Betul mas arif...
Durinya dapat melukai tubuh kita, aku sering kena, tp lbh sakit kena patil lele lokal

. Walau klo aku kena patil ga sampe demam, cuma sakitnya hmmmm. Darah harus dikeluarkan dari luka tusukan agar rasa sakit tak berkelanjutan dengan memijit-mijit di sekitar bagian yg terpatil.
Ehmm, aku sebenarnya sedih, 3 tahun yg lalu aku membawa teman dari jakarta rencananya mau ngenalin cara mancing tiluk. Dapat kecil2, gak seperti biasanya yang aku dapat. Apa tiluknya diet, pikirku

. Apalagi tiluknya gak serame biasanya saat dipancing. Dari kejauhan aku denger suara mendengung. Gak taunya ada yg bawa alat penyetrum. SIALAN! KAMPRET! Sejuta topan badai. Benar2 membuat geram. Kenapa ya gak dihukum aja tuh penyetrum ataupun peracun ikan yg menggunakan potasium atau jenis racun lainnya? Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan gak berpikir jauh ke depan. Pengennya hasil banyak tp jauh lebih banyak membunuh benih2 ikan dan ikan yang tak terambil di sepanjang aliran sungai.
Tahun lalu aku pulang kampung lagi. Aku sempatkan mancing tiluk. Tp mancingnya hanya sambil lalu, alias mancing sepulang dari huma kakak atawa nengok kebon. Nah, saat pulang sambil mandi-mandi kami mancing. Mancing hanya setengah jam di satu lokasi aja, dan dapat 3 tiluk, 1 ikan kepiat satu lagi kepiul. Aku sangat senang karena alam tempat aku dibesarkan ternyata masih menjanjikan. Tp ya tiluknya masih kecil2. Masa selisih 2 tahun gak tambah gede? Atau jangan2 dah berubah kecil krn sulitnya mencari makan? Atau karena masih sering diracun atau disetrum? Aku blm sempat menemukan jawabnya.
Sebenarnya ada satu cara lagi mancing tiluk yang jauh lebih mudah dan efektif, tif, tif

. Bawa aja kacamata selam. Nah, sambil memegang pancing kita menyelam atau SLULUP

. Kita cari lubang2 di antar bebatuan atau di bawah bebatuan. Klo ada kepala mencungul dari dalam dengan bagian ujung hidung spt salib, itu dia tiluknya. dekatkan aja pancing ke mulutnya asal jgn sampai menyenggol kepalanya dengan pangkal lidi krn ia akan lari. 99 persen umpan disambar MAK LEB!! Tinggal diangkat pelan2, gigit kepalanya, lepaskan dan berburu lagi.
Cara lainnya lagi (gak saya golongkan mancing) adalah dengan menombaknya memakai alat harpun kecil. Di sumatera, harpun dibuat dari kayu meranti atau merbau. Buatannya sangat bagus, halus, dan mirip senapan dgn pelatuknya. Harpunnya dibuat dari kawat ukuran diameter sekitar 3 mm, di bagian pangkalnya ada coakan untuk menahan karet pegas. Untuk target ikan besar, ujung harpun akan diberi seruit yg bagian seruitnya terikat senar pada gulungan senar di samping senapan harpun. Jadi jika ikan kena harpun, hanya seruitnya yang menancap. Ikan dibiarkan lemas karena meronta baru ikan ditarik ke daratan. Tp untuk tiluk tak perlu memakai seruit, cukup harpun polos tapi berujung tajam. Biasanya tiluk akan kena harpun di bagian bawah kepala krn yang nongol kepalanya.
Fotonya menyusul mas sony. Betul, mancing dgn target khusus memang mengasyikan. Apalagi ada kenangannya. Saya dulu kalau mancing mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Nah, sebagian besar waktu kita ya kungkum dalam air entah sebatas dengkul, pinggang atau leher

. Kalau gak biasa mungkin masuk angin krn baju gak kering2 n tetap dipakai.
Ikan wader kepek di sumatera disebut ikan tanah, wader pari disebut seluang. Seluang ada dua: seluang biasa dan seluang mandul (bisa sebesar jempol tangan orang dewasa).
Sip! Mari kita mancing n peduli lingkungan.
Salam FF