FishyForum

Go Back   FishyForum > FishySalt > FishyRonment

Notices

FishyRonment Diskusi tentang lingkungan dan konservasi Sumber Daya Alam.


Closed Thread
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 19-09-2007, 14:41
aoktal's Avatar
arief oktalianto
Location: Bekasi
RegularFishy
 
Join Date: Jul 2006
Posts: 62
Points: 1,665, Level: 16 Points: 1,665, Level: 16 Points: 1,665, Level: 16
Activity: 0% Activity: 0% Activity: 0%
Post teknologi LIPI membuat pelacak ikan

LIPI membuat pelacak ikan akustik yang jauh lebih murah, tapi tak kalah akurat dibanding satelit. Laut selalu membisikkan rahasianya kepada Tasman. Salah satu bisikannya adalah tempat para ikan berkumpul. Maka, dengan tangan kosong, Tasman bisa membawa pulang banyak ikan.

Kabar gembira, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi berhasil menjiplak telinga nelayan di pesisir Tegal itu. Pusat riset di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu membuat peranti penguping berbasis gelombang akustik untuk membuntuti dan memetakan pergerakan ikan.

Penggagasnya adalah Dadan Muliawandana, 38 tahun. Ia yakin teknologi sangat bernilai untuk membantu nelayan. Terutama karena orang dengan kemampuan seperti Tasman kini nyaris punah.

Dulu, Tasman menangkap ikan di sepanjang perairan pantai utara Jawa, Selat Makassar, hingga Laut Cina Selatan, cuma berbekal insting. Hasilnya kerap melecehkan peralatan canggih seperti penentu posisi geografis berbasis satelit (GPS), fish finder alias penemu ikan berteknologi sonar, dan aneka peralatan lainnya. Faktanya, dia dua kali berturut-turut menyabet gelar nelayan paling produktif di pelabuhan ikan Tegal, yakni pada 1989-1990.

Tak cuma itu nilai penting teknologi ini. Di laut, siapa tak tahu bahwa nelayan Indonesia mesti berebut ikan dengan nelayan Malaysia, Thailand, hingga Taiwan. Padahal, para nelayan dari negeri jiran itu dibekali kapal berkapasitas besar dan teknologi lebih maju.

Belum lagi kondisi beberapa perairan yang ikannya sudah kelewat tereksploitasi, sehingga area perburuan ikan mesti diperluas. Walhasil, seperti diakui Tasman, nelayan perlu teknologi untuk mengetahui bagaimana pola rombongan ikan itu bermigrasi, agar pulang membawa hasil melimpah. "Sekarang tidak ada nelayan yang mau melaut kalau (penentu posisi) GPS-nya nggak jalan. Sekalipun sudah berlayar satu atau dua jam, kalau GPS-nya rusak mereka pasti kembali ke pelabuhan," ujar nelayan yang kini sudah menjadi juragan kapal itu. Padahal, GPS tidak murah.

Teknologi penguping LIPI jauh lebih murah dibanding teknologi berbasis GPS dan teknologi pelacak ikan lainnya. Salah satu alasannya, "karena tidak perlu memesan slot kanal frekuensi satelit," ujar Dadan, yang menjadi ketua tim teknologi alat ini. Pemetaan migrasi ikan dengan gelombang akustik pun memungkinkan diperoleh data lokasi setiap saat.

Ketika dijajal di Waduk Saguling, Pantai Pangandaran, dan perairan Pantai Cirebon, penguping akustik LIPI menunjukkan hasil memuaskan. Akurasinya tidak kalah dengan teknologi satelit, dengan tingkat kesalahan pembacaan alat paling besar hanya 10 meter.

Toh, Dadan masih belum puas. Dia berharap tingkat kesalahan ini dapat ditekan hingga kurang dari 1 meter. "Tapi itu sulit sekali dan sepertinya tidak mungkin," ujarnya.

Inti dari "telinga" LIPI adalah sebuah chip pemancar gelombang akustik yang ditanam di ikan yang hendak dipetakan. Chip itu berukuran satu ruas jari bayi, seberat 0,2 gram. Gelombang suara yang dipancarkan chip akan ditangkap oleh tiga hidrofon yang dipasang di pelampung. Hasilnya bakal muncul dalam bentuk lokasi ikan tiga dimensi.

Data mentah ini dipancarkan ke pusat pengolahan data, dan didapatlah peta lokasi ikan itu. Dari data-data yang terkumpul, dapat diketahui bagaimana pola pergerakan ikan jenis tersebut.

Sayangnya, alat ini tak dapat dipakai untuk semua jenis ikan komersial. Rentang jangkauan gelombang akustik tidak jauh. Chip pemancar gelombang akustik paling jauh bisa melontarkan suara hingga jarak 1 kilometer, sedangkan daya tangkap hidrofon berkisar 2 kilometer. Jelas, teknologi ini tidak mungkin digunakan untuk memetakan pola pergerakan ikan komersial dengan kemampuan jelajah tinggi, seperti tuna.

Apa boleh buat. Untuk membuntuti ikan lintas perairan seperti tuna dan hiu, solusinya adalah teknologi satelit. Inilah teknologi yang dapat dipakai memetakan migrasi ikan hampir tanpa batas, namun mahalnya tak kepalang.

Tim peneliti Universitas Stanford, Amerika Serikat, telah menggunakan teknologi satelit itu untuk memetakan pola migrasi hiu. Mereka memasang dua jenis chip pada hiu. Pertama, chip Smart Position-Only Tag (SPOT) yang ditanam pada punggung, untuk menentukan posisi hiu sepanjang waktu. Saat hiu muncul di permukaan air, chip akan mengirimkan gelombang mikro ke satelit.

Peneliti tinggal mengunduh data yang ditangkap satelit dan memantaunya dari hari ke hari. "Saya biasanya mengecek posisi hiu di pagi hari sambil minum kopi di teras rumah," ujar Barbara Block, kepala tim penelitinya.

Chip kedua, Pop-Up Satellite Archival Tag (PAT), berfungsi mengumpulkan data tekanan dan temperatur air yang dilintasi hiu. Chip kedua ini biasanya diprogram pada jangka waktu tertentu akan melepaskan diri dari badan hiu. Dari data yang dikumpulkan kedua chip ini, dapat diketahui bagaimana hiu bermigrasi.

Lewat satelit, tim Universitas Stanford berhasil membuntuti hiu selama 640 hari dan menempuh lintasan sepanjang sekitar 18.215 kilometer-hampir setengah keliling bumi. Salah satu kesimpulan yang diperoleh adalah saat bergerak ke selatan bagian bumi pada musim panas, ikan hiu menyelam di laut dalam untuk menghindari panas di permukaan air.

Agaknya, pada akhirnya teknologi LIPI dan teknologi satelit perlu bahu-membahu dalam menyediakan peta ikan karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tujuannya cuma satu: agar nelayan dapat memantau di mana, misalnya, ikan kerapu berkumpul saat musim panas. "Jadi, tidak lagi hanya bermodal naluri saat meninggalkan pelabuhan menuju laut lepas," kata Dadan.

Agar seluruh nelayan dapat memanfaatkan data pola migrasi ikan, Dadan berpikir data tersebut perlu dimasukkan ke Internet. Dengan peta pergerakan ikan di komputer dan penguping setia mengintai keadaan di bawah laut, sepertinya nelayan tinggal menunggu ikan-ikan itu lewat.

ada tanggapan ?????
__________________
salam
Arief - Bekasi

Pengen Bisa Mancing
  #2 (permalink)  
Old 19-09-2007, 15:21
roel's Avatar
rully
Location: Bogor
RegularFishy
 
Join Date: Jan 2007
Posts: 740
Points: 7,060, Level: 36 Points: 7,060, Level: 36 Points: 7,060, Level: 36
Activity: 35% Activity: 35% Activity: 35%
Default

Inti dari "telinga" LIPI adalah sebuah chip pemancar gelombang akustik yang ditanam di ikan yang hendak dipetakan. Chip itu berukuran satu ruas jari bayi, seberat 0,2 gram.

nah kalo ikan yg di implant chip itu ke tangkep, trus pas di monitor lah...lah..kok ada di koordinat dapur lagi di goreng..kekekekekeke.

but.... good information anyway....
__________________
  #3 (permalink)  
Old 19-09-2007, 15:32
fisherman's Avatar
Dimas Akbar
Location: Cileungsi ( Pinggiran Cibubur )
Saturday Fisherman
 
Join Date: Sep 2006
Posts: 172
Points: 4,932, Level: 29 Points: 4,932, Level: 29 Points: 4,932, Level: 29
Activity: 0% Activity: 0% Activity: 0%
Talking

Quote:
Originally Posted by roel View Post
Inti dari "telinga" LIPI adalah sebuah chip pemancar gelombang akustik yang ditanam di ikan yang hendak dipetakan. Chip itu berukuran satu ruas jari bayi, seberat 0,2 gram.

nah kalo ikan yg di implant chip itu ke tangkep, trus pas di monitor lah...lah..kok ada di koordinat dapur lagi di goreng..kekekekekeke.

but.... good information anyway....
wekkekk...100x...kaco nih tanggapannya..mending masih didapur , klo udah diperut gimane ... tapi bagus lah uadah ada usaha dari peneliti lokal kita daripada ndulll sama sekali..biar nelayan kita makmur.
__________________
========

http://www.youtube.com/watch?v=Dp-Y4...eature=related
Mikul Dhuwur Mendem Jero
  #4 (permalink)  
Old 19-09-2007, 18:19
boahaya's Avatar
Aldo
Location: jakarta
RegularFishy
 
Join Date: Aug 2007
Posts: 389
Points: 3,770, Level: 25 Points: 3,770, Level: 25 Points: 3,770, Level: 25
Activity: 18% Activity: 18% Activity: 18%
Default

saya masih bingung ...
sebenarnya gimana sih cara kerja fish finder??
trus GPS yang digunakan nelayan sama kan dengan yg digunakan untuk navigasi di mobil, ato yg biasa dipakai didarat?
setahu saya GPS menangkap signal yang di kirim oleh satelit2 GPS yang jumlahnya ada sekitar 27 satelit. GPS ini sifatnya pasif.
kemudian alogaritma dari signal2 yang didapat itu, diolah oleh processor pada device tersebut. kemudian baru ditentukan posisi koordinatnya. untuk dapat menentukan posisi, dibutuhkan signal minimal dari 3 satelit.
signal satelit ini setahu saya gratis dan bisa digunakan oleh militer dan sipil. trus sewa kanal satelit maksudnya untuk apa yah?
dulu saya sempat ngomong2 dgn orang garmin dan tele-atlas ketika launching aplikasi GPS untuk blackberry.
kl untuk GPS blackberry memang koordinat yg sudah didapat digunakan sebagai patokan untuk download map dari server garmin di taiwan. apakah GPS yg dipakai nelayan juga harus download map dari garmin sehingga butuh slot tersendiri koneksi ke satelit??
__________________
" It it not how deep you fish the worm, but it is how you wiggle the worm that count"
  #5 (permalink)  
Old 20-09-2007, 08:34
fishy's Avatar
adrianus
Location: Bogor
FairweatherFisherman
 
Join Date: Oct 2004
Posts: 3,890
Points: 27,281, Level: 72 Points: 27,281, Level: 72 Points: 27,281, Level: 72
Activity: 100% Activity: 100% Activity: 100%
Default

Betul pak, GPS itu sifatnya pasif.

GPS juga tidak bisa menentukan lokasi ikan ada dimana, perlu kombinasi GPS dengan depth sounder/echo souncer/fish finder untuk melakukan hal itu.

Benda yang dicipyakan ini kayaknya cuma fish tag yang memancarkan sinyal frekuensi rendah agar ditangkap receiver yang ada di permukaan. Secara teknis tidak ada hal yang baru. Alat ini juga tidak bisa menentukan lokasi yang baik untuk mancing, tapi hanya menunjukkan lokasi ikan yang dipasangi tag itu saja kalau dia berad diantara ketiga receiver.

Jujur saya tidak melihat manfaat langsung untuk nelayan.
__________________
adrianus

What does not kill me, makes me stronger - Friedrich Nietzsche (1844-1900)
  #6 (permalink)  
Old 20-09-2007, 14:31
Bara_fisher's Avatar
Sudarmanto
Location: Batam
PremiumFishy
 
Join Date: Sep 2007
Posts: 167
Points: 2,247, Level: 19 Points: 2,247, Level: 19 Points: 2,247, Level: 19
Activity: 0% Activity: 0% Activity: 0%
Send a message via Yahoo to Bara_fisher
Default

sebenarnya yang kita perlukan untuk nelayan apa sih? konsep moda angkut (termasuk infrastruktur & kelengkapan kapal) atau membenahi konsep perairan kelautan kita?

... kadang2 kita perlu dua2nya, tapi memang sih kudu ada skala prioritas membenahi kondisi ikan dan perairan indonesia.

banyak yang mencuri tapi kadang2 kita tidak peduli dg kondisi ini. Sayang deh... mestinya ada yang jadi pemicu seperti greenpeace-nya Inggris itu ya?
Closed Thread

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
IKAN HAMPALA, Liar dan Bertenaga hampala FishyWild 37 15-01-2008 07:30
Kekayaan Ikan Lokal dalam Proses Kepunahan yellowfin FishyRonment 2 11-04-2007 19:57
Spesies Ikan Endemis Makin Langka yellowfin FishyRonment 6 11-04-2007 08:34
UU Perikanan Halaman 2... yellowfin FishyRonment 0 19-10-2004 14:04
UU Perikanan Indonesia - Terbaru 2004 (hal.1) yellowfin FishyRonment 0 19-10-2004 13:25


All times are GMT +7. The time now is 03:12.


Powered by vBulletin® Version 3.7.2
Copyright ©2000 - 2008, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Friendly URLs by vBSEO 3.1.0
copyright 2003-2008 FishyForum.com