Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
Sabtu, tanggal berapa ya?, pukul 2.30. Aku, Bewok, David dan Edo meluncur ke Merak. Rencananya, kita akan mancing berlima. Tapi, Awen mengundurkan diri pada saat-saat terakhir sebelum berangkat. Aku tidak tahu pasti kenapa, sepertinya dia ada urusan keluarga.
Mancing ke Merak memang sudah dirancang seminggu sebelumnya. Tapi, biasalah, konfirmasi jadi-tidaknya baru pada hari Jum’at. Target kita adalah tenggiri dan salem yang, katanya, besar-besar. Itu yang membuatku tertarik selain pengen mencoba mancing di lokasi tersebut. Maklum, lokasi mancingku masih sangat terbatas.
Tiba di Merak sekitar pukul 5. Kita langsung ke lokasi, dekat RM Padang dan Kantor Polisi. Terrnyata, kita terlalu cepat. Orang sini biasanya mulai berangkat pukul 6 atau 7 pagi. Jadi, terpaksa nelpon si Iwan, yang punya perahu sekaligus pawang mancing. Iwan dan anak buahnya (1 orang) memang segera datang, tapi masih ada lagi masalah. Posisi perahu ada di tengah. Jadi, harus di antar dulu dengan perahu lain yang lebih kecil. Nah, nunggu tukang perahu yang ini juga bikin sedikit ‘kesal’. Tapi, ya, yang salah salah kita juga. Datang terlalu cepat sih.
Untungnya, umpan sudah disiapkan oleh Iwan sebanyak 3 kg cumi dan, mungkin sekitar 2 kg teri. Kita sendiri bawa 7 kg rebon untuk mancing kembung como sebagai umpan hidup. Itu tadi Pak, target kita memang tenggiri gueeede. Di Merak enggak ada ikan tembang seperti mancing di Teluk Jakarta.
Ternyata pepatah men propose, God disposes berlaku. Arus sangat deras. Pelampung sebagai tanda rumpon tidak kelihatan. Iwan memberikan dua pilihan, nunggu dulu sampai arus kendor atau langsung ke lokasi mancing. Kita memutuskan untuk terus saja walaupun, sejujurnya, aku sedikit ‘patah hati’ mengingat target awal adalah tenggiri. Bewok juga kayaknya begitu, terungkap dari yang dikatakannya: “Tadi bilang mau mancing kembung, kok enggak jadi?’ Sekadar informasi, waktu diputuskan untuk terus, Bewok enggak ikut ambil suara, soalnya dia tertidur di palka. Tidak demokratis memang, tapi apa mau dikata, tidur sih.
Oh ya, sepanjang prjalanan kita juga troling, tapi enggak ada strike.
Sampai di lokasi, sekitar Pulau Tempurung, kita langsung menurunkan pancing. Arus sangat kuat sehingga membutuhkan bandul luncur sebanyak 2 buah untuk satu kenur (No. 5). Edo coba-coba jigging dan langsung disambar GT ukuran sekitar 6 kg. Kita yang menggunakan umpan cumi enggak di sentuh-sentuh, maklum masih penyesuaian. David juga ternyata pengen jigging dan mengeluarkan ‘pusaka’nya berbagai jig. Sayang, nasib tidak berpihak kepadanya untuk narik ikan dengan menggunakan umpan besi tersebut.
Bewok juga rupanya pengen coba. Dia kemudian pinjem jig-nya si Edo, baru beberapa kali pompa langsunbg disambar tonggkol. Hebat juga si Bewok ini, cepat paham carannya bagaimana memancing dengan jig. Padahal, menurut pengakuannya, itu baru pertama kali.
Saya sendiri untuk jigging, atau popping, terus-terang angkat tangan. Melempar umpan saja dengan menggunakan joran saja, saya belum becus. Melibet melulu. Lagi pula, tenaga saya tidak sekuat Edo yang saya enggak tahu bulu keteknya rontok berapa banyak karena menggunakan teknik jigging. Saya salut dengan Edo dengan konsistensinya.
Sampai beberapa waktu, saya cuma gigit jari dan ngiler lihat Edo dan Iwan ditarik ikan melulu. Oh ya, Iwan ini menggunakan teknik ranggung dengan umpan rebon, tapi yang strike ikan kue. Saya enggak tahu bagaimana perasaan David, soalnya dia juga enggak narik.
Tengah hari baru pancing saya mendapat respon. Waktu itu, arus mulai kendor. Ikan pertama yang saya angkat adalah tonggol ukuran sekitar 1 kg. Kemudian, saya umpan kepala cumi saya diserang lagi. Sayang, saya menggunakan kenur 10 lbs, jadi rada hati-hati. Hampir 30 menit, ikannnya enggak naik-naik juga, tangan saya sudah pegel dan rasanya enggak kuat lagi. Saya tawarkan Bewok untuk melanjutkan dan diterima. Kemudian, dia asyik ‘mompa’ dengan hati-hati, takut mocel. Hanya saja, karena pancingnya kecil, kelamaan dipompa jadi longgar juga. Apa mau dikata, sekali lagi ikan tersebut memang belum milik.
Begitulah. Ikan kue tarikannya memang asyik. Aku kan punya dua ril, yang mediumlah. Satu aku pake kenur vanish (flurocarbon) 10 lbs, yang satu pakai monofilament biasa ([akai kenur 30 lbs). Pertama, aku pakai yang 10 lbs, tapi putus melulu. Jadi, aku ganti aja dengan yang 30 lbs, yang menurutku udah kelas traktor. Dengan 30 lbs ternyata lebih efektif Nes untuk ukuran kue 5-6 kiloan. Joran pake yang medium-heavy.
Untuk pancing aku gunakan dua jenis. Satu flyliner dari Owner No. 1. (short carp). Selain itu, aku pake yang mereknya mustang (long carp), buatan korea. Nomornya aku lupa, tapi kira-kiran sebesar Owner no. 2. Pancing Mustang saya beli di Bursa Pancing, satu kotaknya Rp 42.000.
Untuk rangkaian, aku gunakan pancing tandem--two-hook-rig. Jarak antara pancing satu dengan yang satunya lagi sekitar 4-5 cm. Soalnya umpan yang dipakai adalah cumi, satu dikaitkan di kepala, yang satu lagi di ekor. Cara ini ternyata efektif. Kue cenderung menelan cumi mulai dari kepala.
Singkat cerita, kita berhasil mengangkat 20 ekor kue, ukuran 2 sampai 6 kg, dua wakung sawo yang panjangnya hampir 1 meter. Aku sendiri berhasil mengangkat 6 ekor, dua kali putus dan sekitar 8 kali mocel. Itu pun tanganku masih pegal-pegal sampai sekarang.
Yang menarik, cara rangung yang digunakan si Pawang Iwan ternyata sangat efektif.
Ini " Bewok " bukan Iwan khan ? Masda dia dipanggil pemula jigging , yang saya tau Iwan Bewok tuh ahli jigging , Carpenter jig rod nya saja ada 3 dan belum lagi Ocea Blue Rose nya .
ha...ha...ha..bukan Iwan, Pak. Susah juga ya kalau panggilannya sama. Tenggiri di sana, katanya sih, 5 kiloan. Tapi, saya juga baru sekali mancing di Merak. Tadinya, memang target kita tenggiri sama salem. Tapi, enggak punya umpan hidup.
mantap man , kalau nyari salem kenapa nggak coba tongkol diiris iris setau saya salem makan tongkol kok, pake jig juga bisa
ps: mau nanya nih musim ikan disana sampai bulan apa biasanya
Phon, saya waktu itu memang udah nyaranin, potongin aja tuh tongkol buat dijadiin umpan. Tapi, enggak jadi. Soalnya, cumi masih ada dan, terus terang, jadi lupa tuh sama si salem saking asyiknya membetot mang kue.
Saya enggak tahu pasti musimnya sampai kapan, yang jelas sekarang ini, menurut Pawang Iwan (yang ini siempunya perahu yang di Merak), baru saja galak-galaknya. Kalau lagi nyerbu, ikannya gile bener. Cobain deh, kalau lagi milik, tangan sampai pegel-pegel.
By the way,
saya minggu lalu coba mancing di Lampung malam2 tapi apes. Bukan dapat ikan malah dapat alias ketemu hantu di laut. Saya tidak ingat jelas lokasinya krn di ajak sama temen. Ikan2 pada kabur semua dan hujan terus, padahal arus lumayan tenang.
By the way,
saya minggu lalu coba mancing di Lampung malam2 tapi apes. Bukan dapat ikan malah dapat alias ketemu hantu di laut. Saya tidak ingat jelas lokasinya krn di ajak sama temen. Ikan2 pada kabur semua dan hujan terus, padahal arus lumayan tenang.
Hantu laut?? bisa cerita lebih detail lagi pak, jadi pengeng tau ceritanya gimana sampai bisa bertemu hantu laut. Bentuknya kira2 gimana pak? warna, berat, maunya itu hantu nyamber umpan apa ya? .... just kidding. Ditunggu pak ceritanya.
Hehehehe...sekitar minggu lalu pas hari mauild (kamis) pagi dr jkt jam 7 pagi dan tiba jam 2 siang di lampung. Sekitar jam 4 sore kami brangkat ke lokasi kapal (maaf sy krg jelas lokasi kapalnya, lupa tanya). Setelah angkutan kami muat ke kapal, jam 5.30 kami lsg take off. Perjalanan butuh waktu 3 jam-an utk tiba di lokasi (dekat sebuah pulau dan tidak jauh dr peternakan kerang mutiara). jam 9 malam kami mulai mancing dan cuma dpt ikan mungil2...3 ekor! Arus sangat tenang dilokasi itu. Kapten kemudian membawa kami ke spot yg lain sekitar 1 km dr lokasi pertama. Ternyata disana arus bawah cukup deras...4 Oz aja kaga cukup. Baru 5 menit nge-loncer...eh awan dan gledek datang...kami pun balik lg ke lokasi pertama. Nahhh...ketika menuju ke lokasi 1 itulah...terjadi penampakan!!!! Kebetulan saya dan 2 teman saya duduk dgn posisi menghadap ke arah yg sama (kalo cuma sendiri sy pasti pikir halusinasi). Kami saat itu duduk di belakang kapal menghadap ke arah pulau yg kami lalui. Tiba2...ada sebuah kain warna putih yg lewat dan dan kain tersebut seperti kain robek2 berkibar seperti bendera (padahal angin hampir tidak ada). Jaraknya hanya 2 meter dari perahu. Kami hanya terbengong sambil menunjuk ke arah "apapun itu" selama 2 detik dan menghilang. Wujud muka tidak jelas terlihat karena cuaca sangat gelap saat itu. Saya kira kaptennya mungkin terlalu dekat membawa kapal dekat dgn kapal or bagan sehingga mungkin itu jemuran org. Tapi ketika kami nengok kebelakang...tidak terlihat apa2 lagi.....ohhh srammmmm.
Saya dan teman bertanya 1 dgn yg lain utk saling memastikan dan ternyata itu mmg hantu laut....mungkin bajak laut yg mati penasaran kali ya??!!! Singkatnya malam itu kami tdk dpt hasil selain 3 cute little fish. Kata org sih kalo ada hantu, ikan2 suka pada kabur. Hehehehe...apalagi kita manusia ya...
Tapi yg namanya hobby dan gila mancing (baru kesampean di indonesia bisa mancing laut lagi setelah 5 taon, kalo dulu waktu sekolah di luar negeri sering bgt)...itu tdk menjadi kendala kecuali kalo di perkosa ma setan atau jin. Kami rencana dlm waktu dekat mau mancing ke lampung lagi. Hidup fishiiiiing!!!!
Ha..ha...ha..hantu.uuuu. Di tempat saya, Bangka Selatan, ada suatu kepercayaan kalau melihat sesuatu yang 'aneh' di laut, jangan 'heran' dan berkomentar. Kalau pengen kasih tahu temen, bilang aja 'tuh'. Sekali lagi, jangan merasa heran. Laut itu luar biasa dan tak bisa ditebak. Hari ini ikannya banyak, besok belum tentu. Tapi, pengalaman adalah sangat penting. Dari sini, saya lebih cenderung berpihak pada rekan yang berpengalaman ketimbang rekan yang punya teknik dan teknologi bagus untuk mencari dan mendapatkan ikan. Kalau semua unsur digabung, wah luar binasa...hua..ha....ha.
Tapi, sekali lagi, laut hanya bisa diprediksi tapi tak bisa ditebak. Tak ada yang menyangka Aceh bisa begitu hanya dalam waktu sekejap. Saya kira, tempat yang paling seram adalah tepi pantai, apalagi yang jarang dikunjungi orang.
Saya dulu nelayan (mata pencaharian). Sekarang juga, agaknya (hobi). Dulu, di laut tempat saya mancing atau jaring ikan, lumba-lumba pun bisa dipanggil. Teriak aja, 'lumba-lumba, datanglah!' Ratusan akan muncul, sehingga membuat takut. Maklum, kita hanya menggunakan perahu (sampan) kecil, yang tempat untuk berdiri pun susah.
Tentang lumba-lumba, itu benar. Tapi, aneh ya, sekarang enggak lagi. Mungkin lumba-lumba udah habis...he..he...he.
Leki, kita rencana manicng ke Merak. Unfortunately, orangnya udah lengkap. Mudah-mudahan kita bisa mancing bareng next time-lah. Kalau cari kawan mancing, coba deh ke mailinglist-nya mancingl@yahoo.com. Tapi, kayaknya, daftar dulu. Gratis kok..hua...hua...ha....ha