View Single Post
  #11 (permalink)  
Old 25-10-2007, 13:55
nemo nemo is offline
Andhy Panca Kurniawan
Location: Jakarta
RegularFishy
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 15
Points: 667, Level: 9 Points: 667, Level: 9 Points: 667, Level: 9
Activity: 0% Activity: 0% Activity: 0%
Default

Saya mau ikut diskusi dikit ya....
Kebetulan saya menikah dengan orang Takengon yang tinggal di Jakarta...
Beberapa kali saya sempat singgah kesana baik setelah kawin (mudik) maupun saat bujangan dulu, ketika jadi kuli tinta...

Takengon sebetulnya adalah daerah putih (sebutan militer bagi daerah yang penduduknya dominan dengan NKRI - pada masa konflik lalu).
Hanya saja beberapa saat setelah pencabutan status DOM 1989 di Aceh, Takengon (atau jalan-jalan menuju Takengon) dijadikan tempat pembuangan mayat "Cuak" (mata-mata militer).
Namun demikian bila dibanding daerah lain di Aceh, Takengon memang relatif lebih "aman".

Soal Danau Laut Tawar, sebutan itu diberikan oleh masyarakat setempat karena danau tersebut sangat luas.
Dipinggir danau terdapat untaian bukit yang masih asri. disepanjang pinggir danau sering terlihat mata air yang mamancurkan airnya dari pinggir (bukan dari bawah air).
Nah pada masa-masa tertentu ikan-ikan depik (khas takengon) akan berkumpul didekat mata air tersebut dan nelayan disana tinggal memasang bubu saja utk menangkapnya.

Ikan Depik ini adalah sejenis ikan wader atau cere yang rasanya sangat gurih dan agak pahit dibagian kepalanya.

Soal jenis-jenis ikan yang ada di danau tersebut, menurut pengalaman saya memancing disana dan juga menurut penuturan mertua saya (salah seorang maniak mancing di danau laut tawar), saat ini didominasi oleh Mujahir. meski masih sering terlihat ikan mas, Graskap dll
Dahulu ikan mas sangat mudah dipancing didanau tersebut, bahkan ukurannya sangat istimewa (hingga diatas 10 kilo perekor) namun pada pertengahan tahun sembilan puluhan Pemda setempat membuat keputusan yang salah (menurut orang2) dengan mencemplungkan sangat banyak bibit Graskap yang dikemudian hari memakan habis ikan ikan dan anak-anak ikan yang ada disana. Anehnya saat ini Graskap-pun sangat sulit didapatkan,

Pencemaran didanau laut tawar belum separah danau-danau lainnya di Indonesia ini, hal itu terbukti pada saat saya kesana tahun 2005 lalu, saya masih bisa langsung meminum air danau tersebut tanpa harus dimasak terlebih dahulu dan merasakan sakit perut, tentunya air yang diminum adalah air yang ditengah danau.

Jika kita melihat Danau tersebut dari dekat, akan banyak kita jumpai gubuk-gubuk pemancing yang dibangun sekitar5 meter menjorok kedanau, ukuran gubuk-gubuk tersebut biasanya hanya 3X4 meter.

Perahu nelayan didanau tersebut juga masih sangat sederhana, berbentuk seperti Kano dengan panjang 3 meter dan lebar sekitar 80 cm hingga 1 m.

Para pemancing disana masih sangat tradisional mereka memancing dengan menggunakan sistem glosor dengan kumis 2 buah dan umpan cacing, ikan depik atau Keo (sejenis ulat yang hidup di bongkahan kayu yang terendam)

Seiring dengan damainya Aceh, saya mendengar kabar bahwa daerah dipinggir Danau tersebut saat ini banyak dikuasai oleh orang dari luar Takengon baik itu para pejabat Sipil dan Militer maupun orang-orang asing yang dulu pernah bertugas di sana sebagai anggota Aceh Monitoring Mission (AMM), namun demikian saya juga belum sempat mengecek apakah benar atau itu hanya isu sesaat saja.

Salam
Panca
Reply With Quote