Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
bos sulis, owner dari mancing_ikan@yahoogroups.com bikin gue kaget malam ini dengan cerita jaman dinosaurus masih ada. ini trip mancing yang lengkap: ada danau ada laut, ada umpan hidup dan lure, membelah jawa dari utara ke selatan. ga heran si abah kasih nama tim wong edan. juga di cerita ini, ada Heru Alm segala!
dengan bekal minta ijin si penulis (padahal blon di ijinin loh hehe..), silahkan menikmati..
terus terang, gue ga tau, apa bisa klik langsung di link dibawah ini or not, kalo ga bisa, terpaksa nanti gue muat satu persatu..
---------------
Atas permintaan Mas Sony dan untuk mengenang kembali perjalanan mancing kami (Trip Jawa), saya, Opa Greg, Irwin, Kiki, Heri (rekan kiki) dari Jakarta, menemui Kyai Magelang Adi Wisaksono alias Mas Sony dan Fishing Gear Dealer from Semarang Mas Oy. Dalam perjalanan tersebut kami juga sempat dipandu oleh Indonesian Lure Maker from Gombong almarhum Heru dan rekannya Hani.
Saya sendiri sebagai penulis sudah berkali-kali baca tetap saja tertawa sendiri jika mengenang perjalanan ini.
Jadi, selamat menikmati.
Jadi... pak Irwin ini kelompok Dinosaurus jenis apa? brontosaurus apa T-Rex?....
gw masih inget kok Bos..cerita ini..., apalagi klo keingetan ada yg nanya "Bapak GW mana"
nah loh!!
gw masih inget kok Bos..cerita ini..., apalagi klo keingetan ada yg nanya "Bapak GW mana"
---
gue lupa tuh nus, pertanyaan dari siapa itu?
@=branjangan;164043] Sorry, the Server failed to retrieve the requested data[/quote]
@=Fish Finders;164050]
---
ok deh, kita mulai...
-----------------------------------
WADAS LINTANG
Kami berangkat ke Wadas Lintang, Sabtu tgl 16 Juni 2001 pukul 9 waktu
Magelang, tim 'wong edan' (julukan ini didapat dari Abah Pudjo, sang
maestro dunia mancing kita) masih lengkap saya, Sony, Opa Greg, Oy,
Kiki, Irwin dan Heri. Saat keberangkatan sebenarnya sudah sangat
kesiangan, krn hampala galaknya dipagi hari. Tp demi membayar rasa
penasaran kami, terutama saya yg belum pernah secara langsung melihat
ujud hampala ini.
Perjalanan menuju Wds lintang memakan waktu hampir 3 jam, akibat
beberapa kali berhenti utk beli perlengkapan. Setelah melewati
jalan-jalan berliku diatas gunung, sampai juga kami di pemberangkatan
perahu.
Di sana sudah menunggu Heru dan Hani, rekan mancing dr Gombong.
Setelah makan siang dgn mie ala kadarnya, perahu besar berkapasitas 20
orang itu mengangkut kami menuju hotspot yg katanya diminggu lalu tim
lain pernah strike hampala. Kami mengeluarkan umpan andalan
masing-masing, saya sendiri mencoba popper buatan sendiri yg
dikerjakan secara kilat, ternyata lumayan juga aksinya. Saya lihat
teman-teman lain sudah mulai melontarkan umpan tiruannya. Saking
nafsunya, rekan Irwin melontar umpan bersamaan dgn datangnya angin,
alhasil beliau malah strike batang pohon. Beberapa kali casting tidak
menghasil hasil, ujud si hampala belum juga terlihat. Opa Greg yg
rajin menghitung lemparan juga belum sukses. padahal hitungannya sudah
mencapai enam juta lima ratus ribu delapan ratus tiga puluh lima
lemparan ( gileeee....)
Sang suhu Sony mengajarkan kepada saya beberapa trik casting hampala,
spt arah lontaran, baca lokasi, gaya retrieving, dll tapi beliau
sendiri juga kurang sukses. Wah.... gagal maning 'Son, demikian
celoteh seorang rekan.
Pindah lagi ke hotspot Sumber Sari, yg menurut cerita BST, kawannya
strike hampala besar di sini. Tapi tim 'wong edan' masih juga kurang
beruntung. Jadi semua setuju ketika ditawarkan hotspot lainnya. Dan di
hotspot yang baru ini, semangat kami kembali menyala. Teman-teman
menyebar mencari tempat yg dianggap baik. Sayang jalan tak selamanya m
ulus, rekan Irwin tak sengaja menginjak 'lumpur hidup' yg berhasil
menyedot satu kakinya hingga terbenam sebatas dengkul,
kejebloooooossss..... sementara kami hanya terbahak-bahak, rekan Heru
justru tergerak hatinya menyuruh nakhoda perahu utk segera menolong
Irwin keluar dr jebakan lumpur. Wah, nggak bagus nih ! pindah lagi
saja.
Angin keras dan mendung mulai terlihat menaungi pegunungan, perahu
mengarah ke hotspot lain. Semangat kami belum juga padam, melontar,
melontar, melontar dan terus melontar, hingga tiba-tiba Opa Greg
berteriak ketika berhasil strike, 'foto... ayo di foto donk'
teriaknya. Dan hampala sebesar telapak tangan itu berhasil diangkat.
Beberapa wartawan freelance langsung mengabadikan, the one and only
Hampala hari itu. Hasrat saya sedikit terbayar berhasil melihat
juvenile-nya beautiful creature ini sesaat sebelum direlease kembali
ke habitatnya. Selain mancing, pemandangan di sini yang begitu indah
sangat memanjakan mata kami.
Akhirnya kami memutuskan kembali ke pemberangkatan perahu, saya
tertidur diperjalanan, sementara rekan Irwin mencoba troll rapala,
siapa tahu ada yg tertarik untuk menyambar, tapi malah tersangkut
baling-baling perahu. Untung masih dapat ditemukan, ketika perahu
mencoba bersandar di hotspot terakhir.
Sebelum pulang, tim mampir di warung utk minum. Dari obrolan-obrolan
di sana, saya mendapat masukan, kalau mau mancing hampala ini
sebaiknya saat air waduk surut. Kapan ? mulai Agustus, terbaik di
September. Dan timbul satu pikiran dibenak saya, bisakah kembali ke
sana Sepetember Nanti ?!?!?!?!?
yangmasihpenasaransamahampala
__________________
.··´¯`·.¸.·><((((º>
·.¸.·´¯`·...¸.·><((((º>
fish don't care what you paid !
Sebelum ke Korowelang, dihari Minggu tgl 17 Juni tim 'wong edan'
memutuskan mampir ke Semarang untuk mencoba tarikan Bandeng. Dari base
Magelang, kami berangkat agak siangan. Sepanjang perjalanan kami
bercerita tentang pengalaman mancing dan cerita-cerita lucu yang
membuat kami terbahak-bahak. Sopir mengarahkan mobil melewati daerah
Bandungan, yg katanya banyak kolam kecilnya. Oy sempat menunjukkan
hotspot di mana ikan 45 kg-an bersarang, ikan apa ? tebak sendiri.
Di Semarang, kami sempat mampir ke rumah Oy, beliau ini layaknya toko
berjalan saja. Saya sempat beli joran Shimano abal-abal, lumayan buat
mancing empang. Tempat yg dituju ada di pinggir areal perumahan Puri
Semarang. Di daerah rawa-rawa yg banyak tambak bandeng-nya dekat
bandara. Layaknya orang yang baru suka mancing, kami masuk ke arena.
Lokasi ini berupa tambak yang sudah disulap menjadi pemancingan
ditambah resto yang siap mengolah hasil pancingan kita. Di sana sudah
berjejer pemancing lokal, dan penikmat sajian yang berjejal di
resto-nya. Tim kebagian di tempat panas, alat mancing yg sudah
dipersiapkan mulai diturunkan. Menggunakan umpan berbahan dasar pelet
yg di ramu tape yg dibeli di situ sudah siap pakai, kami mulai
mancing. Mudahkah ? Kan ini cuma kolam kiloan ? tidak juga, karena
tingkat kesulitannya adalah dengan dipakainya kenur 2 lbs milik Soni,
kenur tipis yg dijuluki 'rambut dibelah tujuh' oleh Oy itu kami
gunakan sebagai leader. Alhasil, setelah melempar dan strike, hanya Oy
saja yg berhasil mendaratkan ikan hingga masuk ke korang. Yang lainnya
putus pada saat digentak dan di saat mengajar ikan.
Rangkaian pancing yang digunakan utk mancing bandeng, merupakan
perpaduan antara mancing berpelampung dan mancing jebluk. Ikan makan
tidak hanya didasarnya tapi kabanyakan sedikit diatas dasar tambak.
Jadi rangkaian spt mancing jebluk, dengan pemberat agak besar di ujung
lalu buat dua kumis kemudia terakhir diberi pelampung.
Namun karena kebanyakan gagal menaikkan bandeng, akhirnya diputuskan
utk mengganti leader kecil tadi, karena kita hanya mau 'fun' dan
mengejar omzet bandeng untuk sajian. Saat itulah bandeng mulai dapat
dinaikkan. Opa Greg dan Irwin kegirangan beberapa kali dapat menaikkan
bandeng. Hanya rekan Kiki saja yang kurang beruntung, mungkin karena
bandengnya sudah diancam oleh beliau jadi mereka takut makan
pancingnya Kiki. Bandeng yang kami dapat di korang sebagian secara
diam-diam kami release lagi ke tambak takut bayarnya mahal. Dan
rupanya bandeng Semarang ini memang membuat kami semua kesengsem
dengan cara makannya yang kasar dan larinya yang liar. Buktinya Irwin
menyempatkan membeli bandeng yg sudah diawetkan untuk dipajang di
rumah beliau, katanya.
Ketika ditimbang bandeng pancingan kami hanya 8 ekor dengan timbangan
seberat 1,4 kg saja. Padahal perhitungan saya tadi banyak sekali ikan
di korang, rupanya tim ini sangat konsisten dengan bag limit dan tag &
release. Tapi kami cukup puas, apalagi gorengan bandeng sangat nikmat
di mulut kami. Hhhmmmhh.
Untuk menuju Korowelang, kami mengarah ke barat ke kota Kendal.
Dari sana nanti kita mengarah ke utara ke perkampungan nelayan, saya
lupa namanya. Karena baru akan ke sana pukul 4 dini hari nanti, 'tim
wong edan' menginap di Mutiara, sebuah hotel kecil yg lumayan
digunakan sebagai tempat istirahat tidur malam ini. Selain cepek
setelah mancing bandeng juga karena capek menelusuri Simpang Lima yg
minuman STMJ-nya seharga 6 rb rph pergelasnya, padahal nggak pake
nyolek lho !?!! Sebelum tidur rekan Oy menyiapkan rangkaian pancing
untuk mancing ikan talang-talang besok pagi.
Jam 4 subuh kami start, mampir ke pasar beli perbekalan makanan.
Sampai di lokasi sekitar 5.30. Di sini kami membeli umpan berupa udang
putih hidup. Supaya tetap hidup, udang tersebut ditempatkan di wadah
berisi air dan dipasangi aerator bertenaga betere.
Dengan menggunakan dua perahu menjadikan tim ini terbagi dua, satu
kapal berisi Soni sbg team leader, Opa Greg, Kiki dan Pak Manto
(sopir) dimana tim akan memakai teknik jigging dgn umpan model jig,
hanya saja setelah dilempar kemudian di retrieve (digulung kenurnya)
secara cepat mengingat area karangnya sangat dangkal (very shallow),
di kapal lain dipimpin Oy ada Irwin, Heri dan saya. Yang akan ngoncer
pakai udang hidup. Perjalanan dari pemberangkatan perahu memakan waktu
sekitar 40 menit untuk sampai di korowelang hotspot. Tempat yg
ditandai tiang besi miring itu merupakan hamparan karang luas yg
kedalamannya sangat dangkal. Penghuninya berupa ikan-ikan karang, kue,
talang-talang, baronang dan banyak lagi macamnya. Di sana kami jumpai
pemancing lokal yang telah lebih dulu mancing dengan menggunakan
teknik cast and retrieve pakai jig. Tim Soni, Opa dan Kiki juga
mencoba teknik ini, namun belum menghasilkan ikan. Sementara tim Oy yg
pakai udang mulai pesimis karena arus saat itu lemah. Pada arus lemah
begini, umpan kami otomatis akan tenggelam dan disikat ikan karang
kecil yg ribuan jumlahnya.
Benar saja, Tim Oy kewalahan diserbu semedar yg oleh kita dikenal
sebagai baronang (rabbit fish), di tim Soni justru sang sopir yang
kebagian untung umpannya berupa udang putih hidup disambar
talang-talang. Hanya saja team leader-nya taking advantage alias
mengambil keuntungan. Dengan alasan si sopir nggak terbiasa mengajar
ikan, beliau mengambil alih mengajar talang-talang tersebut (Son
rupanya sampean butuh cadangan tangan saja ya) hingga berhasil
dinaikkan ke perahu. Walaupun sudah berkata, nanti kalau umpan
disambar biar pak Manto saja yang ngajar, tapi janji tinggal janji,
reel calcuta yang dipasang dijoran yg dipakai pak Manto kembali
dilarikan Talang-talang, lagi-lagi team leader ambil keuntungan dengan
mengambil alih mengajar ikan, tapi kali ini keuntungan buat
Talang-talang pada saat pengoperan joran, kenur menjadi kendor hingga
ikannya terlepas. Jig tim Soni kurang ampuh, padahal pemancing lokal
yang pakai jig tadi, telah berhasil mendaratkan 4 ekor Talang-talang.
Kemenangan justru ada di tim Oy, sambil bermalas-malasan rekan
Irwin memegang jorannya. Tiba-tiba ril menjerit kencang, strike ! di
ujung kenur tampak seekor Queenfish (talang-talang) melompat ke udara
berusaha melepas sangkutan kail di mulutnya. Photographer sibuk
mengabadikan momen tersebut, Irwin malah membiarkan ikan kembali
melompat-lompat ke udara, biar bisa di foto. Ikan dengan mudah dapat
diserok dan diangkat ke perahu. Saya nggak tahu apakah ikan itu
beruntung atau sial karena sebentar saja jadi model cantik yg dijepret
berkali-kali oleh kamera. Jelas tim Oy menang menang krn ukuran
Talang-talangnya lebih besar dari perolehan tim Soni.
Arus malah menjadi mati dan perahu jaring kian ganas mengganggu
lokasi, akhirnya tim Soni putar haluan membeli teri dan mancing lagi.
Mereka panen selar, saya tetap bilang itu kue krn ukurannya selarnya
lebih besar bahkan ada yg setengah kiloan. Tim Oy coba-coba ikutan
beli teri, namun saat chumming (nge-bom) pakai teri justru rombongan
semedar (baronang) yg memakannya, segera rangkaian kami ganti dengan
mata kail kecil, kami panen baronang. Lumayan, baronang di sini
tarikannya melebihi baronang dermaga (pinggiran) pada ukuran tubuh
yang sama. Bahkan sempat memutuskan kenur yang kecil, mungkin karena
gentakan saya yg kasar masih bergaya empang.
Sehabis makan siang, perut terasa kenyang, akibatnya rekan Heri
justru chumming pake umpan yg berasal dr perutnya sendiri. Oy sempat
ngomel karena yang mengapung bukan lonjoran seperti pisang tapi yang
berceceran membuat air laut menjadi kuning. Sayang momen ini nggak
sempat diabadikan. (Sorry, Her ! kata pak Greg kalau ampas loe punya
nggak bisa di rem tandanya liangnya sudah 'poh'). Sambil menunggu
arus, kenyangnya perut juga membuat pemancing tumbang alias ngantuk
dan ketiduran.
Saat terbangun arus masih jelek, tapi joran yg sedari tadi saya
biarkan, tiba-tiba menjerit ril-nya. Saya ambil joran tsb dan
mengencangkan drag, ikan melompat, seekor cendro tertancap kail,
berusaha terus melompat-lompat. Kalau kata orang Gombong ini cendro
cacing krn ukurannya cuma sekilo-an. Arus sempat bagus sesaat, sayang
kami kurang beruntung, padahal pemancing lokal lainnya yg nimbrung di
lokasi itu berhasil menaikkan beberapa talang-talang.
Jadi diputuskan untuk kembali saja ke pemberangkatan perahu untuk
bakar ikan. Perapian sudah menyala, kayu bakar dimakan api besar.
Tanpa dicuci dan dibuangi isi perutnya, hasil tangkapan kami hari itu
dilemparkan keonggokan api, namun rasa ikan bakar itu, tetap saja
nikmat. Korowelang dapat sumbangan joran Speed milik Oy yg raib entah
ke mana.
tips:maudapatbanyakjanganlupabawatangancadangan
__________________
.··´¯`·.¸.·><((((º>
·.¸.·´¯`·...¸.·><((((º>
fish don't care what you paid !
Selasa, 19 Juni, tim 'wong edan' sudah berkurang, Irwin dan Heri
sudah kembali ke Jakarta sehabis mancing di Korowelang. Sedang kami yg
tersisa beristirat di base Magelang Kembang Sari rumahnya Soni. Karena
capek dari Korowelang kemarin, bangun sudah agak siangan. Rencananya
mau ke Mrica, selepas makan siang nanti.
Perjalanan ke Waduk Mrica memakan waktu 3 jam, hingga sampai di
lokasi pukul 3 sore. Karena belum mengenal hotspot, survei lokasi
menjadi tujuan kami. Untuk masuk lokasi yang direferensi Kiki, kami
terpaksa jual nama Formasi dan KTP Opa Greg. Dengan susah payah
memanjat dan menuruni tembok penghalang lalu menempuh batu pondasi yg
disusun miring yang membuat saya dan Soni jatuh kejeblos, sampai juga
ke tepian waduk. Kiki terperangah kaget, melihat lokasi ini yang jauh
berubah dr yang pernah dikunjunginya di waktu lalu. Dulu lokasi di
sini tidak ada jaring nelayannya, tidak seperti sekarang. Jadi nggak
ada yang patut diceritakan karena nggak ada strike sama sekali kecuali
tentang Opa Greg yang selalu menghitung jumlah castingnya.
Kami kembali keparkiran saja, bertemu pak Purnomo, satpam PLN yang
menjaga pintu masuk untuk minta KTP Opa. Sambil lalu kami bertanya
tentang keberadaan hampala atau palung itu. Dan jawaban beliau sangat
mencengangkan kami. Ketika dikatakan grander-nya bisa menyamai besar
tubuhnya, begitu dikatakannya. Dan saran beliau untuk mancing palung
ini adalah saat musim memijah di saat hampala kembali ketepian untuk
kawin dan bertelur. Bulan apa pak ? Sekitar September. Sebagai
kenang-kenangan karena pak Purnomo ini memancing palung-nya pakai
udang atau ikan hidup, Opa memberinya umpan ikan tiruan dan sedikit
teknik cara pakainya.
Saat akan kembali ke Magelang, tak jauh dari lokasi waduk di pinggir
jalan besar, kami menemukan toko pancing dan perlengkapan akuarium.
Kami mampir di situ untuk beli perlengkapan ke Gombong. Di akuarium
kami melihat ikan kecil spt ikan mas yg nama lokalnya 'melem' sebesar
jempol dgn harga 200 rph perekor. Rupanya itu bukan ikan hias, tapi
bait fish atau ikan umpan. Pemilik toko biasa menggunakan ikan
tersebut untuk mancing palung. Gayung bersambut, kami bertanya tentang
palung. Dan kembali kami dapat jawaban yang mencengangkan. Kalau mau
mancing palung bukan dimusimnya, jangan ke waduk karena air sedang
naik. Sebaiknya pergi saja ke tempat pembuangan air waduk yang dari
turbin yang bermuara di Sungai Serayu. Di situ banyak palungnya.
Besar-besar ? yah, kira-kira 10-15 kg-an yg saya dapat, demikian ujar
pemilik toko tersebut. Wah, rupanya kami tadi salah alamat karena
mancing di waduknya. Entah kapan kami akan ke sana lagi membuktikan
omongan penduduk lokal di sekitar Mrica.
tips:malubertanyasesatdijalan
__________________
.··´¯`·.¸.·><((((º>
·.¸.·´¯`·...¸.·><((((º>
fish don't care what you paid !
Rencana ke Gombong diundur hingga keberangkatan sore hari, kami butuh
menjelajah Magelang untuk ke Warnet, wartel, bengkel dan ke toko
pancing. Di toko pancing kami membeli peralatan yg kurang buat ke
Gombong. Pukul 3 sore Rabu 20 Juni itu kami berangkat menuju Gombong.
Sebelum ke pantai Ayah, menjemput Heru dan Hani yg sudah mengenal
betul lokasi. Ngobrol soal mancing dan cara pembuatan umpan tiruan
sampai pukul 9, baru setelah itu ke lokasi. Di sana kami menginap di
beach house temannya Heru. Oy dan Kiki merangkai Rigging untuk
persiapan trolling. Angin terasa dingin dan bertiup keras, deru ombak
yang memecah menghantam barrier pantai terdengar keras. Kondisi ini
tak memungkinkan untuk dilakukan trolling besok, jadi kami akan
casting dari atas karang saja.
Esoknya hari Kamis 21 Juni, kami berangkat ke karang (sorry namanya
lupa, kalo nggak salah pelawangan). Dari parkiran mobil di sekitar
rumah penduduk, kami menuju arah pantai dipandu Heru dan Hani, dua
ratus meter pertama jalannya landai menembus perkebunan tapi
selanjutnya kami menemui jalan turun yang curam-nya nyaris 90 derajat.
Dengan merambat dan berpegang pepohonan, turunan itu berhasil dilalui.
Kami semua mencapai karang dengan selamat, kecuali Soni yang
menyumbang satu liter Aqua ke dalam jurang.
Heru agak ragu ketika melihat keruhnya air, tapi demi menambah
semangat kami. Dikaitkannya umpan ikan belanak ke rangkaian pancing
tunggal ala konceran, kami semua meniru cara tersebut. Sedang Hani
memasang meteor berwarna putih yang telah menghasilkan mbaleng atau
kuro seberat 3.5 kg-an di sore kemarin oleh Heru. Tak lebih dari dua
jam di sana, diputuskan untuk kembali saja karena air tetap keruh.
Saat pulang jadi siksaan buat saya, Kiki dan Oy, beban yang kami bawa
menambah beratnya medan saat kami menanjak. Bertiga bagai kehabisan
nafas saja. Sungguh medan yang sangat berat.
Opa Greg sudah memutuskan kembali ke Jakarta sore nanti, jadi sebelum
pulang beliau mengarah ke Karang Manganti. Mobil bergerak menanjak dan
turun secara curam dan berliku-liku. Namun mendekati lokasi, kami
disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Memandang laut, pegunungan
dan karang dari puncak ketinggian. Sempat terpikir oleh saya mungkin
inilah mancing spektakuler yang saya dambakan sebelum keberangkatan ke
Gombong ini. Jepretan kamera akan menjadikan perjalanan ini menjadi
sebuah kenangan.
Karena Oy, Kiki dan saya masih penasaran untuk turun trolling, kami
bertiga sepakat turun bila cuaca memungkinkan. Soni mengantar Opa ke
Jogja yang pulang menggunakan KA. Opa sempat menyambar Milward yang
diincar Oy untuk diboyong ke Jakarta.
Jumat 22 Juni pukul 7, saya, Oy, Kiki dan Hani dinakhodai Waris
bertolak ke tengah. Di pintu muara ke arah pantai, gelombang yang
menghantam karang bawah laut naik hingga 2 meteran membuat nyiut
nyali. Dengan sabar nakhoda memajumundurkan kapal menunggu timing yang
tepat, resiko perahu terbalik sangat mungkin terjadi jika menyongsong
ombak besar pada saat melengkung naik. Perahu sempat mendapat ombak
besar dan naik ke pucuk ombak dan terhempas kembali dengan keras.
Jantung serasa berhenti sesaat namun setelah itu ngebut ke tengah
mencari air yang bening. Hani memasang dua rapala di formasi terjauh
dan satu rapala dan kona di formasi selanjutnya. Perahu terus mengarah
ke tengah. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan ikan, dan tak lama
kemudian laut mulai nggak bersahabat. Nakhoda mengajak kami kembali
karena cuaca tidak memungkinkan. Dalam perjalanan pulang dengan joran
tetap pada tempatnya, joran Oy dgn ril VS-nya melentik tajam
melengkung dan tesssss.... putus. Jauh di belakang tampak ikan
berparuh panjang melompat berusaha melepas rapala. Cendro itu melesat
ke udara dua kali utk kemudian membawa lari rapala orange ke dalam
lautan. Rupanya braided VS-nya Oy tertanam di dasar penggulung
sehingga membuat drag menjadi macet.
Perjalanan ini akhirnya hanya dipakai mengabadikan pemandangan tebing
karang dari laut. Sungguh pemandangan indah yang jarang ditemui di
tempat lain. Dan baik Heru, Hani dan nelayan setempat menyarankan
kepada kami untuk kembali mancing pada saat musim jabrik. Kapan ????
Lagi-lagi September.
tipsreparationisthekeytosuccess
__________________
.··´¯`·.¸.·><((((º>
·.¸.·´¯`·...¸.·><((((º>
fish don't care what you paid !
Di hari kepulangan ke Jakarta, Sabtu 23 Juni, saya, Kiki dan Soni
menuju Muntilan mampir di Tirto Aji, Oy sudah pulang ke Semarang Jumat
malam. Di situ ada pemancingan "H-W" yang biasa mengadakan galatama
harian dan lomba mancing ikan mas. Sayang saat itu masih pagi hari,
galatama diadakan baru pada pukul 3 sore. Jadi di situ, kami menemui
penjaga empang dan bertanya soal galatama.
Yang unik adalah penggunaan joran bambu yang disambung fiber dan
kelosan, jadi tanpa ril penggulung. Lebar kolam hanya sekitar 6
meteran, jadi menurut mereka penggunaan ril malah memperlama fight.
Rangkaian pancing yg dipergunakan memakai pelampung kecil sebesar
kacang tanah dengan rangkaian kail tunggal berpemberat kecil dr
lempengan timah yg digulung. Penggunaan kail tuunggal mutlak
dipergunakan, krn kalau dua atau tiga pemancing cenderung menggaet
ikan. Saya setuju kalau rangkaian berkail tunggal ini sangat efektif
karena sangat peka mendeteksi gigitan ikan mas yang halus.
Hal lain yg unik adalah umpannya; untuk bom masih sama spt di Jakarta,
umpan tersebut berasal dari benang yang digubet atau dilingkarkan
berkali-kali kemudian diikat ke kail. Bisa juga memakai kapas cotton
bud. Saya jadi teringat cerita rekan Budi Santoso di Purwokerto yg
galatamanya menggunakan umpan benang. Kali ini saya melihatnya
sendiri.
Dan atas kebaikan si penjaga, saya dan Kiki diperkenankan mencoba
umpan benang tersebut. Tapi karena nggak pakai bom, agak lama umpan
dimakan. Baru beberapa menit kemudian tampak pelampung turun naik,
tap, joran disentak, seekor ikan mas tampak melawan, dan kail menancap
di bagian dalam mulut ikan. Artinya umpan dimakan. Strike kedua, kail
menancap di mulut bagian luar.
Saya berkesimpulan sebenarnya ikan lebih memilih bom yg berserakan di
dasar umpan dan kail berumpan benang tersedot ikan tanpa sengaja. Dan
walaupun ikan sengaja menyedotnya, pasti disangka butiran pelet bom yg
memang mirip umpan dr benang itu. Kali ini lagi-lagi umpan tiruan
terbukti mampu mengecoh ikan.
tips:infolokalsangatpentingsekali
---
gitu deh, semuanya di cut-paste dari aslinya.. thanks buat Sulis, my old man from the past...
__________________
.··´¯`·.¸.·><((((º>
·.¸.·´¯`·...¸.·><((((º>
fish don't care what you paid !
Top banget ceritanya...
kapan2 kalo ada trip kaya begituan lagi ajakin gue donk...
bandeng di puri itu memang enak mancingnya kalo di lepas2 in juga yang punya kolam cuek aja, pernah cobain arisan di kampung laut kaya semacam galatama gitu, bandengnya gede2 yang paling kecil 1kiloan, ada yang sampe 2,8 kilo tariaknnya luarr biasaa...