
03-07-2007, 10:53
|
 |
Achmad S. Ruki
Location: Pondok Indah - Jakarta Selatan
PremiumFishy
|
|
Join Date: Feb 2007
Posts: 2,392
|
|
Fun Trip (Piknik) ke Krakatau
Laporan Fun Trip Krakatau Via Sumur 30 Juni – 1 Juli 07 (Foto-foto akan dia upload oleh Gajami!) Catatan
Dengan didahului ucapan terima kasih kepada Pak Jack Sparrow yang telah melaporkan “Fishing Trip” beliau ke Krakatau yang beliau anggap sebagai perjalanan yang sangat mengecewakan maka sebelum berangkat kami telah melakukan sejumlah perubahan dalam tujuan dan strategi perjalanan kami. Pertama, kami tidak berani menyebut perjalanan kami sebagai “Fishing Trip” tetapi hanya sebagai sebagai sebuah perjalanan “eksploratori” dan boleh dibilang pula sebagai piknik (“Fun Trip”). Tujuan perjalanan kami sepenuhnya adalah memenuhi keingin tahuan kami atas Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda tersebut. Seperti diketahui letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 telah ditulus menjadi beberapa buku, di jadikan tema film, dan menjadi obyek penelitian para pakar dunia.
Peserta. Seluruhnya berjumlah 8 orang terdiri dari “anggota” FF dan non-anggota FF. Anggota FF adalah; A. S. Ruky (The Old Man and the Sea), Susilo (HarjonoS), Werry (Gajami) dan Walther Lee (Beemaro). Non anggota terdiri dari Yayat Ruky (Adik A.S. Ruky), Farid (Putra Yayat Ruky), Alex Djauhari (Menantu A. S. Ruky) dan Ross (Teman Alex dari New Zealand)
Perjalanan
Perjalanan menuju kepulauan Krakatau kami mulai dari desa Sumur dimana terletak resort wisata Pulau Umang. Perjalanan menggunakan KM Samudra yang mampu membawa sampai 12 orang penumpang. Jarak Sumur – Krakatau ditempuh oleh kapal/perahu bermesin mobil kira kira 60 PK tersebut dalam waktu 4 jam. Untuk perbandingan, pelayaran dari Sumur ke Ujung Kulon memerlukan waktu 2.5 jam. Cuaca ketika menuju ke Krakatau sangat bagus dan laut begitu teduh dan tenang seperti air danau. Kami meninggalkan Sumur jam 08.30 dan tiba di kompleks Krakatau jam 12.30 siang. Alasan utama kami mengapa tidak melakukan perjalanan ini via Labuan, Carita atau Merak karena sewa kapal dari Sumur cukup murah apalagi bisa dibagi dengan jumlah peserta yang cukup besar.
Krakatau
Setelah meletus pada tahun 1883 gunung Krakatau berubah menjadi sebuah kompleks pulau yang terdiri dari Pulau pulau Krakatau Besar, Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Mulau tahun 1950an muncul pulau baru yang berlokasi hampir persis ditengah tengah bekas kawah besar yang kemudian dinamai Anak Krakatau. Menurut para penjaga, bila pada awal 1980an anak krakatau masih kadang kadang tertutup bila air laut sedang pasang maka saat ini tinggi sang anak telah mencapai 560 meter dari permukaan laut. Kawasan kepulauan tersebut sangat menakjubkan serta menimbulkan pula perasaan ngeri bila kami menyadari bahwa perahu kami sebanrnya terapung apung diatas permukaan kawah gunung berapi aktif yang tertutup air laut. Sewaktu perahu kami memasuki perairan krakatau kami seperti memasuki perairan yang berbeda dan batasnya terlihat dengan jelas seperti sebuah garis lurus. Air laut di dalam kompleks Krakatau berwarna hijau agak muda seperti tercampur sejenis bahan kimia walaupun kedalamannya ada yang mencapai ratusan meter. Kami juga mersakan arus air yang cukup kuat yang menimbulkan gelombang yang agak tinggi.
Fasilitas di Krakatau
Krakatau bukanlah daerah kunjungan wisata sehingga di kompleks Krakatau tidak ada fasilitas apapun untuk pengunjung misalnya penginapan apalagi rumah makan. Pengunjung dengan kapal yang cukup besar dapat menginap di kapal mereka. Pengunjung yang menggunakan kapal cepat biasanya melakukan perjalanan sehari saja berangkat dari Carita atau Anyer dengan waktu tempuh 3 jam untuk satu arahnya. Bagi pengunjung yang kepalang tanggung dan ingin menginap bisa berkemah di pulau Anak Krakatau atau di sebuah telauk di pulau Krakatau Besar yang disebut Legon Cabe. Sayangnya, dikedua tempat tersebut tidak ada sumber air tawar sama sekali. Di semua pulau di kompleks Krakatau termasuk di Anak Krakatau tidak ada dermaga untuk perahu menyandar. Dengan demikian pengunjung yang ingin turun harus menggunakan sekoci kecil atau perahu karet yang dibawa sendiri atau terpaksa “ngoyor”. Rombongan kami beruntung karena setelah melapor ke patroli BKSDA kami malah ditawari untuk menginap di pos (barak) mereka di Pulau Panjang yang ada sumber air tawar dan memiliki Gen Set. Dengan senang hati kami terima tawaran tersebut. Dari perahu kami di angkut kedarat menggunakan perahu Jukung mereka secara bergiliran. Kami tidur bersama mereka dan malah dipinjami kasur lipat tipis dan makan minum bersama mereka. Baru pada hari Minggu tanggal 1 Juli jam 8 pagi kami diantar kembali ke peerahu kami untuk kemudian melakukan penjelajahan disekitar kompleks tersebut dan mendekat ke Anak Krakatau untuk mengambil foto dari jarak dekat.
Mancing di Krakatau. Karena sejak awal sudah disepakati bahwa tjuan perjalanan adalah bukan mancing maka kalaupun sebagian peserta membawa peralatan mancing tetapi yang dibawa adalah peralatan untuk mancing dasaran dan trolling. Memang sesampainya di Krakatau kami mencari spot yang diperkirakan ada ikan tanpa bantuan Finder karena kami tidak membawanya. Kami hanya mencari pinggir pinggir pulau dimana diperkirakan ada terumbu karang. Kami mulai melakukan kegiatan mancing untuk mencari lauk untuk makan siang dan malam. Hasilnya hanya ikan ikan karang kecil dan ada lencam sebesar 4 jari. Untungnya di pasar Panimbang kami telah membeli cukup banyak ikan dan cumi segar yang cukup untuk makan siang sampai malam! Trolling yang dilakukan selama perjalan pergi dan pulang ( 4 jam) tidak menghasilkan strike apapun!
Penjagaan Krakatau
Selama berada di tempat para penjaga, Pak Ikbal menjelaskan bawa seluruh kompleks cagar alam Krakatau berada dibawah pengelolaan (pengawasan) Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi Lampung. Pemerintah Indonesia mempunyai keinginan keras untuk menjaga kelestarian kompleks ini sepenuhnya. Perubahan apapaun yang dilakukan oleh manusia (misalnya menanam pohon yang dibawa dari kota) tidak diperbolehkan. Oleh karena itu kompleks tersebut dijaga dengan sangat ketat oleh sebuah tim penjaga yang berjumlah 6 orang dan dipersenjatai dengan 2 buah Sten Gun. Siapapun yang ingin mengunjungi Krakatau harus meminta ijin terlebih dahulu dari Kantor BKSDA Lampung dan setiba di lokasi harus segera melaporkan kedatangannya ke pos BKSDA disana. Kegiatan pengunjung terutama yang melakukan penelitian diatas gunung, dibawah atau didalam air harus dipandu dan diawasi oleh para penjaga disana. Pemanduan dan pengawasan tersebut ada biaya resmi antara rp. 220.rb sampai rp.330.ribu per rombongan (kriteria untuk perbedaan tarif tersebut saya lupa). Karena fihak BKSDA menyadari bahwa sangat repot dan mahal bagi pengunjung bila pergi ke Lampung untuk meminta ijin permohonan ijin bisa dilakukan melalui fax ke nomor ini: 0721-703882. Mereka juga cukup fleksibel bahwa pengunjung “dadakan” seperti misanya yang ingin mencoba mancing atau melancong kesana secara “mendadak” mereka tetap ijinkan asalkan begitu masuk wilayah komplek Karakatau segera melapor ke Pos Penjagaan seperti layaknya tamu yang datang ke rumah orang atau kampung orang!
Kesimpulan
1. Krakatau adalah kompleks “kepulauan” yang menarik dan merangsang bagi kita yang punya minat pada alam dan ingin merasakan bertualang (atau ingin menyepi!).
2. Mengacu pada pengalaman kami mancing yang ternyata hasilnya seperti yang diceriterakan Capt. Jack maka Krakatau bukanlah tempat potensil untuk mancing serius. Kalau ingin juga mancing seperti kata Yantosu bawalah Fish Finder!
3. Bila anda sekedar ingin mengunjungi Krakatau secara singkat tanpa harus menginap maka anda biasa lakukan perjalanan pulang pergi dalam sehari dari Labuan, Carita, Anyer atau Merak. Biayanya memang bisa mencapai 3.5 sampai 6 juta rupiah untuk paling banyak 7 orang!
|