Dalam Harian Media Indonesia hari ini Jumat 26 Oktober, di kemukakan ketegasan pemerintah Guyana untuk mendenda perusahaan Malaysia sebesar $ 480 ribu dollar, karena mencuri kayu dari negara tersebut.
Sementara, pemerintah Indonesia, cuwek saja ketika batas wilayah perbatasan digeser pengusaha Malaysia, guna keperluan mencuri kayu yang ada dihutan disekitar Danau Sentarum.

Bayangkan ketidakberdayaan sebuah negara besar seperti Indonesia dibandingkan dengan Guyana, yang luasnya tidak lebih sebesar Jawa Barat.
Tapi Bo...kalau kita ngomong seperti ini, presiden kita kurang suka, karena katanya menjelek-jelekkan bangsa sendiri...nah lho???

Padahal kita ngomong seperti ini, karena kita cinta pada bangsa ini, kita nggak mau bangsa ini dilecehkan oleh Malaysia. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai kepersoalan wilayah yang sangat strategis, kita terus menerus dilecehkan Malaysia...


Dan kenapa kita hanya bisa ngomong karena kita ndak punya otoritas, kalau saya punya otoritas sebagai presiden, sudah saya perintahkan untuk mengganyang perusahaan2 Malaysia yang mencuri kayu di hutan Kalimantan.
Meskipun...meskipun di alam demokrasi yang kebablasan ini, wewenang presiden telah dikuliti habis2an dengan UU Otonomi daerah. Budget sudah didesentralisasikan, sementara kemampuan mengendalikan anggaran hampir minim. Akibatnya duit yang seharusnya dialirkan untuk keperluan pembangunan dan pembedayaan ekonomi rakyat, malah ngendon di SBI, quo vadis kemampuan para bupati2 diberbagai daerah.???
Dus boro2 mengatasi pencurian kayu oleh Malaysia, ngurusi diri sendiri aja nggak becus....



Salam,