Memburu Hampala di Wadaslintang
Memburu Hampala di Wadaslintang
Ikan yang satu ini memang luar biasa. Larinya yang kencang hanya sebagian dari ciri yang melekat pada dirinya yang bersosok gagah. Dengan rahang yang sangat kuat, ikan bersisik besar-besar dengan noktah hitam di samping badannya ini mampu membengkokkan kail trebel ukuran cukup besar. Sekalipun ia tidak memiliki gigi, tetapi mulutnya yang lebar dikombinasikan dengan kekuatan rahang, mampu memangsa umpan yang cukup besar.
Inilah ikan hampala, yang oleh pemancing di Jawa biasanya disebut dengan nama palung atau tempalung. Ikan ini tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia hingga Malaysia. Di negeri jiran itu, ikan yang di sana dinamai sebarau ini juga cukup terkenal dan menjadi target pancingan air tawar yang utama selain toman (gabus).
Bukan hanya ciri fisiknya saja yang menarik untuk diungkapkan, tetapi gaya ikan ini menyantap umpan memang atraktif. Hampala bak meteor ditembakkan dari orbitnya, menerjang umpan dan melahap dengan suara dentuman yang keras “byur” lalu melesat membawa umpan dan melumatnya dalam kecepatannya. Kail yang keras bisa menjadi lembek oleh kunyahannya.
Saya pernah mendapatkan hampala di sebuah sungai berair jernih di daerah Jawa Barat. Waktu itu masih dengan umpan hidup berupa ulat bambu (cangkilung). Tak dinyana, ikan yang kena pancing di ujung hilir bisa dengan seketika tahu-tahu berada di hulu. Gulungan menjadi kendor, dan belum lagi sempat menggulung tiba-tiba ia sudah lari ke hilir dengan kecepatan tinggi. Untunglah akhirnya ikan berhasil didaratkan. Namun tak urung ikan ini menimbulkan rasa heran, setelah berhasil dicabut ternyata kail dalam keadaan renggang. Padahal nyaris tidak ada ketegangan yang cukup berarti saat itu, apalagi ikan yang makan umpan hanya sekitar ½ kg. Mungkinkah rahangnya demikian kuat?
Pengalaman mancing berikutnya terjadi ketika saya berkenalan dengan Soni (Adi Wisaksono) yang ternyata adalah salah seorang pakar mancing ikan hampala. Bersama dengan jawara-jawara mancing Gombong, Heru dan Hani dan beberpa teman lain, kemudian kami sepakat untuk mancing di Wadaslintang, khusus mencari hampala dan memancingnya dengan menggunakan umpan buatan (lure). Persiapan saya waktu pertama kali ke sana sangatlah terbatas. Saya hanya memiliki beberapa jenis minow dan popper saja. Namun berbekal semangat membuktikan terjangan hampala, kami pun berangkat.
Di sebuah lokasi yang ditandai dengan sembulan batu cadas putih di tepian waduk, kami mulai mancing. Waktu menunjukkan pukul 15.30 dan hujan rintik-rintik. Kami pun menghambur mencari posisi yang baik untuk mulai melakukan casting (lempar-tarik) berharap umpan tiruan kami disambar ikan. Hanya dalam tiga kali lemparan saja, tiba-tiba umpan Hani disambar hampala. Suara “Cebur!” pun menggema bersamaan dengan menghilangnya umpan Hani ditelan ikan. Namun tak berapa lama kemudian ternyata ikan terlepas dan kail menjadi renggang. Rupanya seekor hampala besar telah menerjang popper bikinannya sendiri itu.
Berikutnya tiba-tiba terdengar suara berkecipak ketika umpan popper Heru yang sedang ditarik tiba-tiba disambar ikan. Seketika terjadi pertarungan Heru dengan seekor hampala yang lari ke sana ke mari, berputar-putar lalu menyusup ke balik ganggang. Tak mudah melepaskan ikan dari rerumputan air itu, hingga mau-tidak mau Heru mendekat dan melepaskannya dari lilitan ganggang. Setelah itu pun ikan masih sempat berputar sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna di tepian. Hampala seberat 2 kg telah berhasil ditangkap dengan menggunakan umpan tiruan berupa popper bikinan Heru hari ini.
Itulah pertamakali saya menyaksikan bagaimana aksi hampala menyambar umpan. Sejak saat itu saya makin penasaran untuk mencoba bermacam-macam umpan tiruan. Hingga dalam trip selanjutnya saya menyiapkan lebih banyak lure.
Trip berikutnya saya kesana bersama Soni, Heru, Agus, Joss, dan Oy. Kali ini menggunakan kapal yang disewa dari sebuah pangkalan perahu di Desa Wadaslintang. Dengan ongkos sewa 60 ribu rupiah kami berkeliling seharian mencari lokasi yang baik untuk mendapatkan hampala. Hampala pertama didapat oleh Oy di sebuah pulau di tengah waduk dengan menggunakan rapala jenis jointed ukuran 7 cm.
Karena niat kami untuk melakukan catch & release, maka ikan kemudian dilepaskan kembali. Hampala kedua lagi-lagi diperoleh Oy. Kali ini di sebuah lokasi di pinggiran yang di dekatnya ada sebuah perahu dayung yang sedang ditambatkan. Hampala seberat 1,9 kg pun dengan penuh gejolak akhirnya takluk di tangan “Kyai Semarang” ini lewat umpan rapala jointed.
Menjelang sore, kami menuju ke sebuah dataran pulau yang banyak semak-semak terandam airnya. Hujan rintik-rintik membuat kami melakukan casting dari dalam perahu. Saat itu saya cukup gemas dengan umpan-umpan saya yang belum juga disambar hampala. Hingga kucoba pinjam popper mini (5 cm) milik Oy. Segera kulemparkan ke sebuah batu yang menonjol di tengah air. Hanya dalam tempo singkat umpan dimakan ikan, dan tak lama kemudian mendaratlah seekor hampala kecil (3 ons) di tanganku. Heran juga aku, hampala sekecil ini mau saja menelan sebuah popper. Segera ikan kulepaskan kembali ke habitatnya.
Tak selang berapa lama, hanya dalam tiga kali lemparan umpanku sudah disambar ikan lagi. Suara kecipak hampala menyambar umpan terlihat jelas ditengah rintik hujan. Lagi-lagi seekor hampala kecil.
Oy pun tak kurang sigap dengan melemparkan jointed andalannya. Sekali lagi, ia berhasil menangkap hampala dan melepaskannya. Itulah akhir perjalanan kedua saya bersama teman-teman.
Dalam trip berikutnya yang kami lakukan pada tanggal 20 Mei 2002 lalu, tiga ekor hampala berhasil didapatkan oleh Soni dan Heru. Perjalanan kali ini seakan mengobati kekalahan “Sang Guru” Hampala, Soni, yang dalam beberapa trip belakangan selalu sial. Popper dan jointed terbukti tetap menjadi favorit hampala di sana.
Bagiku, rasa penasaran masih tetap menggantung di mimpi, karena masih banyak teknik lain yang belum sempat kupraktekkan. Wadaslintang...kelak aku akan datang lagi.
Bambang Setiawan
Artikel untuk Majalah Info Mancing (almarhum)
__________________
Soni
dian_wiryatmo@yahoo.co.id
08562910578
ym id : super_hampala
When there is water.... there will be fish....
|