![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
BRENGSEK tuh polluter yang mengakibatkan ini , sudah jelas kapal yang tidak mempunyai domisili tetap , kalau anjungan di sekitar sana mana mungkin mengambil risiko di perairan sendiri ?![]()
Jon .![]()
-KOMPAS, Senin, 11 Oktober 2004
BAYANGKAN air laut yang biru bening bagaikan kristal…. Pesan dokter Adi Sasongko melalui layanan pesan singkat atau SMS itu membuat bayangan biota laut di dalam air yang jernih berwarna biru lazuardi di perairan sekitar Pulau Pramuka, di Kepulauan Seribu, menari-nari di kepala.
NAMUN, gambaran itu langsung menguap diraup oleh pemandangan yang mengenaskan. Begitu kapal Trans Jakarta merapat di dermaga, jangankan melihat terumbu karang dan ikan beraneka warna yang berenang bebas, permukaan air saja tidak tampak karena tertutup bahan bakar minyak yang kental, tebal, hitam, dan berbau oli bekas yang menyengat.
Di bantaran beton limbah itu menempel, mirip limbah bengkel kendaraan bermotor. "Saya yakin, ini baru terjadi. Minggu kemarin kami masih menikmati pemandangan yang luar biasa di bawah sana dari atas dermaga," ujar Adi. Ia tampak bingung menyaksikan pemandangan itu.
Beberapa tahun terakhir ini dokter dari Yayasan Kusuma Buana ini bolak-balik Jakarta-Kepulauan Seribu untuk bekerja bersama masyarakat memberantas anemia, cacingan, dan mempromosikan pola hidup
sehat, khususnya dengan penduduk di Pulau Panggang.
Pulau Panggang terletak sekitar 500 meter dari Pulau Pramuka, ditempuh dengan "ojek", yakni kapal kecil, sekitar 10 menit. Kedua pulau ini merupakan bagian dari 128 pulau kecil di Teluk Jakarta yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Perjalanan ditempuh dalam dua jam dengan menggunakan kapal Trans Jakarta dari Marina Ancol, Jakarta Utara.
Perairan yang mengelilingi Pulau Pramuka merupakan perairan dangkal atau "gosong", menjadikannya lokasi yang nyaman untuk berenang dan snorkelling. "Baru dua hari kayak begini," ujar pengemudi "ojek" laut yang kami tumpangi menuju ke Pulau Panggang, Kamis (7/10) lalu. Tak seorang pun tahu bagaimana hal itu terjadi. Ada yang menduga
pencemaran itu disebabkan oleh kebocoran dari pengeboran minyak di lepas pantai milik PT China National Offshore Oil Corporation. "Tapi waktu dicek, katanya bukan dari sana," ujar pengojek itu lagi.
Kemungkinan lain, seperti diduga Camat Pulau Seribu Utara H Anwar dan dokter Adi Sasongko, berasal dari kapal yang membuang limbah minyak bekas ke laut. PEMANDANGAN yang menyedihkan itu belum berakhir. Limbah tersebut juga mencemari perairan di sekitar Pulau Panggang. Di seluruh pantai yang mengitari pulau seluas sekitar sembilan hektar itu
limbah minyak tersebut bercampur dengan sampah plastik, kertas, kemasan makanan, dan sampah anorganik sisa kebutuhan sehari-hari yang menumpuk. Khususnya di dekat jamban umum di pinggir pantai. Dua anak laki-laki buang air besar sambil mengulum permen loli di tengah hari itu. Lalat beterbangan, tetapi mereka tampak tidak peduli.
"Di sini mungkin hanya sepertiga dari 940 KK (kepala keluarga) yang memiliki jamban di rumah," ungkap Anwar. Bagian daratan hasil reklamasi pantai sekitar tiga hektar sudah dipenuhi bangunan untuk kegiatan ekonomi. Sampah tercecer dan menumpuk di mana-mana. Selokan juga penuh sampah. Situasi seperti ini yang meningkahi pedagang makanan yang tersebar di berbagai bagian pulau kecil itu.
"Ini sepageti. Resepnya saya dapat dari majalah," ujar Bu Minah. "Spaghetti" ala Bu Minah terbuat dari telur, mi, dan daun bawang yang dikocok dan digoreng dengan minyak yang hitam. Makanan seharga Rp 1.000 itu laris manis. Penjualnya mengaku menghabiskan sekitar lima kilogram telur per hari.
"Saya jarang masak. Anak-anak maunya jajan dari pagi sampai sore. Kalau Rp 50.000 sehari abis deh," ujar Nunung, ibu tiga anak. Jenis makanan kemasan yang ditawarkan iklan di televisi dan radio menjadi favorit anak-anak. "Anak saya enggak cukup tiga chiki sehari," ujar Nining, ibu tiga anak.
Lingkungan yang kotor, sanitasi yang buruk, jenis makanan dan pola makan memberi andil besar pada cacingan di kalangan anak-anak. Tahun 1997 sekitar 96,1 persen anak di Pulau Panggang menderita cacingan. Sekarang berkurang, tinggal 58 persen. Masalah cacingan tak banyak menarik perhatian publik karena tidak "seseksi" isu kesehatan yang lain.
"Bagi kami, persoalannya bukan kuratifnya, tetapi bagaimana mencegahnya, dan ini tergantung pada cara hidup," ujar Adi. Situasi kebersihan, sanitasi dan kesehatan masyarakat segera terbaca dari
data angka cacingan warganya.
"Tidak mudah menyadarkan warga pada kebersihan, tapi saya percaya pada proses. Kita harus sabar untuk terus mempromosikan manfaat hidup sehat dan bersih," kata Anwar.
DARI limbah dan sampah kita membaca sejarah. Di tengah lautan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Jakarta, botol plastik, kemasan makanan, dan aneka jenis sampah terapung-apung dipermainkan
ombak. Sampah itu merupakan bagian dari sekitar 7.000 ton sampah per hari yang dibuang penduduk Jakarta ke 13 sungai yang bermuara di utara Jakarta.
Laut menjadi seperti tempat pembuangan akhir gratis dari sampah darat.
Sampah yang terapung di laut itu menohok dan menunjukkan siapa kita: orang-orang dengan pola pikir "Not in my Backyard". Biarlah tempat lain kotor, asal rumah kita bersih. Ketidakpedulian seperti ini membuat sumber daya publik (common property) menjadi bukan tanggung jawab siapa- siapa karena orang saling melempar tanggung jawab.
Dari sampah di laut dan di mana pun kita membaca realitas keseharian…. (MARIA HARTININGSIH)
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
BRENGSEK tuh polluter yang mengakibatkan ini , sudah jelas kapal yang tidak mempunyai domisili tetap , kalau anjungan di sekitar sana mana mungkin mengambil risiko di perairan sendiri ?![]()
Jon .![]()
Betul Pak Jon
![]()
![]()
![]()
kalau bicara soal kebersihan kita bener 2x perlu optimisme yang besuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr sekali, akankah bisa kita menyelam di teluk jakarta dan memandang karang yang indah dan ikan yang berlimpah dalam beningnya air laut disekitar kita , andaikan itu bisa terjadi........................................... ...........................
Sediiih banget baca ini tulisan![]()
![]()
Apa yaaahhh yang ada di benak mereka ini???
dan gimana cara bisa membuka wawasan orang orang seperti ini???
Gimana nih rekans semua dengan usulan mengenai gerakan "BERSIH LAUT" yang sempat dibicarakan di forum lamaOriginally Posted by yellowfin
???
Paling tidak adalah sumbangan dari kita kita ini Masyarakat Pemancing Indonesia walaupun dari skup yang paling kecil sekalipun, seperti:
Usulan Tempat Sampah disetiap kapal mancing yang akan kita pakai/sewa.
K i k i
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"A good rule of angling philosophy is not to interfere with any fisherman’s ways of being happy, unless you want to be hated."
**Zane Grey, Tales of Fishes, 1919**
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kiki ,
Busyet dech anda ini , engga dengar tuh masih ada manusia yang import bahan B3 dari negara maju untuk di timbun di Indonesia , mereka itu dibayar untuk membuat negara ini jadi tempat sampah !![]()
Sekarang siapa yang menjaga agar bahan B3 tidak masuk ke negara kita ini , tau khan tuh yang kerjanya di pelabuhan / airport ?Di Bali setiap kali kawan kawan saya datang mau mancing ditanyakan apakah joran , umpan , reel dls nya utk dijual dan mau dikenakan bea masuk segala tapi sampah B3 terus saja masuk !
![]()
Jon .![]()
kasus ini pernah terjadi balikpapan di tahun 2004 ini. ceritanya ada tanker yunani yang sedang nunggu bongkar muat minyak di kilang pertamina membuang ballast (cairan penyeimbang) kapal mereka. Kebetulan mereka pakai crude oil sebagai ballast. akibatnya berton-ton waxy oil terdampar di pantai balikpapan. Perlu ratusan orang untuk membersihkannya.
tadinya yang dicurigai adalah para oil & gas company di sekitar teluk balikpapan. cuman dengan analisa kimia, ternyata jenis crude mereka berbeda dengan hasil analisis. kemudian dilacaklah semua kapal yang pernah lego jangkar, dan terbongkar bahwa kapal yunani tersebut sebagai penyebabnya.
kelihatannya sekarang sedang dalam proses pengadilan, kita tunggu saja hasilnya.
![]()
Ada kata kata bijaksana dlm bhs Inggris , tapi maaf dulu kalau dianggap terlalu " crude " dalam budaya Asia ;
" Wise peoples don't eat where they shit " , jadi dalam hal yang diperbincangkan , terkadang masyarakat kita tuh cenderung terlalu cepat menuding yang paling didepan mata dan tidak jeli melihat kemungkinan lain dan kalau sudah salah tuding , cari kambing hitam lainnya .![]()
Khusus untuk perusahhan minyak yang bercokol di Indonesia , mereka tidak mungkin mengambil risiko membuang polusi semena mena karena akibatnya sangat parah utk mereka sendiri , kasus yang di Balikpapan tsb. membuktikan kita semua harus jeli , yang mana salah dan yang mana tidak salah . Tanpa ada attitude begitu , negara ini akan ditinggal oleh investor luar negeri dan setelah itu investor dalam negeri ikut ikutan meninggalkan negeri kita ini .![]()
Di OZ masyarakat dihimbau utk melaporkan kepada pihak yang berwajib bila menemukan sesuatu yang mencurigakan tetapi bukan berarti bisa mengambil tindakan sendiri tetapi menyerahkannya ke pihak yang berwajib utk mengadakan investigasi selanjutnya . Disini bisa tidak yah ?![]()
Jon .![]()
tambahan lagi...
dalam hukum international bila terdari hydrocarbon spill maka perusahaan oil & gas terdekat wajib segera melakukan pembersihan. nanti setelah ketahuan siapa penjahatnya maka pengadilan wajib memutuskan mereka untuk mengganti semua biaya clean up. kasus di kep. 1000, karena rig CNOOC paling dekat maka mereka segera melakukan clean up. cuman karena masyarakat tidak mengerti, akhirnya tertuduhlah mereka sebagai pembuang limbah.
sepertinya di negara ini terlalu banyak orang yang senang berkomentar dibanding melakukan tindakan. akibatnya efek sudah luas tetapi pemerintah masih sibuk beradu pendapat siapa sebenarnya pelakunya.
Bookmarks