda makan pisang dan minum susu, seekor babi hutan muncul dari hutan, menunggu kulit pisang yang dilempar ke bawah oleh orangutan. Orangutan makan pisang seperti manusia – mengupas kulitnya, lalu hanya makan daging buahnya. Selain babi rusa, di camp ini juga banyak dijumpai owa-owa (black-handed gibbons). Pagi hari, “nyanyian” owa-owa terdengar merdu bergaung di hutan. Di Camp Leakey yang dibangun tahun 1971 oleh Dr. Birute Galdikas dapat dijumpai lebih banyak orangutan. Tampak sekali bahwa kebanyakan orangutan yang berada di camp ini sudah kenal manusia serta memahami dan malahan meniru tingkahlaku manusia (domesticated). Tetapi, jangan mengira bahwa hal itu membuat mereka seratus persen jinak.
Siswi, misalnya, adalah seekor orangutan betina yang “ditakuti” para pemandu karena dia memang nakal. Siswi tak segan menarik orang dan tanpa sengaja menyakiti. Orangutan mempunyai kekuatan rata-rata lima kali kekuatan manusia. Tangannya yang lebih panjang dari kaki pun membuat tarikan tangan orangutan serasa sentakan keras bagi manusia. Maklum, orangutan lebih mengandalkan kekuatan tangan untuk bergelayutan di pohon-pohon. Kaki lebih banyak dipakai untuk memegang atau menyeimbangkan.
Banyak lagi orangutan yang “tampil” di Camp Leakey. Ada Chris yang suka unjuk gigi agar dipotret. Ada Unyuk yang berperangai kasar dengan anaknya yang manja bernama Ursula. Ada Ahmad yang sudah tua, tetapi masih punya bayi kecil bernama Atlas. Ahmad “seangkatan” dengan Tutut – ibu Tata, nenek Toronto. Tutut juga punya anak jantan bernama Tom yang dikategorikan sebagai jantan dominan nomor dua setelah Kosasih di seluruh Camp Leakey. Perangai buruk Tom adalah suka mengejar betina hamil dan menggauli mereka.
Favorit kami adalah Rimba, jantan berusia enam tahun yang ganteng, bertubuh bagus, pemberani, dan tampak cerdas. Siapa tahu di kemudian hari Rimba akan jadi “raja” di Camp Leakey?
BONDAN WINARNO
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya. (E-mail:
bondanw@gmail.com)
© 2006 Kompas Cyber Media