@ Bung Ando:
Nah, malah ada yg setengah kiloan, tuh. Pasti asyik klo bisa strike segede itu. Gmn cara Bang Ando mancingnya?
Iya, yang gede namanya TILAN klo di tempatku, gak beda jauh dengan nama THAILAN (asal bukan negara Thailand, ajah, hehehe).
@ Bung Budiman:
Aku pikir perlu dieksplorasi ni jenis2 ikan seperti itu tuh apa aja, kesamaan dan perbedaannya apa aja di setiap daerah. Aku malah baru tau klo ada yang bergigi tajam (Lunjing). Bukan menyangsikan, tp apa jenis ini punya gigi? Jangan2 itu Sidat atau Pelus, Bro?
@ Mas Roel:
Iya, namanya Tiluk. Cocok tuh namanya utk ikan kecil spt itu, kan kita biasanya momong anak kecil dengan “TILUK BAAA!” hehe
Cara mancing n tacklenya, sekalian njawab Bro-Bro yang lain bisa liat di link yang pernah aku buat dengan judul “Nyambung bahasan sili, tiluk atau deler”. Aku hanya mau nambahin aja biar tambah jelas.
A. Joran: (Apa bisa disebut joran, ya?

) Sebelumnya aku tulis dibuat dari lidi enau. Ini bukan keharusan krn joran bisa juga dibuat dari bambu gede yang dibelah memanjang lalu diserut membentuk seperti lidi. Lidi enau hanya soal efisiensi waktu dan tenaga karena tinggal ambil lalu dibuang daunnya, lidinya pada bagian pangkal kita beri coakan untuk tempat leader. Tp emang, utk daerah2 tertentu pohon enau sudah jarang. Jd, prinsipnya bisa diterapkan pada joran yg bukan dari lidi enau. Memakai lidi daun kelapa juga bisa, tp agak sulit buatnya krn kecil dan mudah hilang saat kita gunakan.
B. Mata kail: Pilih mata kail karbon krn tajam. Jadi, saat ikan menyambar umpan, ikan akan tersangkut dengan sendirinya krn mancing cara ini kita sama sekali tidak menggentak. Aku lupa kail nomor berapa, tp kira2 ukuran lebar bentuk U-nya 4 mm (nanti saya infokan lagi jenis dan ukuran mata kailnya.
C. Senar: Monofilamen ukuran sekitar 10 lbs, sebenarnya tak masalah sebesar apa senar itu asal bisa mengikat kail yg relatif kecil ke jorannya. Senar besar tidak mudah putus atau keriting. Setelah mata kail kita ikat dgn senar (leader), ikatkan senar itu ke coakan ke lidi enau atau serutan bambu menyerupai lidi dengan menyisakan senar sekitar 5 cm.
D. Umpan: Selama ini aku selalu pakai cacing tanah yg berwarna merah, bukan cacing gila atau cacing yg mudah putus (lupa namanya). Blm pernah pake umpan lain. Tp aku pikir bisa juga pake udang air tawar kupas krn di sungai yg ada tiluknya hidup udang juga.
E: Kain/Kaos bekas: Untuk memegang ikan.
F: Cara mancing: Ikan ini berdiam di rongga-rongga bebatuan (di bawah batu-batu besar yang ada di tepi maupun di tengah sungai); juga di sela-sela rerumputan air (spt pohoh glagah tp kecil2) di tepian sungai yang berarus, walau di tempat yg berair tenang juga ada. Nah, lidi-lidi yg sudah berumpan, kita tusukkan (selipkan) ke dalam rongga atau sela2 rerumputan yg terendam air. Tp usahakan jgn sampai mata kail kita nyangkut pada batang2 rerumputan air. Cara mengeceknya, saat kita masukkan sampai dasar, kita tarik kira2 10 cm ke atas. Klo gak nyangkut, kita kembalikan lagi ke posisi semula. Lalu kita cari celah yg lain utk pancingan yg lain.
Aku pernah menemukan lobang berair dgn diameter kira 5 cm yg cukup dalam di tepi sungai. Saat itu aku kurang yakin ada ikannya. Tp baru aku tancepin langsung disambar dan ternyata dari lubang itu aku dapat 7 tiluk yg lumayan besar, dgn panjang sekitar 30 cm (tp itu dulu, saat aku masih smp).
Kadang kita menemukan celah yg bagus di bawah bebatuan, tp saat kita menancapkan lidi kita, lidi itu rebah dan hanyut terbawa arus. Nah, di sini kelebihan lidi enau krn baguan ujung lidi enah yg lentur bisa kita tekuk ke atas lalu kita tindih dengan batu yg agak kecil agar tidak hanyut.
Sering sekali lidi2 kita hilang krn terbawa arus atau diseret ikan, jd posisikan lidi2 kita dengan baik. Kadang kala aku mengikat bagian ujung lidi ke semak2. Memberi pita di bagian ujung lidi adalah cara yg bagus dan praktis utk mengetahui posisi lidi2 kita krn warna lidi kita relatif sama dengan batang2 rumput air.
Tanda bahwa ikan sili sudah mencaplok umpan dan terkena kail adalah jika lidi kita bergerak-gerak tak beraturan. Kita tarik aja lidinya pelan2, tak usah digentak. Angkat ikan itu dan taruh di atas kain, kita lipat, cari posisi kepalanya dalam lipatan dan kita gigit sampai mati (sadis

). Kita gak akan bisa memegang ikan itu apalagi melepaskan kailnya tanpa bantuan kain, selain sangat licin, punggungnya berduri dan bisa melukai tangan. Kadang ikan ini makan terlalu dalam, jadi harus dilakukan pembedahan

.
Jika kira2 tempat tertentu tidak ada ikannya entah krn terpancing atau apa, pindah cari lokasi baru ke arah hulu atau hilir.
Walah, kok jd panjang tambahanku. Maaf, aku melantur.
Salam mancing untuk semuaaaa. Mari kita peduli lingkungan agar lestari dan mancing jalan terus.