Sorry...emang kerjaan lagi numpuk jadi baru sekarang sempat bikin cerita.
Pemancing berdelapan: Dari Jakarta: Yopie, Chandra, Wing, Masduki, dan Widi. Dari Surabaya: Dani. Lalu dari Makassar ada Wiwid dan Subair. Plus Jojo (anak gue) sebagai penggembira dan wisatawan.
Kapalnya Theodoras. Nyaman dan gede, di atas bisa popping leluasa, di dek bisa tiduran nyaman. Ini kapal diving yang dimodifikasi jadi kapal mancing. Kekurangannya bagian belakang sempit, jadi kalau strike monster pas dari belakang, angler agak kerepotan. Kekurangan lain, maklum biasa mancing di Utara pakai Speedboat, speed maks Theodoras cuma 10 knot. Akibatnya, kalau ke tempat yang 80 mil jauhnya waktunya habis di jalan.
Berangkat Makassar Jumat Siang, 16 Nov 2007, 12.30, sampai Takabakang 19.00. langsung jigging. Sayang cuma angkat satu GT sekitar 5 kilo karena arus luar biasa ganasnya. Jig 300 gram melayang habis, kenur jadi nyaris flat horisontal, gak ada ceritanya jig nyampe dasar.
Kecapekan, sekitar jam 2 an pagi, semua tidur. Bangun-bangun cuma dapat laporan ada strike monster tiga kali di rangkaian mancing dasar yang dimainkan Subair. Sayang, rangkaian dasar itu tak mampu menahan serangan, bablas begitu saja.
Sabtu pagi, sempat popping, kosong gak ada sambaran. Lalu dilanjutkan degan jigging. Karena arusnya masih gila, jigging harus dilakukan sambil drifting. Sayang tak ada sambutan kendati sudah bolak-balik mengelilingi karang.
Takabakang ini sebuah atol. Panjangya sekitar tiga kilo. Ada tiga pohon bakau kecil yang kata wiwid baru numbuh beberapa bulan lalu. Pas mancing kemarin ada satu perahu nelayan yang mangkal di situ dan sebagian orang-orangnya camping di bagian karang yang nongol, edan juga tuh nelayan.
Karena arus tak mengendur sama sekali, jam 3 sore wiwied memutuskan untuk cabut ke karang Marasende. Sebetulnya, ini di luar rencana karena rencana aslinya kami cuma mau mancing di Takabakang sampai minggu. Takutnya, kalau arus enggak kendur-kendur kan cilaka, makanya pindah. Sampai sana sebetulnya baru jam 18.30, tapi Theodoras baru bisa labuh jangkar jam 22.00 karena susah nyari titik yang pas. Di perjalanan ke Marasende, sempat ada strike Lemadang lima kiloan di reel troling
Karang Marasende ini drop off nya dahsyat. Kedalamannya dari gak ke baca di sounder (artinya di atas 200m), tiba-tiba naik jadi 100m. 70m, dan ujug-ujug sudah tinggal 2 meter saja. Ini semua dalam hitungan detik, makanya njangkarnya harus ati-ati. Biasanya, kalau mancing ke sini harus siang agar bisa njangkar dengan mudah, karena bisa melihat karangnya di mana. Cuma karena dadakan dan pindahnya tanpa rencana, sampai di sana ya sudah malam dan gelap banget. (Wiwied memang edan gak punya urat takut...) Serem juga karena menurut kapten Dena, karang Marasende daerah angker karena pelaut Madura kalau meninggal di tengah laut, jenasahnya dilepas di gosong marasende ini.
Biarpun njangkarnya enggak di titik yang ideal-ideal amat, di kedalaman sekitar 140m, begitu jig turun kami langsung berpesta. Ikan makan di sekitar 70m. Dog tooth makannya di 30-50m. Kalau lebih dalam lagi dapat Barakota. Ikan ini elek banget, Badannya mirip layur kepalanya mirip alu-alu tapi giginya kayak drakula ada taringnya. Kepalanya item wuelek...
Jam 2 malam ada strike monster oleh Dani yang duduk di belakang kapal. Dia pakai reel baitcaster, sampai nyaris habis kenurnya ditarik monster. Fightnya lebih dari 45 menit, tapi lagi-lagi monsternya menang. Leader putus di sambungan dengan main line. Apa boleh buat, Dani bilang, di Surabaya braided paling gede cuma PE 6. Katrok juga Toko-toko pancing di Surabaya itu....
Variasi ikan yang naik: kuwe mata besar, Dog tooth, kakap merah, red bass (sama enggak sih?), dll yang gua gak tahu atau lupa setelah dikasih tahu. Yang naik ukurannya ya berkisar 3-5 kiloan. Saya terus terang enggak menghitung berapa ekor yang naik. Kalau Barakotanya jelas puluhan ekor, sampai males nariknya karena ikan ini fightnya sebentar banget, nyaris tak melawan.
Jam 4 pagi jangkar larat, angin gede, mancingnya bubar semua. Setelah pindah tempat, tinggal empat orang yang mancing...
Spot kedua ini justru lebih dahsyat di kedalaman sekitar 80 meter. Nyaris tiap kali jig turun langsung ada sambaran, kuwe mata besar naik bertubi-tubi... dan lagi-lagi Barakota. Sayang gak bisa lama, karena jangkar larat lagi. Pindah lagi, matahari sudah muncul, njangkarnya sekarang gampang, ikannya rame, tapi gak sampe 10 menit larat lagi, ya wis aku tidur kecapekan.
Minggu pagi, bangun jam 7 karena kapal goyangnya luar biasa dan ada suara gedebukan...ternyata ada orang lagi popping di atas. Di dek goyangan kapal sampai bikin berantakan semua barang karena ombak nyamping lumayan keras. Tapi karena tak ada tanda-tanda sambutan, ya sudah harus balik ke Makassar. Karena Marasende ini 79 mil jauhnya. perjalanan minimal 8jam-10 jam. Sementara sebagian orang juga pingin makan sea food di makassar yag terkenal dan beli oleh-oleh minyak tawon. Makanya jam 7 pagi sudah angkat sauh, balik. Mendarat di Makassar lagi Minggu 18 November 2007 jam 17.00
Selama tiga hari, laut flat sekali, luar biasa nikmatnya.
Koki Theodoras mantabbb... Menu ikannya tob markotob sausnya. Lalu, baru kali ini saya bisa makan pecel di tengah laut, uenaknya minta ampun. Bumbunya dari Blitar.
Makan di restoran Apong, Minggu malam di Makassar, jadi penutup yang ruar biasa. Ada baso ikan (hi wan) yang enaknya minta ampun, lalu ada ikan kudu-kudu yang bentuknya kayak peci, kotak-kotak. Ikan ini digoreng tepung, wuaahhh... lalu kepitingnya Apong jelas termasuk salah satu yang paling top sedunia.
Yang nyebelin, ikan hasil mancing jadi rezekinya wiwied doang. Sebetulnya, kue mata besar dan dog tooth, plus lemadang tadi sudah difillet, Barakotta dan ikan-ikan lain gak ikut dalam rombongan fillet. Berat total fillet daging kelas premium ini mencapai 20 kilo. Rencananya, minggu malam fillet ini mau difreeze dan senin pagi dengan flight pertama ke Jakarta kami bawa pulang. Eh, freezernya malam itu rusak...terpaksa ikan ditinggal.
Sorry lagi, gue gak punya foto. Anak gue bawa kamera plus charger, tapi lupa bawa kabelnya he he he.... jadi baru sejepret dua jepret waktu berangkat, kamera dah mampus. sayang disayang
__________________
Yopie
Clean fresh air in the middle of nowhere has made me very happy, the catch is only an accessory
|