View Single Post
  #2 (permalink)  
Old 09-10-2007, 15:13
roel's Avatar
roel roel is online now
rully
Location: Bogor
RegularFishy
 
Join Date: Jan 2007
Posts: 841
Points: 7,694, Level: 37 Points: 7,694, Level: 37 Points: 7,694, Level: 37
Activity: 12% Activity: 12% Activity: 12%
Default

Mungkin bisa sedikit membantu......



Suku Gayo di Aceh Tengah berbeda dengan penduduk daerah Aceh pada umumnya. Mereka tidak mau disebut orang Aceh, dan lebih suka disebut sebagai orang Gayo. Karena itu, deskripsi orang Gayo berbeda dengan Aceh hingga kini tetap relevan. Gayo memang mempunyai sejarah keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Pada awalnya, Aceh Tengah yang zaman dulu masih kosong belum berpenduduk memang menjadi pilihan warga Karo untuk bermigrasi. Kini Aceh Tengah telah dihuni beragam suku yang hidup damai.Pada beberapa waktu yang lalu daerah Aceh Tengah ini merupakan daerah konflik, yang menurut salah satu sepupu temanku adalah daerah yang menakutkan untuk ditinggali, karena selama beberapa bulan di Takengon sempat diberlakukan jam malam dan dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer. Cuman setelah selesainya masalah dengan GAM, pelahan Takengon mulai menggeliat, mulai bebenah dan bangkit. Memang ada juga sedikit kasus dalam hal perpolitikan di Takengon beberapa waktu yang lalu pada saat pemilihan calon bupati, sampai-sampai karena tuduhan-tuduhan yang sampai sekarang belum juga selesai, kantor KPU setempat menjadi korban pembakaran oknum-oknum tertentu.

Takengon adalah ibukota kabupaten Aceh Tengah yang berada di poros Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Bagian Utara berbatasan dengan Kab. Bener Meriah dan Kab.Bireuen, sebelah Selatan berbatasan dengan Kab.Nagan Raya dan Kab.Gayo Lues, Timur berbatasan dengan Kab. Aceh Timur, Barat berbatasan dengan Kab. Pidie. Selain lokasinya yang berada di poros Aceh, Takengon memiliki sejumlah obyek wisata yang tidak ada di tempat lain. Hanya saja, hingga kini wisata Takengon masih terpukul akibat konflik. Salah satu obyek wisata yang terkenal di Takengon adalah Danau Laut Tawar, satu-satunya danau luas di NAD yang diapit oleh perbukitan. Dalam hal wisata alam, ada omongan orang yang bilang bahwa belum lengkap berkunjung ke NAD jika belum sampai ke danau ini.

Nah dikarenakan gosokan-gosokan tentang Takengon seperti diatas oleh beberapa temen, akhirnya sabtu tanggal 17 Maret 2007 kemarin, dengan nekat membawa kabur mobil kantor, kami bertujuh (6 cowok dan 1 cewek) langsung saja cabut ke Takengon, Aceh Tengah. Jarak tempuh Takengon dari Banda Aceh antara 8 - 10 jam perjalanan. Kami berangkat sekitar jam 17.00 dan baru memasuki daerah Takengon pada jam 02.00 pada hari berikutnya. Takengon yang berada di daerah dataran tinggi gayo ini ternyata sangat menyenangkan, biarpun cenderung kecil, tetapi kota-nya rapi dan bersih. Apalagi ditambah dengan cuaca yang sejuk dan cenderung dingin (aku rasa-rasa sih lebih dingin dibanding daerah Puncak Bandung). Ditambah lagi dengan pemandangan di sekitar Danau Laut Tawar, danau yang cukup luas yang dikelilingi oleh perbukitan tinggi. Memang pada saat ini Danau Laut Tawar hanyalah danau tanpa ada fasilitas-fasilitas yang seharusnya ada di lokasi-lokasi wisata, hanya jalan mengelilingi danau saja yang ada, sedangkan fasilitas taman rekreasi, penginapanm dan hiburan-hiburan lainnya belum ada, paling tidak belum dikelola dengan baik. Mungkin ini semua memang efek-efek dari konflik antara GAM dengan Negara kita beberapa waktu lalu, tetapi moga-moga saja dalam waktu yang tidak terlalu lama pembangunan Danau Laut Tengah dan Takengon pada khususnya akan semakin pesat.
Sebagai layaknya blogger, yang sudah seharusnya dan semestinya narsis, ada beberapa skrinsyut yang sempet terekam dari Takengon dan Danau Laut Tawar dan semuanya ada Eh iyah, di Takengon ini juga bisa dibilang tempat bersejarah buat aku, karena disinilah pertama kali aku mencukur botak kepalaku (biarpun masih tersisa 3 cm sih)… huehehehe…
__________________
Reply With Quote