Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
aloo rekans semua
mungkin pertanyaannya sulit dijawab, tetapi pasti ada rekans
yg sudah pernah mempraktekan.
mungkin juga ini rahasia tetapi saya mau minta dasarnya saja
misal suhu air agak panas di atas 25 C keasaman cukup tinggi
maka yg cocok adalah umpan yg wangi dan tanpa unsur dagingnya
(tuna, belut, dll)
itu contoh saja ya
atau kalau di laut itu ada istilah manisan kalau lama ga ujan maka
kadar garam meningkat begitu hujan maka dalam 1-2 hari ke depan
maka air dalam kondisi bagus dan ikan biasa makan lebih OK
kalau ada yg punya ilmu ini mohon saya disharing
saya akan coba berekperimen dan akan membeli alat pengukur
keasaman air (semacam kertas lakmus) jadi cek air dulu baru
menentukan menu apa hari ini
saya akan coba untuk di galatama patin atau bawal
ditunggu pencerahan rekans.
terima kasih
kalau dengan panas, hujan, mendung apa yang bpk pake
misal panas harus pake yg amis
terus mendung yg asem
hujan yg manis
boleh dong pa pencerahannya
makasih
Tolong juga dikoreksi kalau salah2 dalam rangka sharing knowledge, jenis baunya ("Penciuman") essen terdiri dari 2 kategori berbau Amis (Hewani) dan Wangi (Buah2an,..") ,
Kalau gurih, asam, manis menurut saya sih itu Kategori mengenai rasanya.
Jadinya, AMIS -> gurih, asam, manis and WANGI -> gurih, asam, manis
Total 6 Oplosan.
Hasil prakteknya, pola makan ikan tiap Kolam/Hari/Waktu nya berbeda-beda.
__________________
Don't blame Yourself for trying all those other lures
sampai sekarang saya masih ragu...
apakah ikan menggunakan indera penciuman
atau indera perasa...
soalnya beberapa referensi mengatakan...
ikan menggunakan penciuman...
jadi kalo ikan pake indera penciuman...
lupakan indera perasanya...
Tidak tujuan untuk mengurui, hanya sekedar sharing aja, Bau wangi pada umpan sepengatahuan saya, berfungsi sebagai Fish Attractant.
Praktek mancing dilapangan yg pernah saya coba, ternyata rasa juga berpengaruh. Mungkin di karenakan unsur PH air yg bisa berubah2, sifatnya bisa cenderung asam / basa.
Sejauh ini barangkali mancing ikan mas masih mystery, sehingga banyak sekali ramuan umpan yg diciptakan oleh para pemancing dan tentunya skill juga.
__________________
Don't blame Yourself for trying all those other lures
memang kalo kita mendiskusikan masalah makan ikan mas...
ga pernah ada bosan dan habisnya...
karena semua pemancing berusaha untuk meramu dan meracik umpan
sesuai kondisi dan harapannya masing2...
sehingga...
tidak ada satupun resep umpan yang dikatakan manjur dan hebat...
mudah2an para pakar galatama yang lain dapet memberikan info2 lainnya..
Saya sih tidak pernah dapat rumusan yang top dan berlaku untuk semua jenis dan kondisi kolam sehingga cara menyiasatinya adalah dengan membawa banyak jenis umpan.
Setiap kali pergi memancing, saya selalu membawa paling tidak 3 jenis umpan: Wangi, Asem, Amis. Tidak jarang pula saya membawa kombinasi dari ketiganya menggunakan bahan2 yang tidak konvensional, misalnya:
Penggunaan fanta (merah, kuning, or hijau) sebagai pengganti air
Menggunakan sirup ditambah dengan essen dengan bau serupa
Penggunaan diatas saya gunakan untuk pemancingan non-GT karena saya tidak tahu apakah di GT hal2 diatas diperbolehkan atau tidak. Kalau dilihat dari komposisinya, seharusnya sih sah-sah saja. Karena Fanta dan sirup juga menggunakan essen ditambah pemanis. Teknik di atas sangat efektif untuk menarik minat ikan memakan umpan kita.
Kalau untuk amis, saya sering menggunakan garlic dari bawang putih yang asli lalu di giling dan dicampurkan kedalam air hangat di dalam plastik kiloan lalu dipanaskan dan kemudian didinginkan kembali. Kemudian, ambil saringan dan saring ampas garlic tersebut. Amisnya tahan lama dan tidak pudar dibandingkan hanya menggunakan essen garlic. Saya rasa teknik ini juga masih sah-sah saja digunakan di GT.
1. Penggunaan fanta (merah, kuning, or hijau) sebagai pengganti air
2. Menggunakan sirup ditambah dengan essen dengan bau serupa
Kang Reza, emang seharusnya sah sah saja, cuma penggunaan fanta sebagai pengganti air, apa tidak menimbulkan masalah waktu di panaskan di kompor, soalnya fanta kan ada unsur sodanya.
Saya belum nyoba sih, kalau engga menimbulkan masalah waktu dipanaskan, nanti saya coba.
Sharing aja : Kemarin nyobain di Fishing Valley,...tanpa persiapan,...pulang order......kedi yang buat ni umpan.....
dia bilang kemarin malem ujan jadi ikan bakal bagus nih makannya...mungkin ada hubungannya.....
kalo saya pantau semua lapak dapat gak ada yang boncoz.....
jadi berdoa aja sebelum lomba malem sebelumnya ujan deras
Kang Reza, emang seharusnya sah sah saja, cuma penggunaan fanta sebagai pengganti air, apa tidak menimbulkan masalah waktu di panaskan di kompor, soalnya fanta kan ada unsur sodanya.
Saya belum nyoba sih, kalau engga menimbulkan masalah waktu dipanaskan, nanti saya coba.
Terima Kasih
Jangan langsung dipanaskan sewaktu digunakan Kang ... biasanya sih saya mencampur essen + air (dalam hal ini fanta, kadang pepsi/coca cola) kedalam plastik kiloan dan dikocok2 biar rata ...lalu plastiknya dibuka agar karbon oksidanya keluar .. didiamkan beberapa saat baru dicampur dengan sagu (kocok lagi) ... di hangatkan deh tapi plastiknya jangan tertutup biar sisa2 karbon oksidanya dapat keluar.
Sebagai alternatif, bisa menggunakan minuman rasa strawberry yang biasa diperuntukkan untuk anak2 ... rasa dan baunya kan menyengat. Saya rasa itulah yang disukai ikan, bukan soda ... Saya pakai fanta karena gampang nyarinya ... di depan rumah ada yang jualan jadi ga perlu ke supermarket buat beli bahan lain yang serupa.
Pertanyaan Kang: Kalau saya membuat essen sendiri dengan cara mengekstrak dari bahan aslinya (seperti kasus bawang putih) apakah hal ini sah digunakan dalam GT?
Wah, kalau begitu sah2 juga untuk bahan yang lainnya dong kalau diambil ekstract-nya saja, misal: jagung. Saya pernah memakai jagung manis yang dikukus lalu diblender jagung tersebut dan diambil sari jagungnya tambahkan dengan beberapa essen lainnya ... ces pleng tuh. Tapi sekali lagi penggunaan belum pernah di medan GT ... bikin ongol-ongol juga masih gagal ... kadang kekerasan kadang kelembekan, tapi tetap dimakan ma ikan ... I guess that's the point.
Selama uji coba sih, ekstrak jagung paling galak dimakan ma ikan mas cuman udah lupa penambahan essen yang lainnya .. .
plastiknya dibuka agar karbon oksidanya keluar .. didiamkan beberapa saat baru dicampur dengan sagu (kocok lagi) ... di hangatkan deh tapi plastiknya jangan tertutup biar sisa2 karbon oksidanya dapat keluar.
Oh gitu ya.., entar saya coba dah..
Quote:
Originally Posted by rdipanegara
Pertanyaan Kang: Kalau saya membuat essen sendiri dengan cara mengekstrak dari bahan aslinya (seperti kasus bawang putih) apakah hal ini sah digunakan dalam GT?
Yang penting kalau dipegang, kekenyalannya masih seperti essen biasa.
Coba kang reza pegang umpan cendil biasa, campur dulu ama pelet alus supaya bisa di pegang, rasakan kekenyalannya.
Nah kalau essen hasil ekstrak hasilnya tidak beda jauh ama yang biasa, berarti boleh.
Karena kalau udah dicampur dengan bahan lain, biasanya kalau dipegang agak lembek, ampir kaya kue atau ager.
Biasanya panitia kalau meriksa yang diliat adalah timah dan umpan, di pegang pegang tuh umpan kita, kalau kekenyalannya berubah banyak, panitia akan tau adanya bahan campuran lain.
Yang penting kalau dipegang, kekenyalannya masih seperti essen biasa.
Karena kalau udah dicampur dengan bahan lain, biasanya kalau dipegang agak lembek, ampir kaya kue atau ager.
Thank you kang .. tapi masih mo nanya lagi nih (wah jadi OOT), bukannya kekenyalan tergantung dari perbandingan komposisi fluida dan sagunya. Kalau terlalu lembek berarti sagunya kurang, kalau terlalu keras berarti fluidanya kurang ... itu kata orang lho Kang ...
Bukannya kekenyalan tergantung dari perbandingan komposisi fluida dan sagunya. Kalau terlalu lembek berarti sagunya kurang, kalau terlalu keras berarti fluidanya kurang ... itu kata orang lho Kang ...
Bukan kekenyalan seperti itu maksud saya, itumah keenceran
seperti bolu, kalau dipegang ada partikel partikel kecilnya
Kalau pake essen kan tidak ada partikel partikelnya