View Single Post
  #1 (permalink)  
Old 28-12-2007, 10:05
Bara_fisher's Avatar
Bara_fisher Bara_fisher is offline
Sudarmanto
Location: Batam
PremiumFishy
 
Join Date: Sep 2007
Posts: 186
Points: 2,806, Level: 22 Points: 2,806, Level: 22 Points: 2,806, Level: 22
Activity: 4% Activity: 4% Activity: 4%
Send a message via Yahoo to Bara_fisher
Post Mancing Kakap Putih Di Jembatan 2 Barelang

[B][SIZE=3][FONT=Times New Roman](selama 3 jam di pelantar kayu dan jetty tongkang)[/FONT][/SIZE][/B]

[B][U][SIZE=3][FONT=Times New Roman]Halaman-1[/FONT][/SIZE][/U][/B]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Hari Sabtu (22/12/2007), sejak pagi saya mengajak anak saya ke kantor . Kebetulan anak sedang liburan sehabis terima raport TK. Sabtu sore itu, dari lantai 2 terlihat langit berawan sedikit abu-abu, meski disebut mendung tapi tak cukup untuk membuat hujan lebat. Hawa udaranya sejuk berangin pertanda laut lagi bersahabat tidak ada gelombang besar.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Saya lama sudah tidak memancing atau kegiatan olah pancing memancing, mungkin sudah hampir 2 bulan lamanya. Pikir-pikir di depan kantor, [U]jam 16:30[/U] … kelewat sore rasanya persiapan mancing, saya tanya anak saya apakah mau jalan-jalan ke Jembatan 1 atau Jembatan 2 Barelang (Batam-Rempang-Galang), ternyata dia mau ikut dan nggak usah mampir rumah.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Wahh, jadilah… padahal jam sdh mulai bergerak ke angka lebih sore, pasti sebentar lagi matahari habis mengeluarkan watt-nya. So, saya menyegerakan beberapa dokumen kertas kerja saya. Setelah berbenah dan berkemas, saya ajak rekan saya Pak Riyanto untuk pergi mancing. He.. he… rekan saya satu ini easy going saja, kebetulan pekerjaan bisa ditunda sampai esok… esok dan esok harinya. Itu sih namanya kalo boleh saya sebut adalah “angler syndrome”, suatu sindrome para profesional & pekerja untuk menunda pekerjaan akibat disegerakan melakukan celup umpan ke hot spot. [/SIZE][/FONT]

[SIZE=3][FONT=Times New Roman][U]Jam 17:40[/U] saya berangkat dari kantor saya di komplek Marina Waterfront City dengan santainya…. habis gimana lagi, umpan hidup juga tidak disiapkan. Peralatan standby standar yang di bagasi mobil adalah : tas pancing dengan 2 stick M-Class 180cm, 2 reel 20lb, 2 kotak minnow-lure & accesories, 1 bh ember eks cat 25ltr plus waterpump 2 batterai dan 1 bejana aluminium tempat celup udang (ombreng).[/FONT][/SIZE]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Jadi tepatnya berangkat mancing ini hanya modal ngiler dan gatal saja. (he.. he… niat saya waktu itu saya mau casting pakai lure “Ecogear 7cm - orange” atau “BarraMag-11 eks Rapala”. May be mancing 2-3 jam sudah cukup deh buat obat gatal tangan akibat lama tidak pegang stick)[/SIZE][/FONT]

[SIZE=3][FONT=Times New Roman][U]Jam 18:45[/U] saya tiba di Jembatan 2 setelah mampir sebentar di jalan, maklum deh… belum minum dan isi perut si kecil. Saya berhenti dan melihat dari atas jembatan 2, ternyata arusnya sangat kuat. Akhirnya saya putuskan mobil belok ke kanan menuruni jalan tanah menuju ke bawah. [/FONT][/SIZE]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Setelah berhenti, saya lihat sebentar lokasi spotnya, ada tongkang merapat sedang bongkar muatan batu pecah. Setelah berfikir dan orientasi sebentar, saya segera putuskan untuk memancing di [I][U]pelantar kayu[/U] (tempat transit naik turunnya penumpang ke perahu pancung) [/I]dan [I][U]sekitar jetty tongkang[/U][/I] ini meski tempatnya tidak ideal buat casting, Selain itu tidak perlu sewa perahu untuk mengantar ke tengah jembatan di pile cap. Salah satu pertimbangannya adalah membawa anak dan nampaknya arus di tengah sangat kuat. Jadi rasanya percuma di pile cap karena olakan arusnya berputar-putar. (Kalo ada yang mau ke pile cap bawah Jembatan 2 ini sih, ongkosnya cuma 10-15 rb untuk sekali antar dan jemput).[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Kondisi angin sekarang sih rasanya sudah masuk musim utara, sehingga angin sangat kuat di bagian laut lepas, untunglah saya hanya mencoba spot di pinggir Jembatan 2 ini yang terlindungi dari angin, kan cuma sekedar.. sekedar … ha ha hi hi hu hu saja just fun dan melepas gemetar tangan akibat lama tidak pegang joran boo![/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Setelah turun, tanya sebentar tentang sewa kapal kayu dengan salah satu toke pancung (perahu mesin tempel) saya mendapat jawaban bahwa mancing di tengah laut sedang sepi. Setelah bertanya sana-sini sekedarnya kemudian saya beralih pada ibu pemilik “rumah makan” apakah masih ada udang hidup? … (biasa.. penyakit angler, numpang tanya… siapa tahu ada dan mauya dikasih gratis kale). Eeh, ternyata masih ada meski sedikit… lumayan deh campur besar kecil, ada yang besar 4 ekor panjang 10 cm, jadi saya ambil yang agak sehat seharga 21 ribu untuk 3 ons nya.[/SIZE][/FONT]

[SIZE=3][FONT=Times New Roman][U]Jam 20:05[/U] tepatnya, saya mulai menurunkan joran dengan umpan udang hidup. Pertama-tama saya mancing dasaran dengan memasang bandul timah no. 4, rekan saya Pak Riyanto juga memakai bandul tapi agak besar sedikit. He .. he… biar kerasa nariknya ya kan?[/FONT][/SIZE]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Pertama-tama saya mulai mancing mengambil lokasi di jetty tongkang dengan area yang lebih bebas dari penghalang kapal atau tonggak kayu sehingga kalo melempar bisa sesuka-sukanya. Sedetik… dua detik… tiga detik…. dan berdetik-detik saking nggak bisa dihitung detak-detak jantungnya saya mancing dasaran dan menunggu reaksinya! Jus… justru nggak ada… malah nyangkut di batu karang beberapa kali. He.. he… dasar tukang pancing, masih nekad juga.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Satu jam kira2 saya sudah mulai bosan dan mulai mengalihkan perhatian pada minnow saya yang berada di kotak. Sambil nge-dasar, saya mulai pikirkan model line mana yg mau saya pakai… alhasil, pikiran saya mulai berubah. Saya angkat stick. Kemudian saya kembali bergabung dengan Pak Riyanto di pelantar kayu.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Stick mulai saya ganti susunan linenya dengan mengganti leader 40lb. Rekan saya Pak Riyanto di sebelah kanan saya terlihat mulai kacau dengan serangan sotong karang dan rumput laut dan cantolan di karang… sudah tangan kanan pakai pancing dasaran ditambah sebelah kiri dengan stick jigsquiq-nya. Lho katanya tadi banyak tarikan tapi tidak terasa keras, hanya seperti kena sampah. [/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Tiba-tiba di sebelah saya, bret… bret.. byuurrr ada semprotan air ke samping atas…saya terkaget, Pak Riyanto hampir saja menaikkan sotong karang besar.. Cuma nggak mau mampir. Maklum dia pendatang baru dari Bukittinggi yang jauh dari bajak laut. Lepas lagi… katanya hampir 3kali terangkat… musim sotong nkali yew? Kebetulan ombak tidak besar hanya kuat arus sehingga para sotong mampir ke pinggir.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Sambil sedikit kecewa dia melanjutkan mancingnya sementara saya hampir menyelesaikan knot pancing di leader. Saya mulai menggunakan simpanan minnow di kotak. Keluarlah beberapa koleksi minnow-lure dari kotak (koleksi loh.., betul-betul koleksi karena lebih banyak masuk kotak). Saya mengeluarkan 3 biji yang terdiri dari : X-Shad Rap yellow 9, Bmag-11 Blue dan Echogear. Niatnya sih mengincar ikan besar bandel yang nggak sekolah sekalian ngobok-obok area mancing di sekitar pelantar ini agar ikan-ikan terusik, marah dan easy going to feed di permukaan. Atau paling tidak nyangkutin sampah deh… minimalnya gitu dong. (Dasar saking penginnya nih, emang apa ada casting bagus di pinggir laut sampai dapat strike????)[/SIZE][/FONT]

[I][FONT=Times New Roman]>> sebagai informasi : “minnow - Ecogear 7cm orange” saya dapatkan di Dunia Pancing, Gunung Sahari dan “BarraMag-11 Blue eks Rapala” saya dapatkan di Pasaraya Blok-M lt.6 Jakarta <<[/FONT][/I]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Beberapa menit casting melempar mulai tidak ada reaksi dan hanya menghasilkan tangan pegal karena mengayun stick.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Dasar usil, saya pinjam pancing sotong pak Riyanto satunya lagi, karena dia sudah meletakkannya di bawah. Soalnya dia nampaknya lagi konsentrasi pancing dasarannya. Jigsquidnya warna biru dengan light berkedip sewaktu masuk laut (inovasi orang china kali yew?). He.. he… terus terang nih boro-boro mancing sotong, saya punya jigsquid 3 ekorpun lebih banyak waktunya cuma sebagai hiasan… maklum, sotong kalo narik persis tarik tambang, lamban deh bergeraknya.. jadinya kurang nendang gitu loh. He… he.. [/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]Sejurus kemudian, tiba-tiba, saya merasakan nyutt… nyut… stick rasanya nyangkut di [U]rumput2an[/U] laut atau terbawa arus.. tapi…ehhh ngelawan… ditarik pelan nih soalnya umpan lagi minim. Dari dalam sana ada gerakan gerakan melawan …ada sangkutan hidupnya! Pikir saya…. ikan nih, maka dengan nekadnya saya siapkan untuk fight. Tetapi nggak ada gerakan mendadak. Malah rasanya seperti menarik sampah nyut … nyut… nyut. Dengan nekad saya mulai tarik pelan. Setelah di permukaan terasa agak berat dan sampahnya terlihat transparan… hey sotong! Saya tarik pelan-pelan agar tidak mengagetkannnya. walhasil, setelah sampai atas pelantar maka … crot crot crot… sejumlah tinta menyemprot, tanda perlawanan sotong… hey, besar juga untuk ukuran di tepi pantai dengan casting cuma 10meter dan kedalaman air surut cuma 3-5 meter.[/SIZE][/FONT]

[FONT=Times New Roman][SIZE=3]He… he… dah nasibmu tong-sotong… kena mata pancing jigsquid. Kira-kira ½ kiloan nih pikir saya. So… lepas dari tinta sotong itu, saya narik sampah rumput beberapa kali, sampai akhirnya nyerah. Mungkin tadi hanya keberuntungan semata karena saya masih terlalu hijau buat mancing sotong. Soalnya narikpun terasa narik rumput laut atau sampah. Kemudian stick diletakkan gitu aja tanpa bilang terimakasih… capek deh. Wah, nggak sopan nih, sdh dikasih nggak bilang makacih gitcu loh akh. Ya deh.[/SIZE][/FONT]
Reply With Quote