
29-11-2007, 17:08
|
 |
Ary "KING FISHER"
Location: Bandung
Fishing Fun"Mihira Sanpei"
|
|
Join Date: Jan 2007
Posts: 342
|
|
Pemburu Ikan Hias Ancam Kelestarian Pulau Biawak Indramayu
Selain Keberadaan Industri Migas yang Diduga Ikut MencemariINDRAMAYU, (PR).-
Selain pencemaran yang diduga diakibatkan oleh keberadaan industri minyak dan gas (migas), Pulau Biawak yang terletak sekira 40 km arah utara pesisir pantai Kabupaten Indramayu juga terancam kelestariannya oleh para pemburu ikan hias dan terumbu karang yang menjadi kekayaan biota laut pulau terpencil tersebut.
Sebab penangkapan ikan hias dan pencarian terumbu karang oleh para pemburunya, dilakukan de-ngan cara-cara yang sangat merusak. Selain menggunakan bom dan sianida (potassium), mereka juga menggunakan jaring yang tidak ramah lingkungan. Akibatnya kerusakan lingkungan di pulau tersebut menjadi tak terhindarkan.
Seperti halnya diungkapkan Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Indramayu, Drs. Umar Budi Karyadi dan penggiat lingkungan hidup dari LSM Siklus di Indramayu, Oni Toyib dalam perbincangan dengan "PR" secara terpisah, Selasa (21/6). Mereka menyebutkan, pencari ikan hias dan terumbu karang di Pulau Biawak kebanyakan datang dari kawasan kepulauan seribu yang menjual hasil tangkapannya kepada konsumen ikan hias di Jakarta termasuk untuk ekspor.
"Menurut informasi petugas penjaga mercusuar di Pulau Biawak, sering menemukan pemburu ikan hias dan terumbu karang yang membawa senjata dalam operasinya hingga petugas tidak dapat berbuat banyak untuk memperingatkannya. Jadi ancaman kelestarian di pulau itu sebenarnya bukan hanya oleh keberadaan industri migas semata," kata Umar Budi Karyadi.
Ia mengakui, Pulau Biawak memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Namun mengingat posisinya sebagai kawasan konservasi yang harus dilindungi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka tidak memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata massal. Karenanya kendati pernah ada sejumlah investor yang berniat mengelolanya, hingga kini tidak terdengar lagi kabarnya usai melakukan survei di kawasan itu.
Untuk itu menurut Umar, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian di lingkungan Pulau Biawak, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Indramayu berencana memasang alat komunikasi di pulau terpencil itu. Hingga setiap pengunjung yang datang dapat terpantau dan setiap peristiwa yang terjadi di Pulau Biawak dapat langsung dilaporkan dan termonitor.
Menyesalkan Adapun tentang penggunaan bom dan sianida yang dilaporkan mengancam di Pulau Biawak, menurut penggiat lingkungan Oni Toyib, hal itu dimungkinkan karena ikan-ikan hias di lautan kebanyakan hidup di antara karang. Karenanya untuk memudahkan penangkapan adalah dengan mengebom dan sekaligus menebar racun sianida. Cara itu dinilai praktis karena dengan menghancurkan karang-karang yang sekaligus dimanfaatkan untuk diperjual-belikan, pelaku dapat menangkap ikan hias yang diburunya.
Adanya aktivitas perburuan ikan hias dan terumbu karang, selain merusak lingkungan di Pulau Biawak juga mendatangkan masalah bagi masyarakat pesisir khususnya para nelayan. Sebab menyusul sering terjadinya pengeboman karang oleh pemburu ikan hias, berdampak pada menyusutnya jumlah ikan hasil tangkapan nelayan. Karena ikan-ikan karang seperti ikan baronang dan kakap, sebagaimana dikeluhkan para nelayan, belakangan menjadi sulit ditangkap di perairan sekitar Pulau Biawak karena rusaknya tempat hidup ikan-ikan tersebut.
Menurut Oni jenis ikan yang banyak ditemukan di perairan Pulau Biawak di antaranya kiper (Scatophagus argus), samandar (Siganus verniculator), kerapu (Chremileptis altivella), dokter (Lebroides dimidiatus), kakatua (Callyodon ghabbon), kerapu tikus (Cinhiticthy aprianus), zebra (Dendrichirus zebra), kupu-kupu (Cheetodon chrysurus), kokotokan, Merakan (Pierois veliteus), pisau-pisau dan petek perak (Desayllus reticulatus)," kata penggiat lingkungan dari LSM Siklus tersebut.
Terkait kasus pencemaran Pulau Biawak oleh limbah industri migas, dua anggota DPRD Kab. Indramayu H. Urip dan Lukman Hakim, SH menyesalkan dilakukannya pengambilan sampel limbah crude oil dari Pulau Biawak dengan menggunakan fasilitas dari salah satu industri migas yang ada.
Di samping itu, pengujian sampel crude oil di Lembaga Minyak dan gas (Lemigas) yang akan di laksanakan oleh Kantor kementerian Lingkungan Hidup, juga diyakini dapat memberikan hasil pengujian yang kurang maksimal. "Sebab Lemigas, kendati disebut-sebut sebagai lembaga independen, namun pendanaannya berasal dari industri-industri migas yang ada," kata keduanya.
Untuk itu, baik H Urip maupun Lukman Hakim, SH berharap dilakukan pengulangan pengambilan sampel crude oil dari Pulau Biawak yang didanai secara mandiri oleh Pemkab Indramayu. Dimana sampel yang diambil, penelitiannya diberikan ke lembaga lain di luar Lemigas hingga hasilnya bisa menjadi pembanding atas hasil penelitian yang dilakukan oleh Lemigas.(A-96)***
Keterangan Gambar:
SEJUMLAH anggota DPRD, LSM dan petugas Kantor Kementerian Lingkungan Hidup termasuk aparat kepolisian dari Polres Indramayu, Kamis (16/6) mengambil sampel "crude oil" di Pulau Biawak, Indramayu. Pulau terpencil yang kaya sumber daya hayati dan memiliki potensi wisata yang bisa diandalkan tersebut belakangan diketahui tercemar oleh keberadaan industri migas yang ada namun belum diketahui siapa mencemarinya.*MARSIS SANTOSO/"PR"
__________________
Wild Fishing, Hunting, Adventuring. 
"Ary Sanjaya"
|