Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
Lokasi : Lebung/rawa Perkebunan Tebu IndoLampung.
pemancing : Rombongan Jakarta : P.Ruki Cs (8 orang)
Rombongan Lampung (lokal) : 10 orang
Target : Toman
Setelah dua minggu lalu Pak Ruki menkonfirmasi rencananya untuk
berkunjung ke Lampung, akhirnya pada hari Sabtu kemarin, beserta rombongannya tiba di Lokasi lebung Perkebunan Tebu Indo Lampung. Tepat jam 13 wib, rombongan makan siang bersama dulu, dan ngobrol2 ringan sambil mempersiapkan peralatan mancing, setelah siap rombongan mulai berpencar untuk mencari spotnya masing2.
Strike pertama sudah didapatkan oleh Sdr. Didit dalam lemparan pertama tidak jauh dari tempat base rombongan.
Walaupun dilihat dari hasil kurang begitu memuaskan, tapi bagi saya mancing bareng ini sangat berkesan mengingat ada pemancing dari jauh yang berkenan datang kepelosok dan bisa berkenalan langsung.
untuk Pak Ruki mohon maaf jika dalam acara mancing bareng ini ada hal2 yang kurang memuaskan.., btw Terima kasih untuk tanda mata CD Santana nya....
Terima kasih atas sambutan rekan - rekan Lampung yang benar - benar friendly.
Meskipun kami nggak dapat apa - apa, tapi cukup seru bertualang ditengah kebun tebu......... apalagi waktu pulangnya, ngebut diatas jalan tanah berdebu, kesasar ditengah - tengah hutan tebu yang nggak ketahuan ujungnya dimana.
Dan disamping itu kami juga telah melihat sendiri keberadaan toman disana...
Mudah - mudahan dilain kesempatan kami bisa mencoba lagi, dengan persiapan yang lebih baik.
Terima kasih atas sambutan rekan - rekan Lampung yang benar - benar friendly.
Meskipun kami nggak dapat apa - apa, tapi cukup seru bertualang ditengah kebun tebu......... apalagi waktu pulangnya, ngebut diatas jalan tanah berdebu, kesasar ditengah - tengah hutan tebu yang nggak ketahuan ujungnya dimana.
Dan disamping itu kami juga telah melihat sendiri keberadaan toman disana...
Mudah - mudahan dilain kesempatan kami bisa mencoba lagi, dengan persiapan yang lebih baik.
Foto-2 dan laporan detailnya mana pak ?
__________________ Begini ini kalau lama gak mancing
@ Arip : Laporan lengkapnya nanti Bp. ASR saja yg buat & foto - fotonya nanti dari team Lampung, karena kebetulan sekali camera yg dibawa oleh Bp. ASR waktu malam sebelumnya bermasalah & sama sekali nggak bisa di on kan, padahal baterai baru di charge full..
Prolog
Karena Sdr Andri Jangkung mendapat kesulitan untuk melakukan survey tentang kondisi lokasi mancing snakehead maka saya memutuskan untuk melakukan trip mencoba menjawab tantangan Snakehead Lampung dan mendatangai tempatnya tanpa mengandalkan pada hasil survey siapapun. Saya melakukan komunikasi langsung dengan sdr Heri Santana yang memulai thread ttg Snakehead dan juga meminta informasi dari teman teman lain yang berbasis di Lampung. Heri Santana mengatakan akan mengkoordinir teman teman sesama pemancing snakehead ditempatnya untuk bergabung dengan kami pada bila saya dan rombongan kecil jadi datang kesana. Catatan dibawah ini adalah semacam report hasil perjalanan saya ke Lampung dari tanggal 2 sampai 4 Mei kemarin yang sengaja tidak dibuat sebagai report yang berdiri sendiri tetapi dijadikan report yang ditulis oleh Heri Santana. Jadi semacam kolaborasi lah!
Berdasakan informasi yang diberikan oleh Andri Jangkung dan teman teman lain di Lampung lokasi tempat hidup ikan kamal atau Snakehead Lampung tersebut berada di sejumlah wilayah. Tetapi tujuan trip khusus kami hanyalah lokasi yang berada di dalam area perkebunan tebu Indo Lampung di Kabupaten Lampung Tengah. Karena kami tidak tahu posisi persisnya lokasi yang akan kami tuju diantara hamparan ratusan km2 kebun tebu maka kami membuat janji bertemu dengan Heri Santana dan teman temannya di tempat mereka tinggal dan bekerja yang letaknya berdekatan dengan Indo Lampung dan dari sana kami akan bersama sama menuju lokasi. Tempat mereka tinggal adalah camp Bratasena, milik perusahaan pertambakan udang CPB yang harus didatangi melalui rute yang berbeda. Wilayah pertambakan tersebut dijaga sangat ketat sehingga diperlukan ijin khusus bagi umum yang bukan karyawan atau mitra CPB untuk bisa memasuki areal mereka. Selain daripada itu, perjalanan menuju Camp sdr. Heri terdiri dari perjalanan darat, lalu naik ponton bersama kendaraan menuju lokasi Bratasena kemudian perjalanan darat lagi.
Rombongan kecil yang terdiri dari saya, Pak Susilo (aka HarjonoS), adik saya Saiful dan Yayat, Suparto (asisten Yayat di kantor) dan Sugeng calon anggota FF dari Cilegon meluncur dari Jakarta pada hari Jumat tanggal 2 Mei jam 14.00 menuju Bandar Lampung melalui Merak. Pada saat kami mampir sebentar di Rest Area setelah Pintu Tol Karang Tengah kami berhenti sejenak untuk membeli buah2an pak Susilo yang kehilangan kesabaran minta ijin untuk mengambil alih kemudi Nissan Serena yang semula saya kemudikan (he, he, he, he). Selanjutnya mobil tersebut dipacu menuju Merak dan tepat jam 16.00 kami sudah menaiki Ferry dan jam 20.30 kami sudah check in di hotel Sheraton Bandar Lampung. Esok harinya, setelah sarapan pagi, tepat jam 06.30 pagi kami memindahkan peralatan dan perbekalan ke 2 buah Jeep Landcruiser yang sudah standby bersama pengemudinya dan pada jam 06.40 kami memulai perjalanan kami.
Jam 07.45 kami tiba di kota Gunung Sugih ibu kota Kabupaten Lampung Tengah dan langsung menuju kantor Polres Lampung Tengah untuk bertemu dengan Wakil Kepala Polres yang telah kami hubungi beberapa hari sebelumnya. Setelah beristirahat dan beramah tamah kira-kira 20 menit kami pamitan ntuk melanjutkan perjalanan. Ternyata, bapak Waka Polres telah menugaskan salah seorang anggotanya yaitu Aiptu Made Warsa untuk mengawal dan menyertai kami selama melakukan perjalanan menuju lokasi. Pak Made Warsa adalah Komandan Pos Polisi di wilayah Sadewa dan Bratasena yang merupakan bagian dari CPB sehingga ijin untuk ‘numpang lewat” diperoleh dengan mudah.
Pada saat berangkat beliau mengingatkan bahwa sebagian besar jalan menuju Bratasena dalam kondisi rusak berat sehingga perjalanan tersebut akan memakan waktu kira kira 2 setengah jam walaupun jaraknya kira kira hanya 100 km. Apa yang dikatakan beliau ternyata benar sehingga kami terpaksa harus menikmati goyang dombret selama dalam hampir 2/3 dari perjalanan kami. Untungnya kami menggunakan Jeep yang besar dan kekar tetapi memiliki suspensi yang lumayan empuk sehingga tidak terlalu tersiksa. Diperjalanan, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Kota Gajah kami membeli makan siang terdiri dari nasi dan beberapa macam lauk pauk. Kami membeli bekal makan cukup banyak kalau kalau Heri membawa banyak teman temannya dan perkiraan kami ternyata pas sekali.
Jam 10.30 kami tiba disebuah tempat bernama Saewa yang terletak di pinggir sungai Way Seputih. Tempat tersebut adalah tempat dimana kami bersama kendaraan kami harus menaiki ponton untuk menuju ke Camp Bratasena melalui tempat pendaratan yang bernama Nakula. Sekitar jam 11 siang kami berangkat menuju Nakula. Perjalanan dengan Ponton hanya memakan waktu 20 menit. Dari tempat pendaratan Ponton kami menuju tempat pertemuan yang dijanjikan oleh Didit yaitu Pom Bensin milik Koperasi Karyawan CPB yang terletak persis didekat gerbang CPB. Disana sudah menunggu Didit, seorang pemuda asal Surabaya yang ramah dan bekerja sebagai Mitra (Pemasok) untuk CPB, Wawan, rekan kerja Didit, Herman dan akhirnya muncul Heri Santana. Mereka mengatakan bahwa perjalanan menuju tempat tinggal snakehead memerlukan waktu 1 jam lagi bila menggunakan mobil sedangkan mereka semua menggunakan speda motor sehingga bisa lebih cepat karena bisa memotong melalui jalan-jalan kecil.
Last edited by The Old Man and the Sea; 05-05-2008 at 06:25.
Akhirnya setelah melewati pos penjagaan keamanan Indo Lampung sebelah selatan dan melalui jalan jalan tanah kering kami sampai di lokasi yang dituju jam 13.15. Terpal alas duduk segera digelar dibawah sebauh pohon yang cukup besar dipinggir jalan dan kami melahap bekal makan siang yang kami bawa. Selama kami makan teman teman Heri Santana yang lain bermunculan dengan motor mereka masing masing sampai mencapai kalau tidak salah 9 orang dan semua kami ajak makan siang yang kami bawa secara cukup. Udara di lokasi siang itu sangat panas sedangkan disekeliling waduk/rawa (embung) hanya terdapat kebun tebu. Setelah makan siang sebagian rombongan dari Jakarta langsung menyiapkan peralatan dan turun ke pinggir rawa sedangkan sebagian rombongan Heri Santana menyebar pakai motor masing masing menuju rawa rawa yang lain yang banyak sekali jumlahnya di areal perkebunan tebu tersebut.
Baru saja turun 10 menit, Didit sudah langsung strike sekor snakehead sebesar betis orang dewasa dengan berat diperkirakan 1 kg padahal semuanya mengatakan bahwa ikan ikan itu biasanya rame menyambar umpan sore hari mulai kira kira jam 17.00. Melihat keberhasilan itu maka kami semua mulai menyebar ke beberapa spot disekitar waduk dibawah teriknya sinar matahari tetapi setelah 30 menit sudah merasa tidak sanggup menahan panas dan akhirnya kembali berlindung dibawah pohon. Kami bertahan sampai jam 18 sore dan sempat berpindah-pindah lokasi mancing dengan naik motor dan berjalan kaki tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Pada jam 18 hampir semua anggota gang Heri dan Didit sudah berkumpul di “pangkalan” untuk acara perpisahan sederhana dan kami harus kembali ke kota Bandar Lampung, Sewaktu berkumpul ternyata Heri Santana berhasl mengangkat snakehead seberat 3 kg dan seorang temannya seberat ½ kg. Setelah berfoto bersama kami meninggalkan Heri, Didit dan teman teman lainnya dengan perasaan haru karena terkesan dengan penerimaan mereka yang ramah dan menyenangkan!
Untuk kembali ke kota Bandar Lampung kami mengikuti saran Didit dan teman temannya untuk mengambil rute yang berbeda yaitu melewati jalan perkebunan Indo Lampung sampai muncul ke Jalan Lintas Timur yang menghubungkan Bandar Lampung dan Palembang. Ternyata kami merasa seperti berlayar di lautan tebu yang berkabut tebal karena jalan yang kami lalui adalah jalan tanah padat yang lebarnya kira kira 20 m dan dalam keadaan kering sehingga debu yang dihasilkan kadang kadang tidak bisa ditembus oleh cahaya lampu mobil. Kami harus menempuh perjalanan dintara kebun tebu selama 90 menit dengan kecepatan rata rata 60 km per jam sehingga menurut perkiraan kami panjang hamparan kebun tebu yang telah kami lalui adalah 90 km! Pada jam 19.30 setelah sempat hampir tersesat sekali akhirnya kami berhasil menemukan Gerbang Utama perkebunan Indo Lampung dan begitu keluar kami sudah berada di Jalan Raya Lintas Timur dan mobil langsung dipacu menuju Bandar Lampung. Jam 21.30 kami tiba di Bandar Lampung. Setelah makan malam dengan menu seafood di Pasar Mambo langganan Bung Admin dan keluarganya kami kembali ke hotel Sheraton. Jam 09.00 pagi hari ini kami meluncur kembali ke Jakarta melalui Bakauhuni-Merak dan tiba di Jakarta jam 17.00.
1. Ikan kamal (snakehead/toman) memang banyak terdapat di rawa-rawa di perkebunan tersebut (Pagi ini Didit sms bahwa rombongannya kembali ke lokasi dan sampai jam 09.00 pagi mereka telah berhasil mengangkat 7 ekor!).
2. Kami telah membawa peralatan yang kurang tepat. Yang kami bawa adalah light tackle untuk mancing di empang atau bandeng demikian pula popper yang kami bawa terlalu kecil ukuranya. Luas setiap rawa antara 1 sampai 2 ha dan banyak kayu (pohon2) mati ditengah tengahnya yang diperkirakan tempat ikan ikan berada. Akibatnya kami tidak bisa melontar terlalu jauh dan seringkali melambung tertiup angin. Seharusnya lebih tepat menggunakan joran popping dan popper berukuran antara 7 sampai 10 cm yang berwarna cerah (kuning atau oranye) seperti yang digunakan oleh Heri Santana dan teman-temannya.
3. Jarak yang cukup jauh dari kota Bandar Lampung (sekitar 500 km pulang pergi) dengan kondisi sebagian besar jalan yang rusak menyebabkan sulitnya perjalanan kesana. Ditambah lagi perjalanan yang harus melalui gerbang gerbang keamanan dan juga menggunakan ponton milik perusahaan, menyebabkan perjalanan ini tidak mudah bagi mereka yang tidak memiliki akses kepada bantuan khusus!
4. Untuk melakukan acara dilokasi dengan menginap disana yang akan menjadi masalah besar adalah fasilits untuk mandi dan hajat besar. Bisa saja mandi dan hajat besar disaluran air tapi bila malam hari agak khawatir bertemu ular berbisa. Sedangkan untuk memasang tenda tidak masalah karena banyak tanah datar dipinggir kebun tebu.
5. Mengingat bahwa jarak dari lokasi lokasi tersebut ke kota kecil terdekat adalah sekitar 100 km maka bekal makanan dan terutama air minum yang sangat cukup merupakan hal yang mutlak perlu.
6. Berdasarkan pengamatan tersebut maka cara yang paling lebih mudah untuk “jalan-jalan” dan bertualang kesana adalah menggunakan motor secara beramai ramai (cocok untuk rombogan Ferry Monyet yang sering melakukan trip seperti ini) diiringi oleh sebuah mobil box yang membawa semua perlengkapan dan bekal. Kendaraan roda 2 akan memudahkan untuk secara cepat berpindah lokasi memburu snake head.
7. Rute yang lebih mudah adalah masuk melalui Gerbang Perekebunan Indo Lampung yaitu berlawanan dengan rute yang kami tempuh. Jalannya sangat bagus keculai setelah masuk di area perkebunan dan tidak perlu menyebrang sungai menggunakan ponton. Barangkali teman teman Group Heri dan Didit bisa menjemput rame2 di Gerbang Indo Lampung atau memberikan kordinat dari lokasi untuk dicari dengan menggunakan GPS
Demikian informasi tentang hasil “survey” kami. mudah mudahn bermanfaat bagi para peminat. Kalau ada yang berminat mencoba lagi silahkan berhubungan langsung dengan Heri Santana dan teman2nya disana!
Last edited by The Old Man and the Sea; 05-05-2008 at 06:55.
Mengenai foto perjalanan ini, seperti telah ditulis oleh Pak Susilo (HarjonoS) saya mengalami kesialan karena kamera Canon EOS D400 saya mendadak "mati" dan sama sekali tidak bisa dipergunakan. Ada beberapa foto yang diambil menggunakan HP dan belum di down load. Tappi foto ikan snakehead dan lokasinya pernah dimuat oleh Heri Santana dalam threadnya berjudul Ikan Kamal Lampung di sub topik ini. Mudah mudahan foto foto yang aiambil oleh teman teman Heri bagus semua dan bisa di upload segera.
Salam untuk Heri Santana, Didit, Agung (Kepala Desa muda yang mbonceng saya di speda motornya ke beberapa spot), dan lain lain disana. Jangan dikuras snakeheadnya!
Selamat Pak Ruki Cs dan Heri Santana atas trip tomannya ... akan tetapi sayang sekali trip tersebut 'cukup' mendadak, padahal saya sangat ingin sekali ikut serta dalam trip. Mungkin lain kali dapat di-organize dengan lebih baik lagi .. terlebih sudah banyak peserta dari Jakarta (P'Ruki cs) yang telah datang dan mengalami sendiri kondisi medannya.
Terima kasih atas report-nya P'Ruki ... seperti biasa lengkap dan tajam.
Selamat utk Pak Ruki cs, yang sudah merasakan bagaimana fishy wild adventure, jangan kapok deh pak, walaupun belum lulus fishy wild tetapi sudah merasakan sesuatu yang berbeda yang tidak mungkin didapatkan di Jakarta, ntar 10 kali pertemuan deh baru lulus fishy wild hehehe ( JK ) . Kira-kira menurut saya nih, tomannya kemarin itu pada malas menyambar popper karena hari terlalu panas, utk jenis toman dan gabus biasanya kalo jam makannya pagi hari sekali mulai jam 6 pagi, dan sore saat matahari mulai teduh.
__________________ I LOVE INDONESIA SAVE THE EARTH UTAMAKAN KESELAMATAN, MANCING OKE JADI ENJOY FISHY WILD FORUM COMMUNITY
Terima kasih pak Ruki dan team atas sharing fishing trip ke Lampung baru-baru ini, sangat komprehensif reportnya...dan tentunya perjalanan untuk mencapai rawa/perkebunan tebu sudah memiliki tantangan tersendiri ya pak, belum lagi si toman yang rada malu-malu nyambar tackles nya pak Ruki dan teman-teman...selamat pak untuk perjalanan petualangan di kebun tebu Lampung.
pa ruki,pa susilo & cs...walaupun hasilnya terhitung boncos,tapi pengalamannya mantep.dijakarta nyari suasana seperti itu ga bakal dapat.sayang hasil canonnya juga boncos...
ngomong2 ...alex ga ikutan pak?
"Kripik..!!..Kripik..!!..ayoo..pak dijual murah..." hahahaha...
Kang ruki cs...bilang ke pak sus sekalian bawa senapan ..nembak celeng aja disana..
Walaupun hasil tdak memuaskan yg penting mah sakaw udah terobati....hehehe..
jadi kagak penasaran lagi...hehehe...kalo penasaran terus mah pasti gentayangan terus..hahaha..
Selamat untuk the old man and friend @ lampung...
Wah, akhirnya jadi juga ya, Pak Ruki wild fishing disana...
Saya minta maaf kemarin belum bisa menemani, dikarenakan waktu yang mungkin belum mendukung...
Saya baru mendapat kabar dr rekan Herman kemarin siang, bahwa Pak Ruki cs berada di lokasi untuk hunting tomman...Senang dan penasaran sekali rasanya membaca SMS dari rekan tsb...
Syukurnya mulai minggu depan saya mempunyai banyak waktu untuk surey kemana aja....Dengan catatan spot yang dituju jelas, untuk hunting tomman segera saya jadwalkan kordinasi dengan Heri Santana dan Herman..
Sekali lagi selamat buat pak Ruki, Pak Harjono, and Friends...
Memasuki musim panas ini memang harus sabar huntingnya...