View Single Post
  #1 (permalink)  
Old 14-10-2007, 16:49
Ichang's Avatar
Ichang Ichang is offline
Ikhsan "Chang Han" Setianto
Location: Batam Centre
Ikan Asin
 
Join Date: Feb 2006
Posts: 2,025
Points: 17,581, Level: 57 Points: 17,581, Level: 57 Points: 17,581, Level: 57
Activity: 50% Activity: 50% Activity: 50%
Send a message via Yahoo to Ichang
Lightbulb Membuat "Lapak" Baronang

Seperti umumnya jenis ikan yang lain, ikan baronang juga biasanya senang "bercengkerama" / bermain2 di tempat2 tertentu dalam habitatnya.

LAPAK ALAMI

Untuk ikan air tawar seperti ikan mas, tawes, nila dll yang hidup di alam bebas (sungai, danau dll), mereka biasanya banyak/senang bermain di beberapa lokasi tertentu seperti lokasi yang terdalam, lokasi banyak ranting atau tumpukan batang pohon, batuan2 dasar dll.

Sedangkan untuk ikan air asin (laut) khususnya ikan jenis demersal (dasar), lokasi yang menjadi favorit tempat bermain biasanya di gugusan karang, tubiran karang, lokasi terdalam dll.

Lokasi2 tersebut diatas biasanya sering disebut sebagao lapak alami karena terbentuk secara alami dan (umumnya) tanpa campur tangan manusia dengan sengaja.


LAPAK BUATAN

Khusus untuk ikan baronang, lapak yang biasa dibuat oleh nelayan/pemancing adalah dengan membuat rumpon di satu lokasi tertentu baik itu di tengah laut maupun di pinggir laut.

Rumpon biasanya terbuat dari dari bermacam2 bahan seperti ban bekas, potongan tali/tambang kapal, potongan kayu, batu2, pelepah daun/pohon dll. Akan tetapi rumpon2 ini khususnya yang terletak di tengah laut setelah jadi biasanya tidak hanya berisi ikan baronang, bahkan kemungkinan besar jenis ikan dasar lain yang justru menjadi penghuni terbesar.

Dalam artikel mini kali ini, pembahasan akan lebih diperkecil skoop-nya agar lebih mudah diterapkan oleh pemancing yang lain. Pembuatan lapak baronang dilakukan di pinggir laut yang masih bisa terjangkau oleh panjang joran tegeg sehingga ikan dapat dipancing dengan mudah.

Lokasi yang dapat dicoba adalah di beberapa tempat yang merupakan habitat baronang seperti dermaga dengan kedalaman < 10 mtr, baterean pemecah ombak, dll.

Yang umum dibuat untuk lapak baronang di beberapa lokasi diatas antara lain potongan tambang kapal, tumpukan ban, kayu2 balok, biji2an dalam karung besar (jagung, kedelai, kacang tanah dll). Cara ini pernah dipraktekkan oleh team BFC (Baronang Fishing Club) Priok beberapa tahun lalu di baterean lampu merah Kresek.

Dari informasi para sesepuh BFC Priok yang masih hidup dan berumur panjang hingga saat ini (Tom, Bewok, Nurdin, Yono MJO dll), rumpon tersebut sangat efektif dan sempat menjadi lapak favorit tempat menimba ikan cukup lama sebelum di"rusak" oleh nelayan bubu yang memasang perangkap ikan serta "hilang" sedikit demi sedikit akibat sering tersangkut pancing garong yang ditarik paksa.

Kali ini kita akan mencoba alternatif baru untuk membuat lapak baronang dengan memanfaatkan sisa2 umpan yang sudah tidak terpakai saat kita selesai mancing.

Ide ini terinspirasi salah satunya oleh fenomena lapak semi buatan di beberapa lokasi pinggir dermaga/batere/pantai dimana di lokasi tersebut merupakan lokasi tempat pembuangan sisa2 makanan yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi (contoh di lokasi pembuangan sisa makanan di P. Ayer Besar - P.Seceng serta di belakang stasiun bis Merak - Banten). Lokasi2 tersebut biasanya merupakan lapak favorit tempat ikan paling banyak/sering berkumpul memakan sisa2 makanan yang dibuang.

Biasanya, sisa umpan yang selesai digunakan seperti lumut lumpur, lumut ijo, nasi lumat, udang mati, cumi iris dll dibuang secara sembarangan. Nah...sebagai alternatif baru, sisa2 umpan tersebut sebaiknya dibuang di satu titik/spot tertentu yang masih terjangkau panjang tegeg sebagai calon lapak tempat mengumpulkan ikan.

Jika setiap habis mancing sisa2 umpan dibuang ke calon lapak tersebut, diharapkan ikan mau berkumpul atau sering2 mendatangi spot tersebut karena terdapat sisa umpan yang berlimpah.

Cara ini kemungkinan besar cukup efektif apabila frekuensi mancing kita rutin/berkala sehingga setiap periode tertentu ikan dapat menemukan umpan di lapak kita.

Saat ini penulis sedang mencoba cara membuat lapak diatas yang dipraktekkan di batere lampu merah Kresek. Setiap habis mancing, sisa2 umpan yang digunakan sendiri termasuk mengumpulkan sisa2 umpan orang lain langsung dibuang di calon lapak.

Jarak dari pinggir batere sebelah dalam sekitar 3.5 mtr dan kedalaman saat air pasang sekitar 1.2 mtr / 1 depa. Memang bukan termasuk termasuk lokasi terdalam di sekitar kepala lampu merah karena masih ada beberapa titik/spot di sekitaran yang lebih dalam.

Pertimbangan penulis saat menentukan lapak tersebut karena dari beberapa kali trip mancing yang dilakukan, lokasi tersebut merupakan salah satu tempat yang sering disinggahi ikan (tipikal baronang lingkis/angin/tompel di batere Kresek yang senang bolak balik bermigrasi sambil menggerogoti lumut2 yang menempel di bebatuan dasar sepanjang baterean).

Untuk sisa lumut lumpur yang digunakan (sisa umpan biasanya masih cukup banyak karena saat ini sedang musimnya sehingga umpan sangat melimpah dan gampang dicari di sepanjang batere sebelah luar sebelum kepala lampu merah).

Sedangkan sisa umpan lumut ijo yang masih ada biasanya diikat dengan sisa senar dan ditalikan dengan sepotong batu baru dibuang ke calon lapak yang dibuat.

Karena cara ini masih dalam taraf uji coba dan baru mulai diterapkan 2 kali sejak 2 minggu terakhir (turun mancing seminggu sekali), masih perlu dibuktikan efektivitas cara pembuatan lapak ini.

Diharapkan paling tidak mulai awal bulan November 2007 sampai sekitar bulan Februari/Maret 2008 (saat musim panen baronang di batere Kresek), penulis sudah tidak perlu bingung & repot2 lagi mencari titik/spot/lobang di batere Kresek yang panjangnya berkilo meter tersebut karena sudah punya lapak sendiri. Paling2 resikonya lapak tersebut dipakai orang lain yang datang lebih awal/dulu di lokasi, namanya juga tempat mancing umum, he..he..he....

Catatan :
- Metode/cara ini kemungkinan besar kurang efektif untuk kang MJO sang jin baterean Ijo serta muridnya Shekyl Man yang merupakan garongers yang bertipe nomaden (senang mancing sambil berpindah2), tapi mungkin cukup efektif untuk garongers yang malas keluyuran seperti penulis, bos Tom, kang Nurdin, kang Maming serta team BFC Priok lainnya
- "Musuh" utama metode baru ini biasanya nelayan bubu yang memasang perangkap ikan (bubu) di sekitar/dekat lapak kita, arus dasar laut yang deras sehingga membuyarkan sisa umpan yang dibuang serta garongers lain khususnya yang bukan dari team kita (RAFAC) yang datang/menempati lapak kita lebih dulu
- Untuk pembuktian lebih lanjut, mungkin perlu diujicobakan di lokasi dermaga pulau di gugusan kepulauan Seceng khususnya bagi garongers yang rutin mancing baronang di satu lokasi dermaga tertentu (P.Pramuka, P.Cipir/Kayangan, P.Onrust, P.Kelapa, P.Tidung, P.Untung Jawa dll)

* Disarikan dari pengalaman memancing baronang sehari2 penulis

Jakarta, Oktober 2007
Ichangasin
RAFAC

Salam ndobos bin kibal kibul ,
__________________
Ichang
RAFAC
Rabbitfish.....Try to fish with pole rod & feel the zenzation.....You'll cry for more.....!
Reply With Quote