from : sanma silver <silvermmmmmmmmmm@yahoo.com>
Sabtu, 7 Juli 2007
Jam 14.00 siang, saya berangkat sendirian ke Kishiwada, tepatnya ke tempat mangkalnya kapal "Yamada". Kapal "Yamada" ini adalah kapal yang menyeberangkan orang ke dinding-dinding penahan gelombang di sekitar daerah Kishiwada, Osaka. Setelah sekitar 20 menit naik mobil, sampailah saya ke pangkalan kapal "Yamada" ini. Hari ini, saya sendirian pergi, dan untuk pertama kalinya saya ingin mancing gurita, atau kalau dalam bahasa Jepang disebut dengan "TAKO".
Mancing tako, katanya cukup menyenangkan dan menarik, sekaligus bertantangan cukup besar. Tenaga si gurita yang "cuma seukuran 500 gr pun bisa kuat sekali bila dia berhasil menggaet batu karang pada saat "strike" di mata kail. Sebagai pemula, saya yang tahu cara mancing tako ini dari ajaran teman saya lewat email, sangat ingin tahu, gimana sih rasanya mancind tako itu.
Mancing tako, tidak perlu umpan, tapi pakai lure khusus. Lure ini berbentuk gurita kecil, terbuat dari karet kenyal dan liat. Dengan kepala sebesar kelereng (sedikit lebih besar), warna merah-hitam dengan colouring glow in the dark, bermata pancing semacam pancing garong (6 bait memutar) plus timbal pemberat sekitar 50gr.
Tekniknya, lure dijatuhkan sampai dasar, terus digerakan dengan diayun ke atas-ke bawah, dengan maksdu rumbai-rumbai dibawah kepala lure itu akan bergerak menari-nari seperti layaknya tentakel gurita di dasar. Saya sendiri heran, kenapa lure untuk gurita ini malah berbentuk gurita kecil. Tapi, sebagai pemula, ya pokoknya coba saja.
Tepat jam 15.00, kapal berangkat ke dinding penahan gelombang atau sering disebut dengan teibo, jaraknya kurang dari1 km dari dermaga, dengan kedalaman air kira-kira "hanya" 6-8 meter, berdasar rumput laut, dan karang besar, sehingga sedikit kemungkinan nyangkut di karang, tapi sangat besar kemungkinan nyangkut di akar rumput laut yang tumbuh subur. Untuk itu diperlukan joran yang pendek dan keras, serta kenur yang agak besar, yang kira-kira mampu mengalahkan akar rumput laut, daripada mesti nyiapin lure banyak-banyak.
Begitu sampai di teibo, segera pasang rangkaian dan coba! Belum juga 10 menit, saya sudah strike tako, dengan besar kepalanya sekitar bola ping pong. Lucu sekali rasanya, karena tiba-tiba lure saya tidak bisa bergerak. Saya sempat berpikir, itu nyangkut di dasar. Tapi ketika saya hentak agak kuat, jadi lepas dan sedikit berat. Pas ditarik ke permukaan, ternyata ada tako kecil yang ngakut. First tako strike in my life!
Waktu berlalu sekitar 2 jam. Saya berhasil strike 7 tako, dengan ukuran macam-macam. Yang paling kecil, yang pertama dengan ukuran kepala sebesar bola ping-pong, dan yang besar kira-kira kepalanya sebesar bola tenis, dengan berat sekitar 500 gr lebih.
Capai sekali mancing tako, karena harus terus mengayun joran. Sedikit istirahat. Jam 17.30, ganti haluan. Setelah capek mancing tako, kali ini ingin mancing ikan. Katanya ikan Aji (kembung?) di sekitar tempat itu cukup besar, dan saat ini adalah saat yang tepat mancing ikan Aji karena kondisi tubuh mereka sedang berlemak cukup banyak.
Dengan sabiki (kotrekan) plus rebon, dalam waktu kurang dari 1 jam, cooler sudah terisi 12 ekor ikan Aji yang ukurannya sekitar 25-30 cm, plus beberapa ikan betok dan tongkol. Rasanya sudah cukup untuk hari ini.....
Sambil istirahat, nongkrong sendirian ditengah laut, menikmati semilir angin, sampai pas jam 7 malem, kapal datang menjemput. Saya pulang dengan lega karena sudah berhasil merasakan strike gurita!
Ada beberapa foto sebenarnya. Tapi kok ndilalah, PC di rumah rusak. Mau dibawa ke kantor, softwarenya nggak ada. Jadinya, cerita kali ini tanpa foto pendukung. Tapi nanti kalau PC di rumah sudah bener, saya coba posting di sini......
Bowo \ Osaka