Saat ini anda mengakses FishyForum sebagai guest/tamu. Sebagai tamu, anda tidak dapat melihat foto dan juga tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi. Dengan melakukan registrasi gratis anda dapat melakukannnya dan banyak hal lagi. Registrasi dapat dilakukan dengan mudah, sederhana dan bebas biaya, jadi, klik disini untuk bergabung dengan FishyForum sekarang!
You are currently viewing our boards as a guest which gives you limited access to view most discussions and access our other features. By joining our free community you will have access to post topics, communicate privately with other members (PM), respond to polls, upload content and access many other special features. Registration is fast, simple and absolutely free so please, join our community today!
If you have any problems with the registration process or your account login, please contact contact us.
Iseng-iseng saya pesen bandeng crsipy di Restoran Tanjung Pasir Resort di Tanjung Pasir Tanggerang. Kata Om Jack, bandeng crispynya enak sekali dan saya membayangkan makan bandeng seger dari tambak Tj.Pasir resort, serta udang vannamae yang seger buger.....
Tapi apa nyana....bandengnya bukannya crispy tapi keras kaya kayu dan udangnya..boro-boro udang seger, itu udang mungkin udah di frezeer lebih dari sebulan kali....
Pesen makanan luaaaama sekali , datang jam satu siang, habis dari empang Amid, langsung pesen makanan, datangnya jam 2.00, satu jam bok....padahal tamu restoran tidak begitu rame, paling hanya ada 5 meja rata2 empat orang....
Beda waktu di jimbaran bali, pesen udang yang masih menari-nari di aquarium, ikan kue dan kepiting, tidak lebih 30 menit, udah dateng tuh pesenan.....uenak bukan main...
Kayaknya setelah kedatangan Om Jack, belum ada perubahan dalam hal service...kualitas makanan semakin turun....sayang....
__________________
Engkaulah perahuku dimana aku selalu rajin mendayung
Itu amat sangat perlu disayangkan sekali, ya, Pak!
Nampaknya manajemen rumah makan di sebagian rumah makan di Indonesia ini masih kurang bagus. Manajemen rumah makan ini kan termasuk manajemen bahan makanan yang akan dipakai.
Dulu saya juga ada pengalaman yang mungkin tidak akan terlupa seumur hidup. Saya waktu itu ke Parang Tritis, Yogyakarta dengan pacar saya, orang Jepang (sekarang dah jadi istri saya ). Karena kami tidak tau mana rumah makan yang enak, kami masuk ke sebuah rumah makan yang agak ramai. Pikir kami, mestinya kalau rami itu makanannya lumayan, lah! Karena lapar, tanpa banyak tanya dan pikir, kami pesan soto ayam. Cukup cepat datangnya makanan. Tapi begitu kami sentuh, soto ayam itu nggak panas, cuman hangat. Mau komplain, kok lagi saya yayang! Ya, udah cuek aja, saya makan! Alamak, rasanya sih biasa, tapi ada aroma yang kurang enak. Pas saya coba makan daging ayamnya, saya (maaf) hampir muntah! Itu pertama kali saya makan ayam busuk! Saya lihat pacar saya, tanpa omong apa-apa dia makan terus. Saya benernya heran, tapi cuek aja lah, siapa tau punya dia rasanya enak...
Pas udah kejadian itu, saya sebenarnya sudah lupa sama insiden "ayam busuk" itu, tapi pacar saya yang menolak kalau saya ajak makan soto ayam yang adalah kegemaran saya, membuat saya ingin tahu alasannya. Pas saya tanya, dia bilang dia tidak suka soto ayam, karena tidak enak. Rasa dagingnya seperti daging busuk! Blaik, jadilah kami curhat, kalau dulu di Parang Tritis itu sebenarnya dia merasa tidak enak, tapi karena baru "nge-date" dia paksa makan juga karena dia tau itu makanan kesukaan saya. Kasihan sekali! Untung dia tidak kapok makan soto ayam, sebab setelah itu, saya yakinkan dia kalau soto ayam yang dulu itu emang tidak enak, dan saya bawa dia ke warung soto ayam langganan saya di Kotagede, baru dia bilang enak, dan sampai sekarang, tiap kami ke Yogya, kami pasti makan soto ayam di langganan saya dan terus cerita ttg soto ayam busuk di Parang Tritis itu.
Nah, gitulah rumah makan yang manajemennya jelek. Bahan makanan yang mau disajikan itu bisa jadi sudah disimpan lama, tapi karena kalau dibuang begitu saja dia pikir dia rugi, ya dia pakai terus. Padahal, begitu pelanggan / tamu kena makanan yang basi, seumur hidup mungkin dia tidak akan makan ke situ lagi. Itu kan rugi besar buat dia. Tapi hal seperti itu nampaknya belum sempat terpikir oleh mereka. Belum lagi cerita dari mulut ke mulut ttg kualitas restoran itu.
Emang patut disayangkan, tapi ya.... mau gimana lagi....
wah...pacar yang setia...jadi istri pula sekarang....
jarang loh ada pacar yg seperti itu...baru pertama nge date..dapet pengalaman buruk...tapi menghormati perasaan pasangannya. Kalo cewek lain mungkin udah di "tuang" tuh soto di muka kita.." makan tuh!!" abis itu putus...
Bravooo....
Itu amat sangat perlu disayangkan sekali, ya, Pak!
Nampaknya manajemen rumah makan di sebagian rumah makan di Indonesia ini masih kurang bagus. Manajemen rumah makan ini kan termasuk manajemen bahan makanan yang akan dipakai.
Dulu saya juga ada pengalaman yang mungkin tidak akan terlupa seumur hidup. Saya waktu itu ke Parang Tritis, Yogyakarta dengan pacar saya, orang Jepang (sekarang dah jadi istri saya ). Karena kami tidak tau mana rumah makan yang enak, kami masuk ke sebuah rumah makan yang agak ramai. Pikir kami, mestinya kalau rami itu makanannya lumayan, lah! Karena lapar, tanpa banyak tanya dan pikir, kami pesan soto ayam. Cukup cepat datangnya makanan. Tapi begitu kami sentuh, soto ayam itu nggak panas, cuman hangat. Mau komplain, kok lagi saya yayang! Ya, udah cuek aja, saya makan! Alamak, rasanya sih biasa, tapi ada aroma yang kurang enak. Pas saya coba makan daging ayamnya, saya (maaf) hampir muntah! Itu pertama kali saya makan ayam busuk! Saya lihat pacar saya, tanpa omong apa-apa dia makan terus. Saya benernya heran, tapi cuek aja lah, siapa tau punya dia rasanya enak...
Pas udah kejadian itu, saya sebenarnya sudah lupa sama insiden "ayam busuk" itu, tapi pacar saya yang menolak kalau saya ajak makan soto ayam yang adalah kegemaran saya, membuat saya ingin tahu alasannya. Pas saya tanya, dia bilang dia tidak suka soto ayam, karena tidak enak. Rasa dagingnya seperti daging busuk! Blaik, jadilah kami curhat, kalau dulu di Parang Tritis itu sebenarnya dia merasa tidak enak, tapi karena baru "nge-date" dia paksa makan juga karena dia tau itu makanan kesukaan saya. Kasihan sekali! Untung dia tidak kapok makan soto ayam, sebab setelah itu, saya yakinkan dia kalau soto ayam yang dulu itu emang tidak enak, dan saya bawa dia ke warung soto ayam langganan saya di Kotagede, baru dia bilang enak, dan sampai sekarang, tiap kami ke Yogya, kami pasti makan soto ayam di langganan saya dan terus cerita ttg soto ayam busuk di Parang Tritis itu.
Nah, gitulah rumah makan yang manajemennya jelek. Bahan makanan yang mau disajikan itu bisa jadi sudah disimpan lama, tapi karena kalau dibuang begitu saja dia pikir dia rugi, ya dia pakai terus. Padahal, begitu pelanggan / tamu kena makanan yang basi, seumur hidup mungkin dia tidak akan makan ke situ lagi. Itu kan rugi besar buat dia. Tapi hal seperti itu nampaknya belum sempat terpikir oleh mereka. Belum lagi cerita dari mulut ke mulut ttg kualitas restoran itu.
Emang patut disayangkan, tapi ya.... mau gimana lagi....
Om2 sekalian, sedikit ikutan nimbrung nich ya om... Ini sharing berdasarkan pengalaman aja sich niiich....
Saya prihatin banget baca kejadian yang om Ronaldo dan om Bowo alamin itu.
Kebetulan seumur hidup saya kerja, saya ini nasibnya jadi kuli dapur yang urusannya ngurusin makanan baik di hotel, resto ataupun catering service terus. ( abis mau jadi menteri belum ada yang nyalonin...hehehe )
Disitu saya jadi tau bahwa orang kalau mau buka usaha jasa pengolahan makanan, kadang gak segampang yang dibayangkan.
Banyak sekali orang yang karena mau mengejar keuntungan yang berlimpah, tapi mereka mengorbankan masalah kualitas...baik itu kualitas bahan bakunya, kualitas hasil masakannya ataupun kualitas dari alat2 penunjangnya.
Kalau menurut pendapat saya, kejadian yang menimpa om Ronaldo itu karena disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya seperti si resto itu bermasalah dengan preparation untuk pre cook item nya ( bahan2 makanan yang belum dimasak ). Hal ini banyak terjadi dengan resto2 yang justru gak terlalu rame pengunjung / turn over pengunjungnya rendah.
Karena yang makan gak banyak / turn overnya sedikit, kadang mereka suka bingung mau prepare berapa banyak bahan2 yang akan disajikan.
Akhirnya mereka cuma prepare sedikit dengan alasan takut kalau prepare banyak2 nanti bahan2 makanannya rusak kalau gak laku dijual hari itu. Walaupun mereka sebenernya punya stock, tetapi biasanya bahan2 makanan itu masih berupa bahan makanan utuhan yang belum di potong2 ( atau bahkan untuk daging2an/ikan2an masih beku ), sehingga saat ada order, mereka butuh waktu untuk proses pemotongan dan pemorsian.
Bandeng "rasa kayu" yang mereka sajikan itu kalau menurut analisa saya kemungkinan besar karena si bandeng itu masih frozen alias beku tapi tetap dipaksa berenang diminyak. Yang ada akhirnya tekstur daging banding itu jadi kacau.
Terus faktor lain biasanya mereka ada masalah dengan jumlah alat2 yang ada di dapur. Saya dulu sempet jadi konsultan salah satu resto yang dikelola dengan system family bussines, yang karena mereka tidak mau mengeluarkan anggaran untuk beli kompor2 yang layak pakai, akhirnya setiap kali ada orderan agak banyak, cook / tukang masaknya harus antri pakai kompor... Ini bener2 kejadian yang sangat mengesalkan... Dampaknya adalah pernah terjadi tamu yang memesan nasi goreng 2 porsi, baru bisa disajikan setelah menunggu hampir 1 jam.
Terus kalau kejadian yang om Bowo alamin, itu bener2 parah tuch.
Tanpa maksud mendiskreditkan warung2 makan ukuran rumah tangga, kadang ada warung2 makan yang agak2 nakal ( kadang lho ya om...tidak semuanya...).
Kalau soto hari ini gak habis di konsumsi, ayamnya disimpan di lemari es lagi untuk di konsumsi pada hari berikutnya.
Sebenernya sich kalau mengikuti aturan HACCP ( Hazard Analysis Critical Control Point )...semacam sertifikasi ISO di dunia makanan, hal ini tidak dibenarkan. Biasanya sumber keracunan makanan sering terjadi pada point ini.
Tapi dengan skala ukuran bisnis rumah tangga hal ini kadang memberatkan juga.
Jalan satu2nya adalah kalau memang mau menyimpan makanan yang sudah diolah / dimasak, makanan tersebut harus di kemas dalam kemasan kedap udara sehingga tidak terkontaminasi dengan bahan makanan lainnya dan disimpan di ruangan pendingin yang bersuhu maksimal 10'C.
Jadi kalau pas om Bowo makan terus rasa ayamnya berasa jengkol..hehehe, ada kemungkinan tuch ayam nyerap bau2an dari bahan lain di dalam lemari es. Atau lebih parah lagi si lemari es itu suhunya udah gak bener.
Terus sering sekali kita denger untuk memperoleh keuntungan yang berlipat2, warung makan yang nakal kadang mempergunakan ayam tiren ( ayam yang mati kemarin ) alias ayam bangkai yang harusnya hanya layak di konsumsi oleh buaya di kebun binatang atau di tempat penangkaran.
Ini parah banget nich...but it's true... Udah kejadian di beberapa daerah nich.
Tapi yang saya salut adalah ternyata perut om Bowo dan istri om Bowo termasuk "handal" juga ya? hahahaha... Biasanya makanan yang rasanya udah mencurigakan dimulut akan berdampak penolakan pada perut yang diawali dengan rasa mual2, sakit perut, muntah2 sampai bolak - balik "down load" ke toilet alias diare...hahaha....
Jadi kembali pada pokok permasalahannya, emang untuk mengelola resto itu dibutuhkan management dapur dan service yang baik guna menghasilkan kepuasan pelanggan.
Taaapi....walaupun saya udah ngecap seperti giniii...kalau saya makan di suatu tempat terus makanannya keluarnya laaamaaa bgt...saya paling hanya bisa mengelus dada....gak berani complaint....abis takut kualat...lha wong kita sama2 bergerak di jasa pengolahan makanan...wakakakak.....
__________________
masak iyaaa....mancing juga iya...
pengalaman baru2 ini soal komplen makanan resto waktu makan steamboat. tempatnya lumayan terbuka, harganya juga ga terlalu mahal lah buat ukuran mahasiswa. but yang ngeselin itu waktu ngaduk2 gw nemu PUNTUNG ROKOK. pas gw komplen ke tukang masaknya, mukanya langsung pucat gitu. trus gw bilang ke dia, tolong ambilin panci dan sup baru donk, kita tetep makan deh..
trus dianya nyeletuk dengan nada agak tinggi: "yang ini(yg ada puntung rokok) ga mau lagi?".....
pengalaman baru2 ini soal komplen makanan resto waktu makan steamboat. tempatnya lumayan terbuka, harganya juga ga terlalu mahal lah buat ukuran mahasiswa. but yang ngeselin itu waktu ngaduk2 gw nemu PUNTUNG ROKOK. pas gw komplen ke tukang masaknya, mukanya langsung pucat gitu. trus gw bilang ke dia, tolong ambilin panci dan sup baru donk, kita tetep makan deh..
trus dianya nyeletuk dengan nada agak tinggi: "yang ini(yg ada puntung rokok) ga mau lagi?".....
Mas Henky...seumur2 saya kerja di industri makanan, belum pernah saya denger kejadian gini. Bener2 parah banget tuch mas.
Kalau rambut selembar dua lembar, masih seringlah...kalau lalat or piece of kecoa, pernah tau juga ( malah 11 tahun yang lalu saya sempet mandi soup gara2 disiram tamu yang complaint berat gara2 ada lalat di soupnya...hehehe )...isi staples juga pernah ngeliat...tapi kalau puntung rokok...bener2 kebangetan tuch restonya.
Kalau udah gini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tingkat hygiene dan sanitasi si resto itu sangat rendah.
Boro2 mewajibkan cook/tukang masaknya pake topi/hairnet ( biar rambut gak terjun bebas ke makanan), kemungkinan para tukang masaknya boleh masak sambil ngerokok tuch jangan2....makanya bisa sampe ada puntung rokok di dalam soup.
Udah gitu khan puntung rokok itu ngambang kalau di air? Masa mereka gak ngeliat sich? Gila bener....
Kalau udah gitu, gak kebayang gimana kotornya tuch dapur resto itu...
Kalau untuk beberapa hal2 tertentu emang kadang kita suka mendengar istilah uang gak pernah bo'ong...dalam artian kalau harganya murah, ya kualitasnya juga rendah...tapi kalau untuk makanan saya rasa agak2 gak bisa di tolerir ya ini. Masalahnya ini khan sesuatu yang kita makan dan masuk ke dalam perut kita. Minimal walaupun rasa makanannya YPK ( Yang Penting Kenyang...hehehe.. ), tapi kalau untuk urusan kebersihan makanan yang disajikan khan gak bisa ditawar2 lagi.
Bukan berarti karena harganya murah terus boleh dapet bonus puntung rokok khan? hehehe....
__________________
masak iyaaa....mancing juga iya...
Mas Henky...seumur2 saya kerja di industri makanan, belum pernah saya denger kejadian gini. Bener2 parah banget tuch mas.
Kalau rambut selembar dua lembar, masih seringlah...kalau lalat or piece of kecoa, pernah tau juga ( malah 11 tahun yang lalu saya sempet mandi soup gara2 disiram tamu yang complaint berat gara2 ada lalat di soupnya...hehehe )...isi staples juga pernah ngeliat...tapi kalau puntung rokok...bener2 kebangetan tuch restonya.
Kalau udah gini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tingkat hygiene dan sanitasi si resto itu sangat rendah.
Boro2 mewajibkan cook/tukang masaknya pake topi/hairnet ( biar rambut gak terjun bebas ke makanan), kemungkinan para tukang masaknya boleh masak sambil ngerokok tuch jangan2....makanya bisa sampe ada puntung rokok di dalam soup.
Udah gitu khan puntung rokok itu ngambang kalau di air? Masa mereka gak ngeliat sich? Gila bener....
Kalau udah gitu, gak kebayang gimana kotornya tuch dapur resto itu...
Kalau untuk beberapa hal2 tertentu emang kadang kita suka mendengar istilah uang gak pernah bo'ong...dalam artian kalau harganya murah, ya kualitasnya juga rendah...tapi kalau untuk makanan saya rasa agak2 gak bisa di tolerir ya ini. Masalahnya ini khan sesuatu yang kita makan dan masuk ke dalam perut kita. Minimal walaupun rasa makanannya YPK ( Yang Penting Kenyang...hehehe.. ), tapi kalau untuk urusan kebersihan makanan yang disajikan khan gak bisa ditawar2 lagi.
Bukan berarti karena harganya murah terus boleh dapet bonus puntung rokok khan? hehehe....
waduh kebangetan tamunya, udah capek2 dihidangin malah disiram... ga tau etika apa?seenaknya mempermalukan orang kaya gitu.
waduh kebangetan tamunya, udah capek2 dihidangin malah disiram... ga tau etika apa?seenaknya mempermalukan orang kaya gitu.
Hehehe...itung2 pengalaman mas... Ya gitu dech suka dukanya kerja di industri jasa... kadang susah susah gampang...Yang namanya kepuasan tiap2 orang itu khan beda2...hehehe
__________________
masak iyaaa....mancing juga iya...
nih saya ada pengalaman makan di tamani express di puri mall...waktu itu jam 9an malam.
saya ber dua istri...pesen steak & cordon bleu dll...pas dipotong ayamnya mentah,masih berlendir...dan agak bau..istri saya langsung complain ke pelayan,tapi pelayan itu cuma diem...saya minta untuk mengganti,pelayan itu tetap diem sambil pergi.bisik2 di deket kasir,eh beberapa orang malah ikut cemberut sambil ngeliat ke arah kami.
dateng makanan pengganti,agak gosong!
ga jadi makan,kami ke kasir,sambil bayar..sengaja saya tunggu reaksi mereka..hebatnya,tanpa minta maaf sedikitpun!
saya minta ketemu manager,tanpa basabasi katanya udah pulang..
ok saya minta dihubungi oleh manager besoknya.besoknya siang2 ada yang telp ngaku manager tamani,tapi koq gaya ngomongnya agak bloon..setelah saya tanya detail,ternyata hanya pelayan yang ngaku manager...! hebatnya,mereka menawarkan "complimen" akan melayani kami yang lebih baik kalo saya berkunjung lagi,ckckck,ga ada malunya,dimana tanggung jawabnya.
intinya saya hanya peringatkan mereka,
gimana akibatnya kalo ada virus flu burung tercemar pada ayam itu plus gimana cara minta maaf yang benar..
Satu contoh case lain,saya dan tamu sedang makan daging panggang di restoran korea,selesai makan kami minta bon,tiba2 mati lampu...5menit kemudian kami & semua tamu2 direstoran itu didatangi managernya dan dibebaskan dari pembayaran,sambil mereka semua minta maaf atas kejadian itu..padahal kalo dihitung2 bon kami aja sekitar 1juta...ckckck,bukan soal uangnya,tanggung jawabnya itu loh.
nih saya ada pengalaman makan di tamani express di puri mall...waktu itu jam 9an malam.
saya ber dua istri...pesen steak & cordon bleu dll...pas dipotong ayamnya mentah,masih berlendir...dan agak bau..istri saya langsung complain ke pelayan,tapi pelayan itu cuma diem...saya minta untuk mengganti,pelayan itu tetap diem sambil pergi.bisik2 di deket kasir,eh beberapa orang malah ikut cemberut sambil ngeliat ke arah kami.
dateng makanan pengganti,agak gosong!
ga jadi makan,kami ke kasir,sambil bayar..sengaja saya tunggu reaksi mereka..hebatnya,tanpa minta maaf sedikitpun!
saya minta ketemu manager,tanpa basabasi katanya udah pulang..
ok saya minta dihubungi oleh manager besoknya.besoknya siang2 ada yang telp ngaku manager tamani,tapi koq gaya ngomongnya agak bloon..setelah saya tanya detail,ternyata hanya pelayan yang ngaku manager...! hebatnya,mereka menawarkan "complimen" akan melayani kami yang lebih baik kalo saya berkunjung lagi,ckckck,ga ada malunya,dimana tanggung jawabnya.
intinya saya hanya peringatkan mereka,
gimana akibatnya kalo ada virus flu burung tercemar pada ayam itu plus gimana cara minta maaf yang benar..
Satu contoh case lain,saya dan tamu sedang makan daging panggang di restoran korea,selesai makan kami minta bon,tiba2 mati lampu...5menit kemudian kami & semua tamu2 direstoran itu didatangi managernya dan dibebaskan dari pembayaran,sambil mereka semua minta maaf atas kejadian itu..padahal kalo dihitung2 bon kami aja sekitar 1juta...ckckck,bukan soal uangnya,tanggung jawabnya itu loh.
Whaaa...mas Wer....kalau itu sich asli tuch si ayam yang untuk chicken cordon bleu langsung disuruh terjun bebas dari freezer ke minyak panas tuch... Udah gitu minyaknya kepanasan. Makanya pas bagian luarnya udah coklat / matang, dalemnya masih mentah... Parah banget tuch mereka ngontrol kualitas hasil masakannya.
Emang penyakitnya resto2 kita itu gitu tuch...jaaarang banget yang mau nanggepin complaint dengan bener ( ada juga sich yang sangat koopeeratif dengan complaint...tapi lebih banyak yang "ngambek" kalau terima complaint ). Apalagi kalau yang complaint orang kita...mereka kesannya seperti di kerja'in ama tamunya.
Tapi coba dech kalau yang complaint orang bule atau expat...duuuuuh.... langsung dech tertunduk2 kayak mau nyembah2 aja...Bener2 ngeselin. Ini pernah saya alamin sendiri nich.
Mungkin sedikit saran untuk temen2 yang lain, kalau seandainya makan di suatu tempat ( apalagi seperti hotel berbintang, resto atau cafe yang udah punya nama ) dan memukan hal2 yang aneh dengan makanannya, kalau kebetulan lagi megang camdig atau ada camera di HP nya, di dokumentasikan aja mas.
Jadi saat nanti kita complaint dan keluhan kita tidak di tanggapi dengan baik, "barang bukti" berupa photo itu bisa di email kemana2, biar orang pada tau gimana kualitas resto itu. Atau di email ke saya, nanti saya bisa forward ke milis2 alumni sekolah2 perhotelan yang lulusannya banyak menjadi "key position" di hotel & resto di indonesia ini.
Dengan demikian di harapkan para manager dari resto atau cafe yang udah membuat kita kecewa itu dapat membacanya, dan akan mengambil tindakan yang cukup positif untuk menjaga nama baik resto atau cafe mereka.
__________________
masak iyaaa....mancing juga iya...
Mungkin sedikit saran untuk temen2 yang lain, kalau seandainya makan di suatu tempat ( apalagi seperti hotel berbintang, resto atau cafe yang udah punya nama ) dan memukan hal2 yang aneh dengan makanannya, kalau kebetulan lagi megang camdig atau ada camera di HP nya, di dokumentasikan aja mas.
Jadi saat nanti kita complaint dan keluhan kita tidak di tanggapi dengan baik, "barang bukti" berupa photo itu bisa di email kemana2, biar orang pada tau gimana kualitas resto itu. Atau di email ke saya, nanti saya bisa forward ke milis2 alumni sekolah2 perhotelan yang lulusannya banyak menjadi "key position" di hotel & resto di indonesia ini.
Dengan demikian di harapkan para manager dari resto atau cafe yang udah membuat kita kecewa itu dapat membacanya, dan akan mengambil tindakan yang cukup positif untuk menjaga nama baik resto atau cafe mereka.
Em, emang sih kalau kita mau complain, emang kudu dan mesti ada buktinya, entah itu foto atau apa gitu....
Tapi, kita juga kudu mesti ekstra hati-hati, karena kita idup di Indonesia (saya ndak termasuk, ding ). Maksud saya, dengan tanpa ingin merendahkan kondisi bangsa dan negara sendiri, di Indonesia itu segala sesuatu bisa diputarbalikan dengan uang!
Kita komplain hari ini, bisa jadi besok pagi kita jadi terdakwa dengan tuduhan "berusaha mencemarkan nama baik". Mungkin hal ini juga yang membuat sebagian orang malas complain dan sebagian pengelola rumah makan jadi merasa di atas angin.
Kalau kita mau ngotot-ngototan komplain, kita mesti siap bener baik waktu, tenaga, pikiran dan mungkin juga uang, siapa tahu fakta berubah drastis.
Ya, jadi bingung, tapi itulah fakta lapangan di Indonesia, dan mungkin juga di banyak negara lainnya. Dalam hal ini, saya beruntung tinggal di negara yang cukup bagus sistem hukumnya dan juga sistem pelayanannya, meski warga negaranya sikapnya dingin terhadap orang diluar kelompoknya.... (lihat thread sebelah, takdir atau kebetulan... )
Em, emang sih kalau kita mau complain, emang kudu dan mesti ada buktinya, entah itu foto atau apa gitu....
Dalam hal ini, saya beruntung tinggal di negara yang cukup bagus sistem hukumnya dan juga sistem pelayanannya, meski warga negaranya sikapnya dingin terhadap orang diluar kelompoknya....
foto sih ada,tapi udah lah,mereka udah telp berkali2 minta maaf(setelah dikritik,koq ga ada inisiatif minta maaf)
sebenarnya ada pikiran mau di masukin suara pembaca kompas,soalnya ini menyangkut kesehatan & keselamatan orang banyak...jangan sampe ada korban lain.jadiin pengalaman aja..sekarang di mall manapun,kalo liat tulisan "Tamani"..jadi agak mules
Kalo Tamani sudah ada beberapa kasus yang seperti itu, sebenarnya secara terobosan restoran ini cukup baik tapi yang lemah adalah distribusi barang mentah,pengelolaan dapur dan pengetahuan soal pengolahan makanan yang saya amati bener-bener kurang.
Teman2 semua , terimaksih atas responya yang positif. Saya sudah langsung memaaafkan pelayan,koki dan pemilik restoran tersebut atas ketidak nyamanan yang kami alami sekeluarga. Mungkin saja mereka mempunyai banyak kendala untuk dapat melayani dengan pantas.
Kalau mereka mau maju, tidak ada jalan lain kecuali mau berubah menyesuaikan dengan keinginan konsumen...
Saya punya pengalaman bulan lalu, sewaktu mo ke Bali, makan di airport lounge sukarno hatta di terminal 1B, lion air. Saya coba memanfaatkan kartu kredit mandiri dan citibank, karena dapet gratisan. Tapi busssyeet...opor ayamnya.....bau.Kemungkinan ayamnya sudah turun jauh kualitasnya..busuk? Barangkali perlu perhatian kepada otoritas (POM?), untuk mengawasi kualitas makanan yang di jual oleh restoran...jangan sampai menimbulkan musibah kepada konsumen...maaf sedikit oot...
Salam,
__________________
Engkaulah perahuku dimana aku selalu rajin mendayung