Siganus Javus Krueng Raya
Lama gantung joran karena prihatin dengan kondisi teman mancing garong satu-satunya asli Aceh Black Ghost, membuat semangat gentak joran jadi hilang sama sekali. Bahkan kehadiran Kiki Marzuki eks “jin kuburan keramat pulau Onrust” yang sekarang menjabat manager keuangan Garuda cabang Banda Aceh, tidak bisa menghilangkannya.
“Liburan kemaren saya bawa oleh-oleh 30 ekor baronang angin ke Jakarta” katanya, “besok kalau mau mancing, saya jemput jam 7 pagi”, katanya setengah mengajak. “Ok” jawab saya setengah hati juga.
Memang di Pelabuhan Krueng Raya baronang anginnya kasar2 sekali kalau lagi makan, tetapi menurut perhitungan saya musim baronang angin sudah lewat. Beberapa minggu sebelum ini, tegeg Metanium 6,3 m doi patah kena angin 9 jarian. 2 ekor sempat dibawa pulang, tapi ga sempat diambil gambarnya.
Pagi2 jam 7 saya mencoba memastikan, karena sebelumnya jam 3 pagi kota Banda Aceh diguncang gempa yang cukup kuat. Biasanya setelah ada gempa ikan kurang mau makan, entah karena perubahan arus atau ikannya pada takut kena tsunami, he he he .Ternyata Kiki lagi on the way dari rumahnya.
Setelah ambil lumut secukupnya perjalan dilanjutkan, Banda Aceh – Krueng Raya ditempuh dalam waktu 40 menit.
Benar saja samapi di krueng raya, laut tenang bak kaca, tidak ada angin dan ombak, memang terlihat beberapa kali rombongan baronang angin 4-7 jari mondar mandir dipermukaan sehingga jelas terlihat garis garis badannya khas baronang angin. Sejam dua jam tidak ada tanda tanda lumut disentuh, bahkan begitu rombongan baronang lewat sodoran lumut tidak dihiraukannya. Pengalaman sebelumnya baik di Priok, kepulauan seribu, Merak anyer , bakahuni dll, mengajarkan kalau baronang angin mondar mandir tidak mau menyentuh umpan.
Jam 11 karena gerimis mulai turun, saya memutuskan untuk meringkaskan peralatan dan melanjutkan dengan acara tidur, acara tidur diganggu oleh teriakan kiki waktu betot2an dengan baron angin 5 jarian. Wah kok bisa? Ternyata doi pake pancing tunggal kecil dan lumut. “Ikan udah mulai makan lumut timpal Kiki, akhirnya saya menyudahi acara tidur dan melanjutkan acara mancing.
Ternyata jam makan ikan cuma 2 jam aja, setelah menaikkan 3 ekor dengan garong dan 8 ekor dengan pancing tunggal, dengan ukuran 5-6 jarian, jam 12 an karena kondisi air makin jelek, acara mancing kami akhiri
Gambar 1. Angin 6 jarian
Gambar 2. Marzuki dg Angin 5 jarian
__________________
Budi
|