Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
Bini ngidam
Urusan mendapatkan SIM (Surat Izin Memancing) dari sang istri memang jadi persoalan sendiri diantara mania mancing. Apalagi kalo istri lagi hamil. Dengan berbagai alasan SIM sangat sulit keluar. Dari harus menemani dirumah, suami siaga, mengantar ke dokter, sampai mitos kalo mancing bibir anak bisa sumbing.
Kejadian satu ini justru berbeda. Anton mendadak dapat SIM setelah lebih dari 6 bulan permohonan SIM tidak kunjung terkabul. Lebih istimewa lagi ketika ia mendapatkan SIM justru ketika istrinya sedang hamil menjelang 7 bulan. Namun petualangan memancingnya kini terlihat sedikit kocak karena harus dibebani mendapatkan target ikan yang diingini sang istri.
Waktu itu, Selasa, 31 Juli 2007 pkl. 9.40 malam. Baru saja sy duduk nonton Tukul di TV ketika tiba2 HP sy berdering…
“Ry… besok ngapain lo? Sibuk kagak? Tolongin gw dong…” Ada suara Anton di ujung telepon sana.
“Biasalah Ton… besok kerja. Minta tolong apaan?” penuh penasaran saya bertanya.
“ Lo udah jadi Bos masih ke kantor aja… tolongin gue donk, temenin mancing!” kata Anton memelas.
“Gila lo ya? Emang kagak kerja? Lagian bini lo lagi hamil, mana bisa dapet SIM ?" sahutku.
"Justru itu... Bini gue lagi ngidam kerapu hasil tangkepan gue nih… Kalo ngga dipenuhi dia ngambek, lagian ntar anak gue ngiler mulu… Udah deh, jam 3 pagi gw jemput, kita ke Sangyang.’’ Anton memaksa.
"Gw lagi ga punya duit Ton…” kata saya sekenanya.
"Ah, lo jangan belagak susah... tinggal nyemplak bawa badan ama alat2 doank… semua gue yg traktir!” Anton memaksa.
"Hari sabtu aja lah..." saya masih berusaha mengelak.
"Duh, mumpung gue dapet SIM nih... Hari sabtu ntar bini gue udah gak ngidam lagi... Mana bisa mancing gue ?? Ayolah, temenin gue. » Anton terus memaksa.
Akhirnya saya nyerah juga. "Dasar lo... tumben2an sayang ama bini. Kebeneran aja ngidamnya kerapu… Gw ngurus SIM dulu ya... ntar gue sms."
Tujuan : Pulau Sangyang, Selat Sunda ; Angin dan ombak besar
Singkat kata, setelah merayu ‘sang permaisuri’, akhirnya kita pun jadi berangkat. Subuh Jam 3.10 Anton dan Opik udah sampe di rumah saya. Segera barang2 naik, dan pkl. 3.20 langsung tancap gas ke Anyer.
Jam 4.50 sampailah kami di dermaga pelabuhan Anyer. Pak Ade, pemilik perahu, sudah menunggu. Setelah barang2 naik, kita sarapan nasi uduk dan minum kopi di warung pinggir jalan. Jam 5.30 pagi perahu 2,5x14mtr itu mulai bergerak menuju lokasi mancing.
Di dalam perahu sekarang ada 5 orang. Saya, Anton, Opik, serta 2 awak perahu, iim dan endang. Angin dan Ombak alun cukup besar. Mungkin lebih dari 1 meter. Dengan perasaan khawatir saya bertanya pada iim yang sedang memegang kemudi. “Ombak gede banget im? Apa memang lagi musim ombak ya?”
“Sudah seminggu terakhir, kalau pagi emang begini pak. Nanti sekitar jam 10 ombak dan angin mulai reda. » sahut iim.
Segera saya gunakan jaket pelampung. Khawatir mabok, saya bergegas tidur, didalam kabin.
Sekitar dua jam kemudian saya merasakan laju perahu mulai melambat. « Udah mau sampai nih ...» Segera saya keluar dan melihat iim sedang celingak-celinguk mencari tanda2 spot memancing sambil memperhatikan layar monitor fish finder portable yang saya bawa. Saya ikutan celingak celinguk berusaha mengenali di daerah mana saya berada. Sekitar 5-6 mil di sebelah utara, terlihat samar2 dalam kabut, Pulau Sangyang yang terlihat angker menghitam.
Perahu pak Ade tidak dilengkapi dengan GPS. Ombak alun serta angin yang masih besar dan cuaca yang berkabut menyulitkan iim mencari posisi spot yang dituju.
Setelah berputar2 hampir 15 menit akhirnya terlihat di layar monitor fish finder. Tonjolan karang besar yang menjulang setinggi 4 meter dikedalaman air 52 meter. Terlihat kumpulan ikan2 diatasnya. Segera saya marking di GPS handheld agar posisi tsb mudah ditemukan kembali. Anton sudah bersiap memasang umpan cumi. Opik terlihat masih tidur. Segera sayapun bergegas menyiapkan alat pancing.
Spot ke 1 : S06’01.XXX’- E105’46.XXX’ ; Mabok laut
Kurang lebih 10 menit kemudian, jangkar turun dan posisi kapal tepat di depan arus. Saya masih sibuk menset alat pancing ketika terdengar teriakan Anton yg ternyata sudah strike duluan. Sambil bersusah payah dalam ombak yg cukup besar, berlutut sambil berpegangan pada tiang perahu, umpan cumi yang digunakan Anton akhirnya berhasil mengelabui seekor kuwe lilin seberat 1,5kg. Kurang dari 1 menit, giliran iim dari dek depan berteriak. Jeblugnya berhasil menaikan ikan dgn jenis dan ukuran yang sama.
Ngga mau ketinggalan, saya bergegas dari dek belakang menurunkan pancing dgn umpan seekor cumi utuh. Saya lihat Opik masih tertidur, telentang dgn muka ditutup topi.
“Pik!!! Bangun!!! Ikan udah makanin nih…” setengah berteriak saya membangunkan Opik. Baru saja selesai bicara, joran Daiwa yang saya pegang melengkung. Kenur mono 20lbs yang digulung dalam reel Shimano Trinidad 20 terasa menegang. Dgn sedikit hentakan, saya bergumam, “Kena…” Tidak sampai 5 menit, kuwe lilin seberat 3kg berhasil menggelepar di dek belakang. Opik terbangun dan sempat membuka matanya. Tapi 3 detik kemudian, dia tidur lagi membalikan badan. Kembali umpan dipasang dan saya menurunkan pancing. Meskipun ombak cukup besar, tapi arus sangat bersahabat. Timah 3J masih mampu menyentuh dasar laut dgn sudut 45 derajat.
Kami berempat bergantian menaikan ikan kuwe dari beragam jenis. 1 jam kemudian tiba2 terlihat ‘chuming’ nasi dan cairan berwarna coklat tua yang melayang dibawah joran saya. Ketika saya menegok kebelakang, terlihat Opik lagi ‘nungging’ sambil mengeluarkan nasi uduk dan kopi yang dimakannya tadi pagi.
Anton tertawa… “Ha ha ha… mabok lu ya?”
“Sialan !!... gue kagak mabok, Cuma mual...” kata Opik sewot. Kembali Anton ketawa ngakak.
Ombak dan angin memang sudah mulai reda. Tapi alunannya masih tetap terasa di perut. Kalau saja sejak awal Endang tidak membantu saya memasang umpan, melepas ikan, dan membetulkan kenur yg kusut, sudah tentu saya juga ‘jackpot’ seperti Opik.
Tepat pukul 9.25 WIB. Handphone saya berdering. Ada 3 sms sekaligus yang masuk. Setelah menyerahkan joran pada Endang, mulailah saya melakukan apa yg seharusnya tidak saya kerjakan ketika mancing dalam ombak yg cukup besar, yaitu : Berbalas sms.
Gejala itu akhirnya datang juga. Tidak sampai 10 menit setelah sms terakhir yg saya kirim, mulut terasa dingin, asem. Dengkul lemas dan gemetar... “Sialan, ngga salah nih… Mabok juga gue.” Saya bergumam dalam hati.
Gara2 berbalas sms, menatap huruf2 kecil dalam layar handphone, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat di atas atap kabin. Sambil duduk bersandar, memandang langit nan jauh, dan berusaha menghirup udara segar. Terdengar Anton berteriak sambil memegang ikan kuwe yang baru saja dipancingnya. « Ry !!! Ayo dong... Belom dapet kerapu nih !! Kuwe melulu... » « Bentar ah ! Istirahat dulu nih, pegel tangan gue…” kata saya berusaha mencari alasan… Sialan, gara2 sms gue jadi mabok begini. Mana ikan lagi makanin…
Tidak berapa lama kemudian, arus mulai membesar. Pemberat 1/2kg lebih yang digunakan iim pada pancing jeblugnya tidak mampu menyentuh dasar laut. Melayang jauh seperti main layangan. Anton pun terlihat duduk bersender memandang langit tanpa suara. Entah ikutan mabok, atau memang tidak bisa mancing karena arus yang besar. “Pindah pak!!” Iim berteriak. “Arusnya terlalu deras nih… Kita merapat saja ke pulau Sangyang.”
« Iya im... » sahut Anton. « Kita nyari kerapu aja deh. Buat bini gue yang lagi ngidam nih. »
Saya tidak berkomentar. Ketika jangkar diangkat, dan perahu mulai bergerak pindah, saya gunakan kesempatan ini untuk istirahat. Tidur sejenak berusaha menghilangkan mabok laut.
Spot ke 2 : 200 mtr dari tebing pulau Sangyang ; Mencari kerapu
Pukul 11.20 WIB. Setelah 40 menit tertidur, saya terbangun ketika mesin perahu dimatikan dan terdengar suara jangkar yang diturunkan. Segera saya meminum wedang jahe dari dalam termos yang saya bawa dari rumah. Opik yang terlihat sudah lebih segar saya tawarkan juga. Setelah meneguk wedang jahe, Opik membangunkan Anton yang ternyata juga tertidur. “Hoi!! Bangun Ton!! Mabok juga lu ya!? Wakakak… sukurin lu.” Kata Opik puas. Anton terbangun. Dengan muka yang terlihat sedikit pucat, dia tidak membalas ledekan Opik. Dia Cuma berkata “Bagi dong wedang jahenya…”
Spot ke dua, kedalaman air 25 meter. Terletak hanya 200 meter dari tebing pulau Sangyang yang menjulang tinggi. Menurut iim, lokasi ini hanya dihuni oleh ikan2 karang macam kerapu, lencam, kunir, kuwe cepa dan kurisi. Meskipun demikian, iim mengaku pernah dapat tenggiri hampir sepanjang 2mtr dari tempat tsb. Kamipun setuju saja dengan lokasi yang terlindung, ombak bersahabat, Arusnya bagus, Pemandangannya indah, Angin sepoi2, Cocok untuk lokasi beristirahat menunggu makan siang setelah diguncang ombak sejak pagi.
Strike pertama dilakukan oleh Opik. Lencam seberat ½kg berhasil dinaikan. Berikutnya giliran saya dan endang yang berhasil mendapatkan Lencam. Selang 10 menit, Anton dan Opik kembali mendapatkan ikan dengan jenis yang sama. Kali ini lebih besar, sekitar 1,5kg.
Satu jam berlalu. Sudah banyak ikan yang dinaikan. Sebagian besar adalah Lencam, kurisi, dan kuniran. Sadar melihat jenis ikan yang berhasil dinaikan, Anton mulai khawatir. “Mana Kerapunya nih? Tempat kaya gini koq ga ada kerapu ya? Bisa pulang diomelin bini nih…”
Dengan inisiatif sendiri, Endang mengulur tali jangkar sekitar 30 meter. Perahu hanyut mendekati tebing karang Pulau Sangyang. “Ini sudah lebih dekat tubiran karang pak.” Sahut Endang. “Mudah2an disini lebih banyak kerapu.” Iim menambahkan. Setelah 5 menit, sambaran ikan mulai terasa. Tapi kali ini banyak yang gagal hook up. Penyebabnya, ikan yang terlalu kecil menyambar mata pancing berukuran lebih besar. Terbukti setelah mengganti mata kail kecil, barulah ikan kuniran ukuran 1-2ons berhasil didapat.
“Kuniran melulu…” Anton menggerutu. Tidak lama kemudian, Hpnya berdering. “Halo…. Iya mam… beress… A… Ada sih… tapi kecil2…” sahut anton ketika menelepon. “Bini gue nelpon. Gawat nih, dia nanyain kerapunya. Gue jawab aja dapet tapi kecil2…” Wajah Anton sedikit terlihat khawatir. Saya dan Opik Cuma senyum2 saja.
Spot ke 3 : Pantai berkarang menghadap Pulau Tempurung ; Ikan Jawara.
Jam 12.50 WIB. Selesai makan siang nasi bungkus Anton berteriak pada iim untuk pindah lokasi. “Im!!! Pindah yuk!! Cari kerapu nih!” Oke pak. Mungkin dibalik pulau sebelah sana masih ada kerapunya. Kita jalan pelan2 sambil troling.” Jawab Iim.
Arus di luar pulau terlihat sangat deras. Permukaan air terlihat bergolak seperti jeram sungai. Anton dan Opik menurunkan joran troling dengan umpan Rapala CD11. Saya asyik memandang monitor fish finder, memperhatikan dasar laut sekitar pulau yang berkarang dgn kedalaman sangat bervariasi antara 20 s/d 50mtr. Tidak terasa sudah 30 menit kami berjalan pelan sambil troling. Hasil troling : NIHIL.
Tiba di spot ke 3 : 150 meter dari Pantai dengan hamparan karang karang hancur yang menghadap ke pulau Tempurung. Endang menurunkan jangkar. Kedalaman air 35 meter. Ombak flat. Arus lemah karena terhalang pulau. Kami turunkan tali pancing dgn mata kail carbon nomor 6. Setelah 10 menit menunggu. Tidak ada sambaran ikan sama sekali. Umpan masih utuh tidak disentuh. Iim mulai celingak-celinguk lagi. Kelihatannya dia sudah kehabisan akal mencari spot kerapu. “Kita drifting aja pak…” sahut iim tiba2.
Mesin perahu dihidupkan dan perahu bergerak sedikit menjauh dari pantai. Kembali pancing diturunkan. Tidak sampai 10 menit, saya sudah berhasil menaikan seekor kurisi kecil. Tak lama kemudian Anton dan Opik mendapatkan ikan yang sama. Wajah Anton tanpa ekspresi. Endang masih menggunakan pancing yang lebih besar. Berharap bisa mendapatkan Kerapu. Iim masih berdiri celingak celinguk. Kelihatannya ia merasa bersalah karena client-nya tidak berhasil mendapatkan ikan yang diinginkan.
Sudah 4 kali iim membetulkan posisi perahu yang sudah hanyut jauh. Waktu menunjukan pukul 14.20 WIB. Belum satupun kerapu didapat ketika tiba2 Opik melihat ikan2 teri berloncatan dikejar ikan predator, hanya 25 meter dari bibir pantai yang berkarang. Dari jumlah riak2 yang ditimbulkan, sepertinya ikan2 predator itu lebih dari 5 ekor. Dan sepertinya berukuran cukup besar.
“Lihat… talang2!!” teriak Opik.
“Bisa jadi GT tuh… Mereka bergerombol” sambung Anton.
Segera Opik menyiapkan popper. Saya pun tidak kalah cepat mengganti reel shimano dengan spining klasik, reel tua Daiwa SS 2000C yang masih terawat dan memasang popper Yo-Zuri yang kebetulan saya bawa. Iim segera menghidupkan perahu. Diarahkannya perlahan mendekati kerumunan ikan2 itu.
Lempar sekali… tidak ada sambutan. Opik dan saya bergantian melempar popper ke arah yang berlainan. Gerombolan ikan sudah menghilang, tapi kami masih terus bersemangat. Tiba2 popper saya terlihat dikejar ikan berwarna putih-abu2 keperakan dengan ekor agak hitam. Reel saya gulung agak melambat dan sedikit memainkan joran agar popper berjoget dan disambar. Tidak ada respon. Kelihatannya GT, yang kembali menyelam tidak tertarik dengan popper yang saya mainkan.
Tidak lama kemudian, Opik berteriak “Strike!!” popper disambar. Entah ikan apa yang menyambar, tapi kelihatannya cukup besar karena reel terus berderik, kenur terus terulur ditarik ikan.
Ketika tarikan berhenti, Opik mulai memompa joran dgn berhati2. Baru saja 3 kali pompa, ikan kembali lari menyelam dan tiba2 joran kembali lurus… “Yahhhh…. Putus Ry!!” Opik menghela napas kecewa.
Ketika diangkat, kili2 di ujung tali pancing yang digunakan Opik masih terikat erat. Hanya saja Leader-nya sudah tidak ada tanpa menyisakan sedikitpun sisa ikatan di kili2 tersebut. Rupanya Opik terburu2 mengikat tali leader. Ikatannya kurang sempurna, terlepas, sehingga popper dan leadernya ‘dipinjam paksa’ oleh ikan.
Kembali saya melempar popper. Opik sibuk memasang popper baru. 15 menit berlalu. Lengan mulai terasa pegal terus menerus melempar popper. Sepi... Tidak ada sambutan sama sekali. Opik terlihat sudah pasrah. Anton masih terus setia mancing dasar menunggu Kerapu idaman.
Pukul 15.00 tepat. “Pulang yuk…” kata Anton memecah kesunyian. “Mumpung masih siang, kita mampir ke pasar siapa tahu ada Kerapu yang masih segar.” Sahut Anton yang sudah putus asa. Tanpa menjawab, saya dan Opik menggulung kenur tanda setuju. Iim dan Endang sudah bersiap2. Anton masih menggulung kenur perlahan2 berharap masih ada harapan disambar kerapu.
Wajah Anton terlihat kecewa karena tidak bisa memenuhi pemintaan sang istri tercinta. Ketika tiba2 10 meter lagi tali sampai dipermukaan, ujung joran Anton bergerak kecil mengangguk angguk. “Lah… ada ikannya… Koq ga berasa dimakan ya?” kata Anton. Ikan yang didapat Anton berukuran kecil. Jorannya hanya melengkung kecil. Itupun karena pemberat yang digunakannya.
Tiba2 Anton berteriak senang “Nah!!! Ni die nih! Dapet juga lo… hehehe.” Semua menoleh kearah Anton yang sedang menggantung seekor kerapu berwarna merah menyala diujung mata pancingnya. Tidak besar. Mungkin hanya 1/2kg. Tapi sudah cukup membuat wajah Anton yang asem kembali berseri2. “Yang penting asli hasil tangkapan sendiri… biar kecil, tapi cukup juga tuh buat digoreng bakal bini lo.” Kata Opik. Hehehee… kami semua tersenyum.
Sepanjang perjalanan pulang di mobil menuju Jakarta. Anton terus menerus bersenandung mengikuti lagu lagu Dewa dari tape mobilnya. Hatinya senang karena berhasil memenuhi permintaan sang istri.
Jawara hasil tangkapan trip memancing kali ini bukanlah Monster GT, Tenggiri, Marlin, Layaran atau YFT. Melainkan seekor kerapu merah hanya seberat 500 gram…
Trip Sangyang, 1 Agustus 2007
Nama Perahu : - (lupa)
Pemilik : Pak Ade
Lokasi sandar : Dermaga pelabuhan Anyer.
Pemancing : Ary, Anton, Opik
Awak perahu : Iim dan Endang
Harga sewa perahu : Rp. 800rb. Belum termasuk tips, tanpa GPS dan FF.
Hasil tangkapan :
Mancing dasar :
Kuwe berbagai jenis 1,5-6kg = 18 ekor
Lencam 0,5-2kg = 15 ekor
Kerapu merah ½ kg = 1 ekor
Kurisi, kuniran, dll = banyak, tdk dihitung.
Troling : Nihil
Popping : 1 putus, 1 kali dikejar GT.
Berikut foto2nya :
1. Kuwe 6 kg
2. Hasil tangkapan
3. Ikan jawara trip kali ini. Kerapu jenis apa ya?
Bung Ary ,.......... bininya bener2 nyidam ikan kerapu hrs dr hasil pancingan yah Bung untung yg di minta ikan Kerapu klo ikan yg lainnya ha ha ha...... , kagak mau dr hasil yg di TPI
Any way Congrat...... Bung Ary trip Anyer nya top deh .......?
Wassalam,
Yanto
Quote:
Originally Posted by ryditya
Trip Sangyang, 1 Agustus 2007
Nama Perahu : - (lupa)
Pemilik : Pak Ade
Lokasi sandar : Dermaga pelabuhan Anyer.
Pemancing : Ary, Anton, Opik
Awak perahu : Iim dan Endang
Harga sewa perahu : Rp. 800rb. Belum termasuk tips, tanpa GPS dan FF.
Hasil tangkapan :
Mancing dasar :
Kuwe berbagai jenis 1,5-6kg = 18 ekor
Lencam 0,5-2kg = 15 ekor
Kerapu merah ½ kg = 1 ekor
Kurisi, kuniran, dll = banyak, tdk dihitung.
Troling : Nihil
Popping : 1 putus, 1 kali dikejar GT.
Berikut foto2nya :
1. Kuwe 6 kg
2. Hasil tangkapan
3. Ikan jawara trip kali ini. Kerapu jenis apa ya?
Mas Ary, terus terang ini pertama kalinya saya baca report seperti novel. Ada dialognya segala. Ha, ha, ha. Tanpa terasa saya baca tuntas kalimat demi kalimat!. Very nice story dan juga perjalanan mancing yang sangat menarik walaupun lokasi mancingnya saya juga kenal. Selamat, dan kapan kapan ceritera lagi seperti itu ya!
Mas Ary, terus terang ini pertama kalinya saya baca report seperti novel. Ada dialognya segala. Ha, ha, ha. Tanpa terasa saya baca tuntas kalimat demi kalimat!. Very nice story dan juga perjalanan mancing yang sangat menarik walaupun lokasi mancingnya saya juga kenal. Selamat, dan kapan kapan ceritera lagi seperti itu ya!
Makasih pak Ruki. Tadinya saya cuma mau nulis report singkat saja. Tapi ngga tau tuh, keenakan nulis koq jadinya panjang juga ya?? Sekalian saja saya tulis semua. Dan jadilah cerpen kaya gini...
Makanya saya sertakan juga resume singkat reportnya. Barangkali ada yang males baca...
Next time saya buat lagi.
Ternyata pak Ruki malah udah pernah kesana juga ya? Apakah kira2 sama, singgah di spot pertama itu? Spotnya potensial sekali lho pak...
Ternyata pak Ruki malah udah pernah kesana juga ya? Apakah kira2 sama, singgah di spot pertama itu? Spotnya potensial sekali lho pak...
Ya, pernah via Anyer (kapal Rusdi) juga via Merak palai kapal Bintang Utara (Yantosu). Spotnya saya tidak yakin tapi setahu saya kapal kapal dari Anyer biasanya ke spot (rumpon) yang mereka miliki rame2. Tapi anda kan pakai GPS & FF. Yang pasti sama itu arusnya lho. Deras banget! Kalau timah 250 gram miringnya bisa 60 derajat! Yang seringkali ada kerapu justru disekitar Karang Tungku 3 tempat popping itu !